twitter


Udara begitu segar di pagi hari, apalagi semalaman hujan. Saya merapatkan sweater yang diberikan kakak sebelum pergi. Hup... terlompati sudah genangan air untuk ke dua kalinya. Stasiun Bogor masih lengang, Alhamdulillah, berarti saya tidak usah berjuang hanya untuk bisa terangkut. Saya duduk dengan tenang di gerbong belakang yang sudah terisi sebagian. Hari masih muda, tetapi para pedagang asongan, peminta-minta bahkan pencari sumbangan sudah berseliweran dengan suara-suara khas mereka.

Saya mulai mengamati, mencari vitamin hati. Seorang nenek terhuyung-huyung mengedarkan mangkuk berharap dermawan memberi uang belas kasihan, sekelompok pemuda tuna netra yang hampir semua sepatunya robek-robek mematung menunggu sang nenek pindah ke gerbong lain. Ada seorang perempuan yang terus menerus menggumamkan "Lapar... Lapar.." di pojok gerbong, pakaiannya lusuh dan yang jelas dia sepertinya kurang waras. Kini giliran bocah laki-laki yang menyapu lantai kereta, hampir sekujur tubuhnya kudisan, mata yang merah, dan kepala diperban, membentak para penumpang jika tidak memberinya uang.




Kota ini adalah kota haram Mu.
Kota aman yang teramat ku rindu,
Maka dengan lindungan Mu,
Hindarkan kulit, daging, bulu.
Dan seluruh bagian tubuhku.
Dari ganasnya bara neraka Mu.

(Sebuah doa ketika memasuki kota Makkah)



***

eramuslim - Kota yang bersinar cemerlang semenjak Al-Musthafa datang, Madinah, saat itu tak lagi lengang. Sebuah undangan mulia untuk berhaji bersama dengan manusia pilihan bergaung merdu. Beribu-ribu orang menyemut di sebuah kota, yang telah menjadi muasal kekhalifahan islam. Kumandang ajakan dari bibir semanis madu Rasulullah untuk melakukan perjalanan haji, disambut bahagia semua manusia. Semua datang dengan senyum terkembang. Mereka datang dari kota dan pedalaman yang amat jauh ditempuh. Mereka berperjalanan dari berbagai pelosok tanah Arab, dari gunung-gunung, dari lembah sahara, dari setiap jengkal tempat yang dilimpahi dakwah Nabi mulia.

Bookmarks