twitter




Kota ini adalah kota haram Mu.
Kota aman yang teramat ku rindu,
Maka dengan lindungan Mu,
Hindarkan kulit, daging, bulu.
Dan seluruh bagian tubuhku.
Dari ganasnya bara neraka Mu.

(Sebuah doa ketika memasuki kota Makkah)



***

eramuslim - Kota yang bersinar cemerlang semenjak Al-Musthafa datang, Madinah, saat itu tak lagi lengang. Sebuah undangan mulia untuk berhaji bersama dengan manusia pilihan bergaung merdu. Beribu-ribu orang menyemut di sebuah kota, yang telah menjadi muasal kekhalifahan islam. Kumandang ajakan dari bibir semanis madu Rasulullah untuk melakukan perjalanan haji, disambut bahagia semua manusia. Semua datang dengan senyum terkembang. Mereka datang dari kota dan pedalaman yang amat jauh ditempuh. Mereka berperjalanan dari berbagai pelosok tanah Arab, dari gunung-gunung, dari lembah sahara, dari setiap jengkal tempat yang dilimpahi dakwah Nabi mulia.


eramuslim - Kata-kata adalah nutrisi dan penawar segala penyakit. Lidah adalah roda kemudi. Karena itulah, mengapa orang yang mengalami kegundahan, kesedihan, stress atau depresi, akan menjadi lebih baik ketika mendapatkan siraman kata-kata sejuk yang menghibur. Hal ini menunjukkan betapa hebatnya fungsi ucapan yang meluncur dari lidah seseorang. Tak semua ucapan ditujukan untuk menyampaikan informasi dan membentuk pengertian.

Saat kita mengucapkan, "Selamat pagi! Apa kabar?" kita tidak bermaksud mencari keterangan. Tapi hal itu upaya agar orang lain merasa apa yang disebut oleh Teori Analisis Transaksional sebagai, 'Saya Oke-Kamu Oke'. Yaitu komunikasi yang ditujukan untuk menimbulkan kesenangan. Sebaliknya, perkataan yang buruk atau komunikasi yang gagal akan menimbulkan hubungan sosial yang tidak harmonis.


Penulis: Aura Sinay

Ah. Kau langsung tersenyum saat melihat bungaku. Aku sudah menduganya. Sungguh, aku tak berniat untuk menyombongkan diri, tapi mereka yang melihat selalu mengatakan bahwa bungaku indah. Ah. Aku malu. Hanya kepada Allahlah pujian itu patut disampaikan. Aku hanyalah makhluk ciptaan-Nya. Tentulah Allah Maha Indah.

Awalnya, aku hanyalah sebutir benih yang diterbangkan oleh angin ke sana ke mari. Hingga akhirnya angin menghempaskanku dengan lembut pada sebuah taman di bumi yang tidak begitu indah, namun sangat layak untuk kutumbuh. Tanahnya hangat memelukku hingga membenamkanku ke dalam bumi-Nya. Tanah itu biasa-biasa saja, tak ada yang istimewa, kecuali kegigihan dan ketulusannya dalam memberiku mineral-mineral, entah sampai kapan. Aku sendiri tak tahu harus membalasnya dengan apa. Hanya Allah yang mampu membalasnya dengan sebaik-baik karunia. Yang dapat kulakukan hanyalah mengerahkan segenap kekuatanku untuk memekarkan bunga-bunga yang indah. Walaupun kemudian pujian itu mereka tujukan padaku, bukan kepada tanah yang kupijak.

Bookmarks