"Puspa Thea, dimana dikau Mba'?, kenapa tak ada khabar beritanya?". Nisa
bertanya-tanya dalam hati seraya mencermati surat-surat sahabatnya. Sudah hampir
tiga bulan ini Mba' Pupu tak pernah lagi mengiriminya e-mail. Perlahan dibacanya
surat terakhir wanita lembut itu sebagai pelepas rindu.
Date: Sat, 13
Oct 2001
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Pa khabar Sa? Mba' kangen banget
dech. Semoga Allah yang Maha Penyayang selalu melimpahkan kasih sayang-Nya buat
Nisa.
Sa.. pedih.. perih.. sakit.. rasanya kalau Mba' baca berita tentang
saudara-saudara kita di Afghan, rasanya Mba' ingin sekali berbuat sesuatu untuk
mereka, tapi.. Mba' cuma bisa berdo'a agar Allah yang Maha Kuasa menolong
saudara-saudara kita itu.
Usaha lain yang bisa Mba' lakukan sekarang
mempersiapkan putra-putri Mba' jadi hamba Allah yang di hati mereka nggak ada
cinta kecuali cinta pada Allah, do'akan Mba' yach.., biar Mba' bisa jadi ibu
yang baik, dan Allah berkenan menitipkan anak-anak yang kelak jadi
mujahid/mujahidah.
Sa sehat, kan?. Salam sayang Mba' selalu buat Nisa
Semoga rasa saling menyayangi ini mengantarkan kita jadi hamba yang dicintai
Allah, amin.
Wassalaamu'alaikum Wr. Wb.
Mba'mu.. yang selalu
kangen padamu, kapan yach Allah mempertemukan kita?
Nisa menatap
lekat e-mail tersebut, terbayang dalam benaknya hanya menjawab singkat surat
itu. Ia bermaksud hendak mereplay kembali, namun tiba-tiba Ayu datang
menjemputnya. Mereka janjian ke rumah Cathy pagi
ini.
*****
"Ayah.. Ibu.. jangan bertengkar dooong! aku jadi
pusiiing..." Teriak Cathy berusaha menghentikan pertikaian orangtuanya, namun
mereka tak juga mau berhenti. Pertengkaran itu terjadi karena Ibunya tidak
memperkenankannya berjilbab.
"Kamu masih muda nak, belum pantas
mengenakan jilbab!, rambut bagus kok ditutupi, mana ada pemuda zaman sekarang
melirik wanita yang hanya kelihatan wajah dan tangannya? kalau Cathy nggak laku
bagaimana? mau jadi perawan tua? Wanita berjilbab itu harus baik prilakunya,
eh...Cathy tingkahnya masih begini begitu... jangan kasi malu
Ibu..!"
Cathy tidak terima disuruh melepas jilbabnya, namun Ibunya terus
mendesak, buntut-buntutnya ia berkata, "Ibu jahat...," Ayah datang membela,
"Biarlah Bu, seharusnya kita bangga punya anak yang mau menutupi
auratnya."
Ibu merasa terpojok dan balik memarahi Ayah, maka terjadilah
pertengkaran itu. Hal ini berulangkali terjadi sejak Cathy mengenakan pakaian
yang disyariatkan Allah.
"Kita ngobrol di luar aja yuk?," Cathy mengajak
Ayu dan Nisa ke halaman rumahnya yang luas, mirip taman bermain kanak-kanak.
Sejenak wajah manis itu terdiam, ia tampak jauh lebih cantik dengan gaun
muslimahnya.
"Kenapa Allah memberikan Ibu seperti itu pada Cathy ya? yang
Beliau fikirkan hanyalah dunia, beda jauh dengan Ayah, yang selalu berorientasi
ke akhirat. Seandainya Ibuku seperti Ibumu Nisa.. Ayu.. alangkah bahagianya
aku!. Cathy jadi menyesal punya Ibu..."
Sebelum sempat menghabiskan
kalimatnya, Ayu buru-buru menceramahinya, "Jangan begitu, Cathy.. walau
bagaimanapun ia adalah Ibu yang mengandung dan membesarkanmu.."
Cathy
membela diri, "Siapa suruh mengandung dan membesarkanku? kenapa nggak dibiarkan
mati aja sekalian?, Beliau lebih senang anaknya diazab Allah daripada selamat.
Apakah Itu Ibu namanya?!."
Nisa berusaha melerai kedua sahabatnya.
"Daripada bertengkar, kita pergi aja yuk?, belanja, baca buku." Setelah pamit
pada orangtua Cathy, merekapun pergi.
*****
Di toko buku, mereka
bertiga tampak asyik memilih bacaan kesukaan masing-masing. Nisa dan Ayu ke rak
buku Islami, dan Cathy ke rak majalah. Setelah agak lama terbuai dalam lautan
pena, Cathy mendekati Nisa, ia geleng-geleng kepala melihat buku yang dibaca
sahabatnya, Tafsir Qur'an, wuih.. mengerikan, baginya jangankan membaca,
membayangkan isinya saja sudah membuatnya pusing.
Sejenak mata bundar itu
terpendar pada sebuah buku, "Derita Nanda, Apa Salahku Hingga Ibu Tega
Membunuhku?!" Hatinya berdebar membaca judulnya, secepat kilat jemari kecil itu
menangkap, ingin tahu isinya. Setelah beberapa saat, buru-buru ia menutupnya
kembali. Jantung Cathy berdetak lebih cepat, ia mengurut dada,
"Astaghfirullaah.." Buku itu berisi kekejaman seorang Ibu yang tega membunuh
anaknya sendiri karena takut miskin, sejenak ia ingat Ibunya, "Makasih Ya Allah,
Engkau memberiku Ibu yang jauh lebih baik," bathinnya. Tiba-tiba Nisa dan Ayu
mengagetkan dari belakang.
Sampai di sini, mereka berpisah, Ayu ada acara
keluarga. Sementara Cathy ikut Nisa ke supermarket. Gadis manis itu tampak
bingung hendak membeli apa, karena semua kebutuhan sudah dibeli Ibu. Iseng
diambilnya saja makanan kecil, coklat, kacang, kue-kue. Tanpa sengaja ia melihat
isi keranjang belanjaan Nisa, susu tanpa lemak, gula rendah kalori, buah-buahan,
ia terheran-heran.
"Kurus-kurus kok diet sich Nisa?, nggak takut
kekurangan gizi?!," Nisa tersenyum. "Susu dan gula ini untuk Ibu, Beliau dapat
gejala kencing manis". Cathy terbelalak, "Untuk Ibu?, Beliaukan bisa beli
sendiri?!." Pertanyaannya tak digubris Nisa, iapun tak memerlukan jawaban.
Sesaat ingatan Cathy melayang pada buku yang dibacanya barusan, sejenak ia
termenung, mulai mengingat-ingat kesukaan Ibunya. Minuman serat yang kerap
dipromosikan TV diambilnya.
*****
Ada seribu satu macam rasa yang
sulit diungkap Cathy saat berada di rumah Nisa. Rumah itu tidak semewah
rumahnya, malah cenderung sederhana, tapi.. mengapa hatinya begitu tenang? tidak
ada sesuatupun yang istimewa, tetapi.. mengapa begitu menyenangkan? Apakah
karena ada seorang wanita teduh yang layak di sebut ibu?.
"Malam ini aku
bobok sini ya?," kata Cathy memelas. "Boleh.. tapi harus ijin orangtua dulu..",
ucap Nisa seraya tersenyum padanya. Wajah manis itu terlihat bahagia sekali
mendengar jawaban Nisa. "Bentar ya.. Cathy.." Nisa berlalu meninggalkannya
sendiri.
Di kamar sohibnya yang kecil, kembali ia merasakan sesuatu yang
sulit diungkap, Cathy menatap lekat ke sekeliling ruangan. Ada seperangkat
pakaian shalat, tasbih, Al Qur'an, tergeletak rapi di atas tikar permadani. Meja
kerja dan deretan buku-buku Islami. Sementara dinding putih itu dibiarkan
kosong, hanya dihias kaligragi Allah dan Muhammad.
Perlahan ia merebahkan
diri, capek seharian berjalan. Ketika hendak mengambil bantal, ia melihat
secarik kertas terlipat rapi, rasa ingin tahu mengalahkan segalanya, cepat
dibukanya lipatan kertas itu, ternyata e-mail dari seorang wanita. Isi surat itu
biasa-biasa saja, namun.. ketika ia sampai pada baris ke
limabelas.
Dulu.. aku sempat berprasangka buruk pada Allah, Nisa...
Aku merasa Allah nggak sayang padaku, aku merasa Allah nggak pernah memberiku
kebahagiaan dalam hidup. Sejak umur 5 tahun, kedua orangtuaku bercerai.. kami 4
bersaudara terpencar, ada yang diambil orang lain. Aku dan adikku yang bungsu
(perempuan) tinggal dengan ayah dan ibu tiri, sedang adik yang nomor 2 ikut ibu
kandung. Aku tinggal dan dididik Ibu tiri yang subhanallah.. baik dan sayang
sekali padaku. (Beliau sekarang sudah almarhum)
Ayah nggak kerja lagi,
untuk biaya hidup sehari-hari, ibu tiriku berjualan sayur mayur gendongan. Aku
tak ingin membebani mereka, sehingga kuputuskan untuk tinggal dengan ibu
kandungku, Beliaulah yang membiayai aku sekolah.
SMA kelas tiga, tahun
1987, aku dan 2 adik perempuanku diusir dari rumah (waktu itu aku baru pulang
dari bimbingan belajar kira-kira jam 19.30), buku-buku pelajaranku habis
disobek-sobek ibu, bahkan pada saat itu Beliau marah sambil mengacung-acungkan
sebilah kapak mengancam kami.
"Keluar kamu anak-anak!, kalau tidak.. ibu
bunuh kamu satu-satu!,"
Malam itu juga aku dan adik-adikku menginap di
rumah tetangga depan rumah. Aku bingung saat itu, Sa.. kemana aku dan adik-adik
harus pergi? kalau ke rumah ayah.. pasti kami akan jadi beban mereka. Ku coba
tinggal di rumah Om (adik Ibu kandung), tapi.. istrinya keberatan kami tinggal
di rumahnya dengan alasan ekonomi, padahal saat itu aku sudah bilang bahwa hanya
butuh tempat berteduh pada saat malam saja, sedangkan masalah makan, kami akan
berusaha cari sendiri, tapi istrinya tetap tak peduli.
Akhirnya aku ke
rumah tetangga yang tidak jauh dari rumah Omku, Beliau mau menerima kami,
sebagai imbalan aku bekerja untuk mereka, dari mulai ngurus rumah sampai
mengurus anaknya, pokoknya sebelum mereka bangun, aku sudah masak dan nyuci. Aku
diberi upah tiap hari Rp. 3000,- untuk ongkos sekolah, makan dikasi oleh yang
punya rumah. Yang terfikir di benakku cuma satu, aku harus sekolah terus
bagaimanapun caranya, asal aku tetap di jalan yang Allah
perbolehkan.
Alhamdulillah Sa.., aku diterima di D III-FMIPA UI jurusan
matematika (beasiswa dengan ikatan dinas dari Depdikbud). Waktu aku baca
pengumuman UMPTN di Kompas dan tahu diterima di UI, aku coba hubungi Ibu untuk
minta bantuan Beliau mengenai biaya buku, kost, dan makanku, tetapi.. sampai di
rumahnya, pintu pagar itu tak pernah dibukanya. Beliau hanya mengintip dari
celah gorden, dan menyuruh pembantunya menyerahkan secarik
kertas.
Segeralah menjauh dari pintu gerbang rumah ini, anak-anak! aku
tidak mau kalian kunjungi! Kami kapok??? nggak Nisa.. aku dan adik perempuanku
tetap sering nengokin Ibu meskipun akhirnya kami Cuma bisa berdiri saja di depan
pintu gerbang sambil kehujanan dan kepanasan.
Dalam hati, aku suka
menyalahkan Allah, kenapa Dia memberikan kami ibu seperti ini? kenapa Dia
membiarkan keluarga kami berantakan seperti itu? yach.. pokoknya segala
ketidakpuasan kutumpahkan pada-Nya. Kesulitan hidup terus berlanjut selama aku
kuliah, tapi aku yakin, selama aku tidak melanggar larangan-Nya, Allah pasti
membantuku.
Alhamdulillah, aku selesai kuliah tepat waktu dan langsung
diangkat jadi pegawai negeri di lingkungan SMAN 39 Jakarta. Tahun 1994 aku
menikah, dan masya Allah Sa.. penderitaanku ternyata tak sampai di
sini.
Mertuaku termasuk orang yang meterialistik, setiap sesuatu selalu
diukur dengan uang, tuntutannya agar aku dan suami yang menanggung semua
kebutuhan rumah tangganya. Masya Allah Sa.. ibunya minta kami membiayai
adik-adiknya sekolah, sementara gajiku saat itu baru Rp. 114.900,- dan suamiku
Rp. 85.000,-/bulan dengan uang makan Rp. 2.500,-/hari kerja, tapi.. aku bilang
pada suami bahwa aku nggak keberatan, kita berikan apa yang masih bisa kita
berikan. Bagiku yang terpenting, suamiku punya tanggung jawab terhadap istri dan
anak-anaknya.
Ibu dan ayah mertuaku masih belum puas juga.. sampai-sampai
Beliau seperti penjajah dalam bahtera kami. Beliau ingin mengatur segalanya,
bahkan anak-anak diajarinya berkata-kata kasar pada orangtua, diajarinya berpola
hidup konsumtif, tapi alhamdulillah.. dengan pendekatan ke anak-anak, aku coba
mengarahkan mereka pada kehidupan yang Allah suka, sederhana, nggak berlebihan,
membeli sesuatu kalau emang sangat dibutuhkan.
Lama-kelamaan sikap
mertuaku sangat menganggu fikiranku, Sa.. omongannya ke setiap tetangga yang
ditemuinya bikin telingaku panas, aku nggak betah lagi tinggal serumah dengan
mereka. Beliau selalu bercerita ke tetangga bahwa ibuku bekas pelacur, dan
akupun kalau tidak dinikahi anaknya, sudah jadi pelacur seperti ibuku.. masya
Allah.. aku bisa tahan kalau cuma aku yang mereka hina dan caci maki, tapi kalau
mereka menghina ibuku, aku nggak rela! meskipun ibuku kasar sama
aku.
Akhirnya, aku kompromi sama suami untuk pindah saja. Ternyata...
suamikupun sudah lama ingin mengajakku pindah, tapi.. karena dulu aku yang
menyarankan tinggal di situ (dengan pertimbangan daripada uangnya untuk bayar
kontrakan, lebih baik untuk adiknya sekolah).
Kami pindahpun ekspansi
mereka nggak berhenti, Sa.. yach.. pokoknya hal itu berlangsung terus sampai
akhirnya Allah menghendaki sesuatu perubahan pada kami. Aku diberinya kesempatan
kuliah lagi, aku kenal milis Islam ini, dan aku sadar ternyata Allah sayang
padaku, Sa.. diberikan-Nya aku ladang amal yang sangat banyak, dengan hadirnya
ibuku dan mertuaku yang sikapnya masya Allah dalam hidupku. Aku merasa malu Sa..
selama ini aku selalu berburuk sangka pada-Nya, apalagi kalau aku baca
terjemahan surat Ar Rahman, masya Allah Sa.. aku bener-bener malu.. yach, nikmat
mana lagi yang mau aku dustakan?
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Salam
sayang selalu
Puspa Thea
Sehabis membaca surat itu, ada getar
kerinduan di hati Cathy pada sosok yang akhir-akhir ini dimusuhinya. Betapa
sayangnya Allah telah menganugerahinya seorang ibu yang tak pernah mau
membunuhnya, mengusirnya dari rumah, ataupun membiarkannya kehujanan dan
kepanasan. Nikmat Allah yang mana lagi yang harus aku dustakan? desir
hatinya.
Sesaat kemudian ia tertegun melihat sosok penuh keibuan di balik
lipatan terakhir surat, Subhanallah.. mata itu bening seperti kaca, Qalbunya
yang bersih memancarkan cahaya keseluruh wajahnya. Puspa Thea, itukah
namanya?
Sayup-sayup Cathy mendengar telapak kaki melangkah, secepat
kilat ia merapikan segala sesuatu. "Silahkan di minum Non Cathy.., maaf ya
kelamaan, tadi Nisa masak air dulu..," Cathy menyentuh cangkir hangat yang
disuguhkan Nisa, Ya Allah.. ibu selalu membuatkan coklat susu untukku, katanya
lirih.
"Nisa.. a ku ma u pu lang..," Ucapnya terpatah, Nisa
terheran-heran. "Lho.. katanya mau bobok sini?!". Nisa mengiringi kepergian
sahabatnya. Ia tak habis fikir kenapa secepat itu Cathy
berubah.
*****
Dalam perjalanan menuju tempat kerja, Nisa hampir
tak percaya dengan penglihatannya. Ia melihat Cathy begitu mesra dengan Ibunya
di pasar tradisional. Jari-jari tangan mungil itu tampak penuh menenteng
belanjaan, sesekali sang ibu berusaha menolongnya, tapi Cathy tidak mau, ia
terus mengelak dan tersenyum. Sesampai di kantor ia menelpon Cathy. Gadis itu
terdengar ceria sekali, tak sepatah katapun bernada keluh kesah mengenai ibu
yang dulu selalu keluar dari mulutnya. Apakah gerangan yang
terjadi?
*****
"Masuk, Nisa..", sapa Ibu Cathy ramah setelah
menjawab salamnya. Kali ini, suasana rumah itu begitu berbeda dari sebelumnya.
Di pekarangan terlihat Ayah Cathy membaca koran dengan
asyiknya,
"Langsung ke dalam aja, ya.. Cathy sedang istirahat, kasihan
dia.. dari pagi bantuin Tante kerja" Ujar wanita itu dengan senyum merekah,
Beliau tampak begitu bahagia. Nisa melangkahkan satu-satu kakinya supaya Cathy
tak terusik, sayup-sayup terdengar merdu suara gadis itu,
Ya Allah
Tuhanku, anugerahilah aku kemampuan untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau
anugerahkan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan anugerahi pula aku kemampuan)
untuk beramal shaleh yang Engkau ridhai, serta jadikanlah kebajikan bersinambung
untukku pada anak keturunanku. sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu dan
sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. (QS. Al AhQaaf
46:15)
"Eh, Nisa.. ". Ia tersipu malu, tak berapa lama kemudian mereka
larut dalam perbincangan panjang mengenai perubahan yang terjadi.
"Sebening kaca.. Nisa, bisakah aku memilikinya?" Nisa terkesima
mendengar penuturan sahabatnya, ternyata Cathy telah membaca surat Mba' Puspa
Thea, Melati yang berhati sebening kaca. Melalui goresan pena wanita itu, Allah
menitipkannya hidayah.
*****
Nisa mencek inboxnya, banyak surat
bertebaran di sana, beberapa Melati baru bermunculan menyapanya ramah. Tetapi,
mengapa tak ada satupun surat dari Mba' Pupu?. Kerinduan Nisa semakin menyesak
dada. Perlahan ia mulai menggerakkan jemari tangannya menekan tut-tuts komputer,
menulis sepucuk surat.
Assalaamu'alaikum Warahmatullaah
Wabarakaatuh
Bagaimana khabarmu, Mba’? si kecil dan suami tercinta? Nisa
do'akan semoga kalian semua sehat, senantiasa dalam lindungan Allah
Swt.
Maafkan aku Mba', tanpa sengaja salah satu suratmu terbaca
sahabatku. Tapi.. tanpa sengaja pula engkau telah berdakwah, melalui bahasa
Qalbumu yang terukir indah di atas pena itu..
Mba'.. Nisa rindu sekali,
rindu cerita-ceritamu.. rindu kekayaan bathinmu. kapan ya.. Allah mempertemukan
kita?
Wassalaamu'alaikum Warahmatullaah Wabarakaatuh
Salam manis dan
sayang
Adikmu, Nisa.
18 Januari 2002
Ratna Dewi
diambil dari
: http://www.geocities.com/warsunnajib/Warsun2file/sebening.html



