0
komentar
Posted in
Label:
Sastra
Udara begitu segar di pagi hari, apalagi semalaman hujan. Saya
merapatkan sweater yang diberikan kakak sebelum pergi. Hup... terlompati sudah
genangan air untuk ke dua kalinya. Stasiun Bogor masih lengang, Alhamdulillah,
berarti saya tidak usah berjuang hanya untuk bisa terangkut. Saya duduk dengan
tenang di gerbong belakang yang sudah terisi sebagian. Hari masih muda, tetapi
para pedagang asongan, peminta-minta bahkan pencari sumbangan sudah berseliweran
dengan suara-suara khas mereka.
Saya mulai mengamati, mencari vitamin hati. Seorang nenek
terhuyung-huyung mengedarkan mangkuk berharap dermawan memberi uang belas
kasihan, sekelompok pemuda tuna netra yang hampir semua sepatunya robek-robek
mematung menunggu sang nenek pindah ke gerbong lain.



