Udara begitu segar di pagi hari, apalagi semalaman hujan. Saya
merapatkan sweater yang diberikan kakak sebelum pergi. Hup... terlompati sudah
genangan air untuk ke dua kalinya. Stasiun Bogor masih lengang, Alhamdulillah,
berarti saya tidak usah berjuang hanya untuk bisa terangkut. Saya duduk dengan
tenang di gerbong belakang yang sudah terisi sebagian. Hari masih muda, tetapi
para pedagang asongan, peminta-minta bahkan pencari sumbangan sudah berseliweran
dengan suara-suara khas mereka.
Saya mulai mengamati, mencari vitamin hati. Seorang nenek
terhuyung-huyung mengedarkan mangkuk berharap dermawan memberi uang belas
kasihan, sekelompok pemuda tuna netra yang hampir semua sepatunya robek-robek
mematung menunggu sang nenek pindah ke gerbong lain.
1 komentar
Posted in
Label:
Oase Iman
Kota ini adalah kota haram Mu.
Kota aman yang teramat ku rindu,
Maka dengan lindungan Mu,
Hindarkan kulit, daging, bulu.
Dan seluruh bagian tubuhku.
Dari ganasnya bara neraka Mu.
(Sebuah doa ketika memasuki kota Makkah)
***
Kota aman yang teramat ku rindu,
Maka dengan lindungan Mu,
Hindarkan kulit, daging, bulu.
Dan seluruh bagian tubuhku.
Dari ganasnya bara neraka Mu.
(Sebuah doa ketika memasuki kota Makkah)
***
eramuslim - Kota
yang bersinar cemerlang semenjak Al-Musthafa datang, Madinah, saat itu tak lagi
lengang. Sebuah undangan mulia untuk berhaji bersama dengan manusia pilihan
bergaung merdu. Beribu-ribu orang menyemut di sebuah kota, yang telah menjadi
muasal kekhalifahan islam. Kumandang ajakan dari bibir semanis madu Rasulullah
untuk melakukan perjalanan haji, disambut bahagia semua manusia. Semua datang
dengan senyum terkembang. Mereka datang dari kota dan pedalaman yang amat jauh
ditempuh. Mereka berperjalanan dari berbagai pelosok tanah Arab, dari
gunung-gunung, dari lembah sahara, dari setiap jengkal tempat yang dilimpahi
dakwah Nabi mulia.



