Yang Suci Tak Kan Mandul Untuk Melahirkan Mujahid Dan Mujahidah
{MONOLOG SEORANG PEJUANG}
{Khas buat insan teristimewa dalam hidup ini... dan juga isteri-isteri pejuang... serta bakal isteri seorang pejuang}
Isteriku...
Apabila kusentuh telapak tanganmu... Ku usap-usap, ianya semakin kasar dan keras... Apabila kurenung wajahmu... Terpancar sinar bahagia dan ketenangan walaupun kutahu... Redup matamu menyimpan satu rintihan yang memberat... Apabila kutersentak dari pembaringan di kala fajar kadzib menyingsing... Aku terpana karena munajatmu yang syahdu.
Isteriku...
Tatkala teman-temanmu sedang bersantai di samping... Insan-insan tersayang di dunia ciptaan mereka.. Engkau bahagia mengorbankan seluruh detik-detikmu... Hanyasanya untuk Islam... Tatkala lengan-lengan mereka dibaluti... Berbagai hiasan yang indah... Leher-leher mereka memberat dilingkari dengan kilauan emas permata... Pakaian-pakaian mereka anggun persis puteri kayangan... Wajah mereka dililit berbagai warna dan merk terkenal...
Kau umpama ladang ummah...
Kau menginfakkan seluruh jiwa dan raga demi kebangkitan Islam...
Kau tak pernah bersungut, mengeluh, meminta-minta maupun mengadu... Tatkala mereka berlomba-lomba mengejar pangkat dan nama... Kau tegap menjulang nama dengan pengaduanmu di sisi yang Esa...
Isteriku...
Bukan aku tidak mampu membelikan barang dan hiasan-hiasan tersebut...
Tetapi isteriku...
Aku masih ingat tatkala aku menyuntingmu untuk dijadikan suri dan seri kamar hatiku...
Kau melafazkan, "Saya sudi menjadi sayap kiri perjuangan saudara tetapi dengan syarat..." Kau tersenyum sambil menghela nafas dalam-dalam...
Aku termangu sendirian...
Syarat apakah itu? Bungalowkah? Mahar yang mahal? Mobil mewahkah? Aksesori Habib Jewels kah? Perabot mahal dari Itali kah?... Atau honeymoon di Kota Paris kah?... Katakan...Aku mampu memberikan... Lamanya kau mengumpul kekuatan untuk berkata...
Akhirnya... Ahh... Permintaanmu itu... Pasti ditertawakan oleh kerabat dan teman-teman kita... Aku tergamam serta Kelu... Dengan penuh keyakinan kau berkata...
"Saudara, Mampukah saudara menjadikan saya sebagai isteri yang kedua saudara?... Mampukah saudara menjadikan Islam sebagai isteri pertama saudara yang lebih perlukan perhatian?... Mampukah saudara meletakkan kepentingan Islam melebihi segala-galanya termasuklah urusan-urusan dunia?...
Mampukah saudara menjual diri saudara semata-mata karena Islam?.. Mampukah saudara berkorban meninggalkan kelezatan dunia?... Mampukah saudara menjadikan Islam laksana bara api... Saudara perlu menggenggamnya agar bara itu terus menyala...
Mampukah saudara menjadi lilin yang rela membakar diri untuk Islam... Bukannya seperti lampu yang bisa di'on'kan bila perlu dan di'off'kan bila tidak... Mampukah saudara mendengar hinaan yang bakal dilontarkan kepada saudara karena perjuangan saudara... Dan... mampukah saudara menjadikan saya isteri seorang pejuang yang tidak dimanjai dengan fatamorgana dunia?...
Aduh! Banyaknya syarat-syarat itu isteriku...
Namun aku menerima syarat-syarat tersebut karena aku tahu... Jiwamu kosong dari syurga dunia... Karena aku tahu kau mampu mengubah dunia ini dengan iman dan akhlakmu... Bukannya kau yang diubah oleh dunia...
Isteriku...
Akhirnya jadilah engkau penolong setiaku sebagai nakhoda mengemudi bahtera kehidupan kita... Susah senang kita tempuh bersama... Aku terharu dengan segala kebaikanmu... Kau jaga akhlakmu... Kau pelihara maruahmu selaku muslimah... Kau tak pernah mengeluh apabila sering ditinggalkan oleh tugasku mengangkat Islam ke persada agung...
Kau jua sanggup menyekang mata menungguku sambil memberikan aku suatu senyuman terindah di ambang pintu tatkala aku pulang lewat malam... Malah kau seringkali meniupkan semangat untuk aku terus tsabat di pentas perjuangan ini... Kau tabur bunga-bunga jihad walaupun kita masih jauh dari harum kemenangan...
Isteriku...
Tangkasnya engkau selaku suri... Biarpun kau jua sibuk bersama menggembleng tenaga selaku sayap kiri perjuanganku... Kau jaga taman kita dengan indahnya... Kau sirami dengan wangian cinta dan kasih sayang... Kau tak pernah menjadikan kesibukanmu itu untuk kau lari dari amanahmu meskipun jadwalmu padat dengan agenda-agenda bersama masyarakat dan kaum sejenismu...
Cerdasnya engkau mendidik anak-anak...
Kau kenalkan mereka dengan Allah, Rasul SAW, serta para pejuang Islam... Kau tiupkan semangat mereka sebagai generasi pelapis jundullah... Kau asuh mereka membaca Al Quran... Malah kau temani mereka mengulangkaji pelajaran di kala menjelangnya ujian...
Isteriku...
Barangkali inilah kebenaran ungkapan : Tangan yang mengayun buaian bisa menggoncang dunia...
SEPERTIMU... WAHAI ISTERIKU.
Sumber : Majalah Mutiara Amaly




