Harus disadari terutama bagi para ibu dan juga calon para ibu, bahwa "siapa dan bagaimana" anak yang dilahirkan adalah citra dirinya.
Disamping spritual dan intelektual, pandangan dan kepedulian seorang ibu sangat menentukan proses pencerdasan anak.
Harapan untuk memiliki anak cerdas, dengan investasi yang memadai adalah pilihan yang bijak dan rasional daripada investasi bisnis di bidang apapun dan dalam situasi apapun juga.
Betapa banyaknya ibu-ibu yang diselimuti kesedihan, meski berada dalam hidup yang serba berkecukupan bahkan berlebihan, ketika menyaksikan anak-anaknya nampak bodoh. Apalagi sang anak yang menjadi "tumpuan masa depan" itu tersuruk ke dalam lumpur dosa dan kenistaan, misalnya terlibat narkotika dan sebagainya. Hidupnya seolah-olah telah gagal. Perasaan seperti ini pun tak mudah disembunyikan. Semuanya sama saja, bahwa anak adalah cermin dari orang tua. Keberadaan dan hidup anak, yang bagaimanapun juga, merupakan gambaran kehidupan orang tua di masa-masa yang akan datang.
Begitu kuatnya pengaruh sang ibu pada anak-anaknya, juga tercermin dalam sebuah pernyataan Rasulullah saw., yang seharusnya tak dilupakan; "Surga di bawah telapak kaki ibu". Sang ibulah yang membangun surga bagi anak-anaknya di masa depan. Mengapa begitu?
Surga di bawah telapak kaki ibu. "Sang ibulah yang membangun surga bagi anak-anaknya di masa depan. Karena ibu adalah lingkungan pendidikan paling dini, yang membentuk kepribadian, kecerdasan dan mentalitas bagi sang anak.
Betapa sangat menentukannya peran sang ibu bagi masa depan anak-anaknya ini, dapat kita lihat pada sejumlah kisah sukses orang-orang besar, baik masa lalu maupun kini, yang menentukan jalannya "roda" sejarah umat.
Thomas Alfa Edison, sang penemu listrik dan hukum-hukum elektronika yang sangat bermanfat bagi kita saat ini, memiliki sejarah yang gemilang tak dapat dilepaskan dari peran ibunya. Ketika ia memasuki usia sekolah, Edison dimasukkan ke sekolah, seperti anak-anak sebayanya. Tetapi pihak sekolah, setelah mengamati perkembangan si kecil ini, sampai pada kesimpulan bahwa Edison tidak mampu. Edison dianggap oleh guru kelasnya tidak bisa mengikuti pelajaran. Karena dinilai bodoh, akhirnya Edison dikeluarkan dari sekolah. Namun ibunya, tidak pernah putus asa dengan kondisi putranya ini. Bahkan sang ibu sampai berikrar dalam hati bahwa putranya ini tidaklah bodoh sebagaimana ditudingkan pihak sekolah, ia akan membuktikan hal itu. Saat itulah ibunya dengan tekun mendampingi dan mendidik anaknya sendiri, sampai akhirnya Edison mrnjadi seorang genius dengan berbagai prestasi dan inovasinya. Edison tidak pernah melupakan jasa besar ibunya dan ia adalah ilmuwan yang kagum terhadap "karya" ibunya, yang tak lain menjadikannya sebagai seorang genius.
Cerita yang tidak terlalu berbeda juga terjadi dalam sebuah lingkungan keluarga yang lain. Kali ini terjadi di Andalusia (Spanyol) pada masa kejayaan Islam dahulu. Sebelum Muhyidin Ibn 'Arabi menjadi "bintang" yang bersinar dalam filsafat dan tasawuf, sejak kecil ia hidup dalam lingkungan keluarga yang memang akrab dengan dunia intelektual. Ibn 'Arabi, yang juga dikenal sebagai Syeikh Al-Akbar bukan saja berada dalam lingkungan keluarga yang intelek, tetapi bahkan dua orang guru utamanya pun adalah wanita. Betapa besar dan cerdasnya Ibn 'Arabi, dapat kita rujuk pada karya-karya tertulisnya yang berbobot, inspiratif dan mengalir seperti air. Bahkan apa yang dilukiskan oleh A.J. Arberry, karya-karya Ibn 'Arabi mungkin dapat dibandingkan dengan sebuah puncak gunung yang tertutup salju abadi (karena tingginya). Sebagian tebing atau lerengnya bisa diketahui, tetapi puncaknya belum ada seorang pun yang bisa menjangkaunya.
Di Indonesia sendiri, dalam kadar dan bentuk yang berbeda juga ada orang-orang cerdas, yang sangat besar jasanya bagi kemajuan bangsa. Patut disebutkan di sini, B.J. Habibie, lepas dari persoalan politik yang melilitnya, ia adalah seorang pioner pesawat terbang andalan, yang reputasinya diakui dunia internasional. Begitu juga dengan M. Amien Rais, yang dikenal juga sebagai tokoh reformasi, adalah seorang pendobrak kemapanan rezim Soeharto dengan kalkulasi politik dan etika yang patut dihargai. Apabila kita telusuri sejarah hidup dan pendidikannya, maka akan sampai pada kesimpulan bahwa keduanya adalah tokoh yang sangat bergantung dan merupakan hasil didikan ibunya.
Patut dipikirkan manakah yang lebih besar perannya: Ibu yang mampu melahirkan karya (anak yang mampu menciptakan karya-karya besar) dengan laki-laki yang menciptakan karya besar???
Setiap ibu yang menyadari betapa beratnya tantangan dan problematika hidup yang dihadapinya oleh putra-putrinya di masa-masa mendatang, tentu tidak akan gegabah dalam mendidik dan mencerdaskan putra-putrinya. Era milenium ketiga, ditengarai banyak pihak sebagai era kompetisi sumberdaya insani yang sangat ketat. Artinya, siapapun yang memiliki keunggulan insani, misalnya spritual, intelektual dan skill, dapat diduga mereka akan menguasai "jalannya" sejarah. Sebaliknya, jika pada era tersebut seseorang tidak memiliki keunggulan dari faktor-faktor tersebut, maka berarti mereka hidup tanpa harapan dan arti.
Jika dahulu investasi selalu dikaitkan dengan kegiatan ekonomi produksi dan jasa, maka pada era sekarang ini investasi juga berarti pendidikan, terutama bagi pencerdasan anak-anaknya.
Harapan untuk memiliki anak yang cerdas adalah jauh lebih rasional dan dapat dipertanggungjawabkan daripada keuntungan bisnis yang tentu saja sangat muskil, di saat-saat krisis seperti ini. Selanjutnya, meninggalkan anak-anak yang telah "menjadi" cerdas adalah keputusan yang bijak daripada meninggalkan warisan harta kepada anak-anak yang bodoh. Kecerdasan, dalam pengertian kepemilikannya akan ilmu, dinyatakan oleh Ali ibn Abi Thalib memiliki sejumlah keunggulan dibandingkan kebodohan (tidak atau kurangnya ilmu), bagaikan terang benderang dengan gelap gulita.
Pada akhirnya, kita patut merenungkan sebuah tawaran primordial, yang diberikan oleh Tuhan kepada Sulaeman a.s. Sekali waktu Tuhan memberikan tawaran dan Nabi Sulaeman a.s. dipersilahkan memilih salah satu di antaranya, yakni harta, tahta, atau ilmu. Dari ketiganya, akhirnya Nabi Sulaeman a.s. memilih ilmu. Apa yang kemudian terjadi adalah, bahwa Tuhan memberikan semuanya, yakni tahta dan harta di samping ilmu yang telah dipilihnya. Hikmah yang dapat dipetik dari kisah ini adalah, bahwa dengan kepemilikan ilmu, maka seseorang akan bisa memperoleh dan mengelola kekayaan maupun kedudukan dengan baik. Sebaliknya, harta maupun kedudukan dikelola tanpa ilmu yang memadai seringkali berakhir dengan kedzaliman dan malapetaka, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain.
Di ambil dari buku MENCERDASKAN ANAK, penulis Suharsono.



