Harus disadari terutama bagi para ibu dan juga calon para ibu, bahwa "siapa dan bagaimana" anak yang dilahirkan adalah citra dirinya.
Disamping spritual dan intelektual, pandangan dan kepedulian seorang ibu sangat menentukan proses pencerdasan anak.
Harapan untuk memiliki anak cerdas, dengan investasi yang memadai adalah pilihan yang bijak dan rasional daripada investasi bisnis di bidang apapun dan dalam situasi apapun juga.
Betapa banyaknya ibu-ibu yang diselimuti kesedihan, meski berada dalam hidup yang serba berkecukupan bahkan berlebihan, ketika menyaksikan anak-anaknya nampak bodoh. Apalagi sang anak yang menjadi "tumpuan masa depan" itu tersuruk ke dalam lumpur dosa dan kenistaan, misalnya terlibat narkotika dan sebagainya. Hidupnya seolah-olah telah gagal. Perasaan seperti ini pun tak mudah disembunyikan. Semuanya sama saja, bahwa anak adalah cermin dari orang tua. Keberadaan dan hidup anak, yang bagaimanapun juga, merupakan gambaran kehidupan orang tua di masa-masa yang akan datang.
Begitu kuatnya pengaruh sang ibu pada anak-anaknya, juga tercermin dalam sebuah pernyataan Rasulullah saw., yang seharusnya tak dilupakan; "Surga di bawah telapak kaki ibu". Sang ibulah yang membangun surga bagi anak-anaknya di masa depan. Mengapa begitu?



