Exsistensi Rohaniah Manusia Hanya Dapat Berkembang Baik Dalam Kehidupan Bermasyarakat Secara Ilmiah Ilahiah
Dalil: Surat Al-Mu'minun, ayat 52:"Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan aku adalah Tuhanmu maka bertaqwalah kepadaKu."
Dalil, Hadits Rasulullah, Muhammad s.a.w.:"Tiap-tiap anak yang dilahirkan, dalam fithrah (suci bersih), sehingga dia pandai berkata-kata, maka ibu-bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi."
Anak-anak manusia yang dipelihara serigala, atau orang hutan sejak bayi secara jasadiah dapat berkembang dan menjadi besar. Akan tetapi secara rohaniah dia tidak berkembang menjadi manusia. Sistem fikir dan akhlaknya tidak berkembang. Sebagai anak manusia dia memang tetap mempunyai otak dan hati. Otak yang dimilikinya itu secara jasadiah, dalam pengertian gumpalan darah dan daging tetap bertumbuh. Tetapi otak sebagai perlengkapan untuk berfikir tidak berfungsi.
Bahan baku dari proses berfikir itu bukan barang-barang makanan dan minuman, akan tetapi konsep, pengertian, pendapat, atau makna. Konsep atau makna itu beredar dari seseorang manusia kepada manusia lainnya melalui jalur komunikasi, pembicaraan atau tulisan.
Kalau konsep-konsep yang masuk ke dalam proses berfikir sang anak itu berdasarkan paham Majusi, maka akan menjadi majusilah anak itu. Konsepsi atau pengertian yang merupakan dasar dari semua ilmu pengetahuan manusia hanya diberikan Allah kepada manusia saja.
Dalil, Surah Al-Baqarah ayat 31-33:
"Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: 'Sebutkanlah kepadaKu nama-nama benda-benda itu, jika kamu memang orang-orang yang benar.""Mereka menjawab: 'Maha suci Engkau, tiada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.""Allah berfirman: 'Hai Adam! Beritahukanlah mereka nama-nama benda ini'. Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu Allah berfirman: 'Bukankah sudah Kukatakan kepadamu, bahwa sesungguhnya aku mengetahui rahasi langit dan bumi dan mengetahui apa yang kau lahirkan dan kau sembunyikan."
Oleh karena nama atau makna sebagai bahan dasar ilmu itu diajarkan Allah hanya kepada manusia, maka seorang manusia tentu tidak akan mendapatkannya dari makhluk lain, kecuali manusia juga. Jadi hidup bermasyarakat antara sesama manusia itu merupakan syarat pokok bagi berkembangnya existensi manusia itu secara utuh, rohaniah dan jasadiah.
Ada suatu segi lain yang perlu disadari secara mendalam. Hidup bermasyarakat dan komunikasi antara anggota masyarakat itu hanya sekedar syarat wadah bagi produksi dan lalu lintas makna atau pengertian yang akan menjadi bahan dasar ilmu pengetahuan itu. Bagaimana dengan isi dan kualitas penertian itu sendiri?
Otak manusia itu sama dan sunnatullah yang mendasari mekanisme sistem fikir itu sama juga. Sunnatullah logika dan dialektika yang menguasai kegiatan fikir sama saja. Tidak peduli apakah ia otak orang kulit hitam atau kulit putih, otak orang kaya atau orang miskin. Yang dapat berbeda hanya isi dan kualitas makna yang beredar di antara anggota masyarakat itu, apakah konsep-konsep yang menguasai peredaran itu bercorak Nasrani, Majusi, Yahudi, atau Islam. Isi dan kualitas konsep inilah yang merupakan syarat pokok kedua yang menentukan perkembangan manusia itu.
Kalau konsep-konsep yang mengenai alam exakta tidaklah menjadi soal, karena konsep yang salah dan tidak tahan uji akan segera gugur dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan. Paling-paling terdapat perbedaan akibat yang menyangkut hubungannya dengan Allah, seperti perbedaan antara ilmu-ilmu sekuler dengan ilmu-ilmu ilahiah.
Akan tetapi konsep-konsep yang menyangkut Allah dan makhluk ghaib lainnya betul-betul merupakan masalah. Di bidang inilah yang banyak terjadi penyimpangan.
Perkembangan sekulerisme yang telah menjauhkan manusia dari dirinya sendiri, dari existensi rohaniahnya, dan dari akhiratnya telah menimbulkan bencana bagi ummat manusia. Di mana-mana sepanjang sejarah telah terjadi peperangan, penjajahan, perbudakan, pemerasan oleh manusia terhadap sesamanya.
Itulah tugas para nabi dan rasul Allah. Para nabi dan rasul itu adalah manusia, sehingga dapat berkomunikasi dengan sesama manusia. Para nabi dan rasul itu mendapat wahyu dari Allah tentang hal-hal ghaib. Para nabi dan rasul inilah sumber satu-satunya bagi pengetahuan manusia tentang yang ghaib itu. Hal-hal yang ghaib, tidak dapat diuji kebenarannya dengan cara uji coba di dalam laboratorium. Dasarnya adalah percaya, dan kini sumber satu-satunya bagi ilmu pengetahuan tentang wahyu-wahyu Allah yang asli dan sempurna adalah Al-Qur'an dan Hadits-hadits Muhammad s.a.w. Oleh sebab itu para ilmuwan terutama ilmuwan-ilmuwan sosial tidak dapat melepaskan dirinya dari Al-Qur'an dan Hadits-hadits rasul Allah Muhammad s.a.w. Kecuali, jika mereka hendak melestarikan penipuan sekulerisme terhadap ummat manusia.
Dalam pada itu perlu diingat ungkapan pepatah yang berbunyi:
"Fikir itu pelita hati."
Hati itu adalah sistem akhlak yang mendorong manusia berbuat baik dan mencegah kejahatan. Akan tetapi apa yang dimaksud dengan yang baik dan apa pula yang disebut jahat, tergantung dari hasil fikirnya.
Oleh sebab itu perkembangan ilmu pengetahuan sebagai hasil sistem fikir sangat menentukan perkembangan akhlak manusia. Dan akhlak adalah kekuatan yang akan menentukan runtuh bangunnya suatu masyarakat, karena tata krama, adat istiadat, peraturan dan undang-undang yang mengatur kehidupan masyarakat ditentukan oleh tata nilai akhlak.
Hati itu adalah sistem akhlak yang mendorong manusia berbuat baik dan mencegah kajahatan. Akan tetapi ukuran, patokan, atau tata nilai yang digunakan dan yang tertanam dalam hati untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk itu dipengaruhi oleh hasil sistem fikir.
Jika tata nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat buruk, atau tidak bersifat ilmiah ilahiah, atau tidak sesuai dengan sunnah dan petunjuk Allah serta RasulNya Muhammad s.a.w., maka manusia yang berada di dalamnya akan tersiksa. Siksa itu akan menimpa existensi rohaniahnya manusia. Roh manusia dalam masyarakat semacam itu akan sakit-sakitan, tidak dapat berkembang baik.
Jika tata nilai yang dianut dalam suatu masyarakat sesuai dengan sunnah dan petunjuk Allah serta RasulNya Muhammad s.a.w., maka tingkah laku manusia menjadi baik. Baik itu adalah hal yang dialami oleh roh sebagai akibat tingkah lakunya. Roh manusia yang mengalami kebaikan-kebaikan itu akan juga berkembang baik, sehat, tidak sakit-sakitan.
Contoh model manusia dengan akhlak yang baik itu adalah Muhammad s.a.w. Rasulullah
Dalil, Surah Ali 'Imran ayat 110
"Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik."
Jika sistem fikir manusia dalam suatu masyarakat meragukan adanya Allah, maka jelas masyarakat itu tidak akan memuji Allah. Tata nilai yang hidup dalam hati setiap orang dalam masyarakat itu akan mengagungkan, akan menyembah, dan akan memuliakan selain Allah. Mereka dapat saja memuliakan harta, memuliakan kedudukan atau pangkat atau memuliakan turunan.
Masyarakat feodal memuliakan turunan.Maka dalam masyarakat seperti itu akan tersiksalah jiwa orang-orang yang bukan turunan feodal. Mereka akan tersiksa menjadi golongan yang dihinakan.
Tata nilai yang tidak berdasarkan penghambaan diri terhadap Allah saja akan membangun suatu masyarakat, yang merupakan neraka bagi sebagian besar orang, anggota masyarakat itu.
Masyarakat yang tata nilainya tidak berdasarkan azas "persaudaraan - karena Allah - antara sesama manusia", akan menggunakan azas lain, seperti: azas "persaingan demi laba", azas "manusia adalah serigala antara sesamanya", azas "saudara seketurunan", azas "saudara satu kepentingan", dan lain-lain.
Tata nilai yang tidak berdasarkan azas persaudaraan karena Allah akan menimbulkan ketegangan sosial, ketegangan rohaniah. Masyarakat seperti itu akan merupakan neraka bagi orang-orang yang lemah. Tata nilai yang hidup dalam suatu masyarakat itu sangat penting, karena akan mempengaruhi tingkah laku manusia. Tingkah laku manusia akan memberi akibat siksa atau nikmat bagi rohnya, dunia akhirat.
Oleh sebab itu pengembangan tata nilai yang bersifat ilmiah ilahiah itu adalah suatu kewajiban besar bagi setiap orang, baik secara perseorangan maupun secara bermasyarakat.



