Penulis: Aura Sinay
Ah. Kau langsung tersenyum saat melihat bungaku. Aku sudah menduganya. Sungguh,
aku tak berniat untuk menyombongkan diri, tapi mereka yang melihat selalu
mengatakan bahwa bungaku indah. Ah. Aku malu. Hanya kepada Allahlah pujian itu
patut disampaikan. Aku hanyalah makhluk ciptaan-Nya. Tentulah Allah Maha Indah.
Awalnya, aku hanyalah sebutir benih yang diterbangkan oleh angin ke sana
ke mari. Hingga akhirnya angin menghempaskanku dengan lembut pada sebuah taman
di bumi yang tidak begitu indah, namun sangat layak untuk kutumbuh. Tanahnya
hangat memelukku hingga membenamkanku ke dalam bumi-Nya. Tanah itu biasa-biasa
saja, tak ada yang istimewa, kecuali kegigihan dan ketulusannya dalam memberiku
mineral-mineral, entah sampai kapan. Aku sendiri tak tahu harus membalasnya
dengan apa. Hanya Allah yang mampu membalasnya dengan sebaik-baik karunia. Yang
dapat kulakukan hanyalah mengerahkan segenap kekuatanku untuk memekarkan
bunga-bunga yang indah. Walaupun kemudian pujian itu mereka tujukan padaku,
bukan kepada tanah yang kupijak.
Kian hari kurasakan tanah itu semakin
hangat memelukku, hingga akarku kuat mencengkeram bumi dan menopang ranting yang
sebenarnya rapuh bagi mekarnya bungaku. Ah, segala puji bagi Allah yang telah
mencurahkan rahmat di bumi ini.
Taman tempatku tumbuh tidak berpagar besi
yang kokoh lagi megah, tapi hanya sebarisan pagar kayu yang cukup kuat untuk
memastikan setiap orang yang melihat bahwa di sini ada taman bunga yang
tersendiri.
Kuakui, aku sering merasa tak puas dengan taman yang
kutempati ini. Ingin rasanya berpindah taman. Di luar terlihat indah sekali.
Tapi rasanya tak mungkin aku meninggalkan taman ini tanpa bungaku. Justru
menjadi kewajibanku untuk memekarkan bunga-bunga khas taman ini dengan tulus.
Ya, di luar sana memang terlihat sangat indah. Bunga-bunga yang
bermekaran di luar sana sering mengejutkan setiap makhluk yang melihatnya.
Mereka tak pernah menyangka ada bunga-bunga yang sangat indah di sudut-sudut
bumi yang tersembunyi itu. Bunga-bunga itu memekarkan bentuk, warna, dan
wanginya masing-masing, mengingatkan kita untuk segera memuji
kebesaran-Nya.
Pernahkah kau mendengar kisah tentang bunga-bunga di luar
sana ? Aku pernah mendengarnya, dari angin yang senantiasa menghembuskan
kisah-kisah bumi.
Di luar sana ada pohon bunga yang rapuh. Dahannya
rapuh, tapi akarnya kuat mencengkeram tanahnya. Setiap saat akarnya gigih
mencari mineral-mineral tambahan bagi pertumbuhannya, walau akhirnya sering
terbentur dinding potnya.
Pot? Ya, ia tinggal dalam sebuah pot bunga
yang besar dan indah. Pot bunga itu terbuat dari baja kuat yang dingin
(beruntunglah ia karena masih ada tanah yang hangat memeluknya). Pot itu
berlapiskan emas dengan ukiran-ukiran yang indah.
Awalnya aku tak
mengerti mengapa mereka (manusia-manusia itu) memperlakukan pohon bunga itu
dengan sangat istimewa. Namun kemudian angin yang menceritakan kisah ini
memberitahuku bahwa ia adalah pohon bunga yang langka.
Hanya ia yang
tersisa di muka bumi ini. Tidak. Bukan tersisa. Justru ialah satu-satunya di
muka bumi ini. Tak ada lagi pohon bunga yang sejenis dengannya. Karena ia adalah
pohon bunga cangkokan. Pintar sekali manusia-manusia itu memadukan dua pohon
induknya (Mahasuci Allah, pemilik segala ilmu). Namun sepertinya perhitungan
mereka agak meleset. Dahan pohon yang dihasilkan sangat kecil dan tipis. Ia pun
mudah terserang hama sehingga mereka harus memberikan perlakuan ekstra untuk
pohon itu. Mereka berikan berbagai macam pupuk khusus dan menyiraminya secara
teratur agar ia dapat tumbuh dengan normal.
Hasilnya pun sangat
mengejutkan. Mereka sendiri tak menduga, bunga yang dimekarkannya begitu indah.
Ia menebarkan wanginya yang khas. Madunya menjadi makanan bagi kumbang-kumbang
yang mau mendatanginya. Rantingnya yang panjang dan kecil menari-nari mengikuti
irama yang dilagukan oleh sang angin. Harapannya hanya satu, angin akan membawa
serta benih-benihnya, mencarikan tempat-tempat yang lebih baik untuk pertumbuhan
tanaman sejenisnya kelak.
Ia tak pernah meminta angin untuk
menghembuskan kisahnya. Jangankan memikirkan hal seperti itu, menyadari
keindahan bunganya sendiri pun tidak. Tapi angin telah membawa serta berita
keindahan bunganya ke setiap penjuru bumi. Dan setiap pohon bunga yang
mendengarnya akan menari-nari, melagukan kesyukuran seolah tiada henti. Termasuk
aku.
Ah. Aku jadi malu. Dahanku yang cukup kuat justru kalah dengannya.
Dahannya tak pernah berhenti mencari sinar sang mentari yang dapat merangsang
pertumbuhannya dengan memberikan banyak kehangatan. Sementara aku ? Ah,
entahlah. Aku masih harus banyak belajar darinya. Kini ia tumbuh meninggi.
Semakin dekat dengan sang mentari. Hingga pohon-pohon lain di luar pagarnya
dapat membuktikan keindahannya. Aku sering terkikik geli saat sang angin
menceritakan bahwa terkadang pohon-pohon itu mencuri pandang, terpesona pada
keindahan alami bunganya. Lalu mereka kembali melantunkan lagu kesyukuran,
hingga serinya menebar ke seluruh penjuru taman hati.
Ah. Allah pastilah
menyayanginya. Dan sang angin tak berhenti menghembuskan kisah-kisah bunga dari
muka bumi ini. Suatu hari ia pernah bercerita, di luar sana ada pohon bunga yang
masih sangat muda, tapi dahannya sudah kuat, dan akarnya kokoh mencengkeram
bumi. Bunga yang dimekarkannya pun tak kalah indah dengan bunga-bunga lainnya.
Ia memiliki kekhasan tersendiri. Di saat pohon-pohon lain menari-narikan
bunga-bunganya yang indah dengan gemulai kepada seluruh penghuni bumi, ia justru
enggan melakukannya. Yang ia lakukan hanyalah melagukan kesyukuran tanpa henti.
Bahkan ia menumbuhkan banyak duri yang tajam di dahannya yang kokoh. Ia hanya
tak ingin bunganya dipetik oleh sembarang orang. Ia juga tak ingin ada hama yang
mengganggu atau bahkan merusak bunganya. Semua itu ia lakukan karena ia tahu
betul, bunga yang dimekarkannya tak pernah bertahan lama. Tak lama setelah
mekar, kelopaknya akan gugur ke bumi, seperti mawar. Ini sudah menjadi
kodratnya. Namun ia tak sedikit pun mengeluh.
Sebuah pemikiran yang
cerdas. Ah, tak pernah terpikirkan olehku. Padahal aku tumbuh lebih dulu dan
bungaku lebih rapuh darinya. Lalu angin mengenalkannya padaku. Ia pohon bunga
yang menyenangkan. Aku cepat akrab dengannya, walaupun letak taman kami saling
berjauhan. Kami berkirim salam lewat angin. Berbagi rasa pun kami lakukan lewat
angin. Maha Besar Allah yang telah menciptakan angin. Ia pernah menyampaikan
kegundahannya lewat hembusan angin yang lembut. Seekor lebah memintanya
menyisakan madu bagi dirinya pada suatu hari di waktu yang telah mereka
sepakati. Ia menyanggupinya. Di luar dugaan, pada hari yang telah disepakati
itu, bunganya tak mekar tepat pada saatnya. Dan ia tak kunjung melihat lebah itu
datang di antara lainnya. Ia panik. Ia takut lebah itu akan marah kepadanya.
Aku tak melupakan janjiku. Aku tak ingin mengingkarinya. Aku tak
menyangka jika embun pagi ini lebih sedikit dari kemarin sehingga aku harus
bersabar dalam memekarkan bungaku agar aku tak kehilangan banyak energi. Aku tak
bermaksud membuatnya kelaparan, kan.? Begitu sedih angin menceritakannya
padaku.
Aku tahu. Rasanya lebah itu tak akan kelaparan. Bunga-bunga lain
masih menyisakan madu untuknya. Ia tak akan menjadi begitu lapar karenanya.
Angin hembuskan prasangka-prasangka baik padanya. Dihempaskannya jauh-jauh
prasangka-prasangka buruk si bunga pada si lebah. Tak kuduga, ia menolak
hembusan itu. Ia yakin sekali lebah itu akan marah lagi kepadanya. Ternyata hal
ini terjadi untuk kedua kalinya. Sebelumnya ia pernah menjanjikan hal yang sama
pada lebah yang sama. Ketika saat yang dijanjikannya tiba, bunganya tak siap
untuk mekar. Sementara bunga-bunga lain yang mekar lebih awal pada dahannya
telah habis madunya, dihisap lebah-lebah lain yang datang lebih pagi. Ia sendiri
tak menduga jika lebah-lebah yang datang hari itu lebih banyak dari
sebelumnya.
Lalu lebah itu marah padanya. Untuk beberapa lama ia tak
menghampiri bunga itu lagi. Bahkan lambaian kelopaknya pun tak ia balas.
Sedemikian marahnyakah lebah itu padanya? Kusampaikan lewat angin yang lembut
menerpa, jika ia memang seekor lebah sejati, tentulah ia akan bersabar. Ia tak
akan berhenti begitu saja. Lebah itu akan mencari madu pada pohon bunga yang
lain. Lebah itu makhluk yang gigih.
Ia tetap gelisah. Kehilangan akal,
kugoda bunga itu. Kutanyakan lewat angin tentang seberapa istimewanya lebah itu
baginya hingga ia begitu gelisah. Tak kusangka, angin yang kembali membawakan
pesannya datang menghentak.
Ia tak pernah menganggap istimewa pada lebah
itu. Ia hanya tak ingin menyakitinya. Ia berusaha untuk membahagiakan semua
lebah yang datang kepadanya.
Ah, memang salahku. Saat itu memang bukan
waktu yang tepat untuk menggodanya. Akhirnya si lebah itu datang juga. Kuminta
padanya untuk tak marah pada si bunga. Lebah itu mengangguk sambil tersenyum dan
mengepak-ngepakkan sayapnya dengan lincah. Ah, lega rasanya.
Pernahkah
kau mendengar sang angin menghembuskan kisah bunga lainnya ? Di lain waktu, ia
berkisah tentang sebuah pohon bunga di luar sana yang rapuh, sama dengan bunga
dalam pot yang indah itu. Tahukah kau jika keduanya bersahabat ?
Ya,
juga dengan beberapa bunga dan lebah lainnya. Mereka sangat dekat. Sampai-sampai
si bunga selalu memimpikan saat-saat di mana mereka bersama menarikan
kelopak-kelopak bunga, menebarkan wangi, mencairkan madu, menghias indahnya
dunia dalam satu taman yang luas, menghabiskan sisa waktu hidupnya bersama
mereka dengan penuh cinta yang hanya karena-Nya.
Sisa waktu ? Ya ! Bunga
itu tahu benar seberapa rapuh dirinya. Ia percaya benar akan adanya kuasa Tuhan.
Ia tinggal menunggu, saatnya pasti tiba. Walaupun masih ada kemungkinan turunnya
mukjizat Tuhan, ia benar-benar siap dengan kemungkinan terakhir yang akan
terjadi pada dirinya, yaitu dijemput oleh Izrail.
Ia benar-benar pasrah
dalam menghadapi kenyataan. Kenyataan bahwa episode kehidupannya di dunia akan
segera berakhir. Hatinya begitu dipenuhi rindu pada satu Kekasihnya, Rabb
semesta alam. Tak sedikit pun keluh dan sesal menghinggapi hatinya. Semangat
hidupnya begitu tinggi. Senyumnya secerah mentari. Ya Rabbi, aku benar-benar
malu. Aku lebih kuat darinya. Tapi aku sering meragukan pertolongan-Mu ? Lalu
angin berhembus sedih, bunga itu…. telah mati!
Bunganya layu dan
kelopaknya gugur ke bumi. Tangkainya roboh dan akarnya terlepas dari tanah.
Allah telah mengutus Izrail untuk menjemputnya. Seketika itu juga alam berduka.
Manusia-manusia itu membawa jasad si bunga ke sebuah taman yang jauh dari taman
asalnya. Ia disemayamkan di belakang sebuah villa di suatu dataran tinggi. Taman
tempatnya bersemayam itu dekat dengan tamanku. Namun entah di mana.
Sahabat-sahabatnya bersedih. Karena tak ada satu pun dari mereka yang tahu pasti
letak taman itu. Mereka sangat merindukan si bunga. Hingga kini mereka masih
merindukan si bunga. Tak sebatang nisan pun dapat mereka ziarahi. Maka kini
hanya namanya yang mereka kenangi, cerianya yang mereka rindui, dan doa tulus
yang mereka kirimi.Kau pun akan selalu mendengar lantunan keindahan si bunga
yang kini terpatri di prasasti setiap taman hati mereka yang
mencintainya.
Ya Allah ya Tuhanku yang Maha Pengasih lagi Maha
Penyayang
Bila rindu adalah rasa sakit yang tak menemukan
muaranya
Penuhilah rasa sakitku dengan rinduku padaMu (ya Allah)
Dan..
jadikanlah kematianku sebagai muara pertemuanku denganMu (ya Allah)
Amin ya
Allah ya Rabbal Alamin
PadaMu kumohon... padaMu ku minta
Ingat
kepadaMu tiap waktu
Dimana ku berada.. kemana ku kan pergi
Jagalah dan
lindungilah aku
Ingatkan.. apabila aku melangkah keliru
Sadarkanku kembali
pada kebenaran
Ingatkan ku berdo'a memohon ampun dosa
Agar hidupku selalu
tenang dan mencapai ridhaMu
Akan ku jalani semua ini dengan penuh rasa ikhlas
dan tawakal
Tak ada sesal di hatiku atas semua yang telah terjadi pada
diriku
Aku akan selalu tersenyum menyambut datangnya fajar di pagi
hari
Yang terbias indah di tengah hangatnya dekapan awan putih
Akan
kulalui hari-hariku di tengah cerahnya sinar sang mentari
Dan di tengah
kelembutan cahaya bulan di waktu malam
Kehidupan ini laksana
pelangi
Beraneka ragam warna kehidupan akan kita hadapi
Ada kalanya kita
sehat dan sakit
Ada kesedihan dan kebahagiaan
Ada rindu dan kecewa
Ada
susah dan senang
Juga ada pertemuan dan perpisahan
Jalanilah pelangi
kehidupan itu
Dan hiduplah seindah warna warna pelangi
Walau penuh dengan
lingkaran warna hitam dibelakangnya
Namun tetap indah menyenangkan bagi yang
melihat kehadirannya?(Puisi karangan: Rafika
Damayanti,alm)
Bunga-bunga yang dikisahkan oleh sang angin adalah
bunga-bunga yang tumbuh di bumi. Bunga-bunga yang menambah deretan bukti panjang
tanpa akhir akan adanya kuasa Illahi di alam ini. Bunga-bunga yang melagukan
kesyukuran dan kerinduannya pada Illahi tanpa henti.
Kau, aku, kita semua
akan terus mendengar kisah-kisah bunga itu dari sang angin. Angin yang selalu
menghembuskan kisah-kisah bumi. Namun bila telah tiba saatnya nanti, mungkin kau
akan mendengar kisah ini dari angin yang menghembuskan kisah-kisah surga. Dan
kau akan mendengar darinya bahwa bunga-bunga itu kini menghiasi taman surga.
Wallahu’alam bishawab.
***



