twitter


Beberapa Karakteristik Wanita Muslimah


Rasulullah saw. bersabda: "Sebenarnya wanita itu adalah saudara kandung laki-laki." (HR Abu Daud) Umar ibnu Khattab berkata: "Demi Allah, pada zaman jahiliah kami menganggap wanita itu tidak ada artinya sampai turun ayat Allah mengenai wanita dan memberinya bagian tertentu." (HR Bukhari dan Muslim) Dalam riwayat lain Umar berkata: "Pada zaman jahiliah kami tidak menghargai wanita sedikit pun. Tetapi tatkala Islam datang dan Allah menyebut-nyebut tentang mereka, barulah kami sadar bahwa mereka mempunyai hak pada kami." (HR Bukhari)

A.         KEMANDIRIAN KARAKTER WANITA

1.           Bersama Laki-laki Wanita Menerima Seruan Allah Sejak Hari Pertama
Abu Hurairah berkata: "Ketika Allah menurunkan ayat Wa andzir 'asyiaratakatul aqrabin (peringatkanlah kerabat-kerabatmu yang terdekat), Rasulullah saw. berdiri lalu berkata: 'Hai orang-orang Quraisy, belilah diri kalian, aku tidak bisa membantu kalian dari siksa Allah sedikit pun. Hai Bani Abdi Manaf, aku tidak bisa membantu kalian dari siksa Allah sedikit pun. Wahai Abbas bin Abdul Muttalib, aku tidak bisa membantumu dari siksa Allah sedikit pun. Wahai Shafiyyah, bibi Rasulullah, aku tidak bisa membantumu dari siksa Allah sedikit pun. Wahai Fatimah binti Muhammad, mintalah sesukamu uang/hartaku, tetapi aku tidak bisa membantumu dari siksa Allah sedikit pun.'" (HR Bukhari dan Muslim)

2.         Wanita yang Lebih Dahulu Beriman daripada Suaminya
Abdullah bin Abbas berkata: "Aku dan ibuku termasuk golongan orang lemah/tertindas. Aku dari kalangan anak-anak dan ibuku dari kalangan wanita." (HR Bukhari) Dalam menguraikan bab ini Bukhari berkata: "Ibnu Abbas r.a. bersama ibunya termasuk di antara orang-orang yang lemah/tertindas. Dia tidak ikut bersama ayahnya dalam menganut agama kaumnya." Sementara Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan hadits tersebut sebagai berikut: "Nama ibunya Lubabah binti al-Harits al-Hilaliah (diberi gelar Ummul Fadhal, karena al-Fadhal adalah anak tertua dari keluarga Abbas). Kata-kata: 'Dia tidak ikut bersama ayahnya dalam menganut agama kaumnya,' adalah perkataan pengarang berdasarkan pengamatannya sebab Abbas masuk Islam setelah terjadinya Perang Badar. Namun pendapat ini masih dipertikaikan oleh para ulama. Yang benar adalah bahwa Abbas berhijrah pada awal tahun penaklukan Kota Mekah. Dia datang bersama Nabi saw., lalu ikut serta dalam penaklukkan tersebut." Wallahu a'lam.

3.         Wanita yang Mengajak Kaumnya Beriman
Imran bin Hushain berkata bahwa mereka pernah bersama Nabi saw. dalam suatu perjalanan. Mereka terus melanjutkan perjalanan sampai malam hari. Setelah mendekati subuh mereka kelelahan dan istirahat. Mereka tertidur lelap sampai matahari sudah naik. Orang yang pertama kali bangun dari tidurnya adalah Abu Bakar. Biasanya tidak ada yang berani membangunkan Rasulullah saw. dari tidurnya sampai beliau bangun sendiri. Kemudian Umar terbangun dan Abu Bakar duduk di dekat kepala Rasulullah saw. Dia mengucapkan takbir dengan suara yang agak keras sehingga Rasulullah saw. terbangun. Rasulullah saw. segera turun, kemudian melakukan shalat subuh bersama kami. Salah seorang dari kaum/jamaah menghindarkan diri dan tidak ikut shalat bersama kami. Selesai shalat, Rasulullah saw. bertanya: "Hai fulan, apa yang menghalangimu sehingga tidak ikut shalat bersama kami?" Laki-laki itu menjawab: "Aku dalam keadaan junub." Lantas Rasulullah saw. menyuruhnya melakukan tayamum dengan tanah/debu yang suci. Kemudian laki-laki itu mengerjakan shalat. Setelah itu Rasulullah saw. menyuruhku menaiki tunggangan di hadapan beliau. Ketika itu kami sudah merasa haus sekali. Tiba-tiba di tengah perjalanan kami bertemu dengan seorang wanita yang kedua kakinya terjuntai di antara dua girbah (gentong dari kulit) air besar (di atas tunggangannya). Kami bertanya kepadanya: "Dimana ada air?" Dia menjawab: "Aduh, tidak ada air." Kami bertanya lagi: "Berapa jauh jarak antara keluargamu dengan air?" Dia menjawab: "Satu hari satu malam (perjalanan)." Kami berkata: "Kalau begitu, pergilah temui Rasulullah saw.!" Wanita itu bertanya: "Apa itu Rasulullah?" Karena susah untuk menjelaskannya, akhirnya wanita itu kami bawa menghadap Rasulullah saw. Ketika ditanya oleh Nabi saw. jawabannya sama seperti apa yang dia katakan kepada kami sebelumnya. Cuma saja dia menambahkan bahwa dia menanggung beberapa anak yatim yang masih kecil-kecil. Lalu Nabi saw. memerintahkan untuk mengambil kedua girbah airnya yang masih kosong, kemudian mengusap mulut kedua girbah air tersebut. Akhirnya kami yang kehausan berjumlah empat puluh orang bisa minum sepuas-puasaya. Bahkan semua girbah dan bejana yang ada kami isi penuh dengan air. Hanya unta yang tidak kami beri minum. Sedangkan girbah-girbah air tersebut seakan mau meledak karena kepenuhan. Kemudian Rasulullah saw. berkata: "Kemarikanlah apa yang ada pada kalian." Akhirnya terkumpullah untuk wanita itu beberapa potong roti dan kurma hingga bisa dia bawa kepada keluarganya. Wanita itu bercerita (kepada kaumnya): "Aku bertemu dengan orang yang paling hebat sihirnya, atau dia itu adalah seorang nabi sebagaimana yang mereka katakan." Lalu Allah memberi petunjuk (hidayah) kepada kaum itu dengan (perantara) wanita tersebut. Akhirnya wanita itu dan kaumnya masuk Islam." Dalam satu riwayat7 disebutkan: "Adalah kaum muslimin, setelah peristiwa itu, menyerang orang-orang musyrik yang ada di sekitarnya, tetapi mereka tidak mengenai/menyerang kaum dari mana wanita itu berasal. Pada suatu hari, wanita itu berkata kepada kaumnya: "Saya tidak melihat kaum itu meninggalkan kalian dengan sengaja. Maka apakah kalian mau masuk Islam?" Lalu mereka mentaatinya, kemudian mereka masuk Islam." (HR Bukhari dan Muslim)

B.         HAK WANITA MENDAPATKAN PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN (SAMPAI KE TINGKAT YANG BISA MEMBANTUNYA MENUNAIKAN TANGGUNG JAWAB)

Aisyah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda:

"Barang siapa yang diuji dalam urusan anak-anak perempuan ini, lalu dia berbuat ihsan (baik) kepada mereka, maka mereka akan menjadi tirai baginya dari neraka." (HR Bukhari dan Muslim)

Perbuatan ihsan yang mana yang lebih besar nilainya untuk anak-anak wanita dibandingkan dengan ihsan mengajar dan mendidik mereka?

Abu Burdah, dari ayahnya, berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda:

"Barangsiapa yang mempunyai budak perempuan, lalu dia mengajarnya dengan baik dan mendidiknya dengan baik kemudian memerdekakannya dan mengawininya, maka baginya dua ganjaran ..." (HR Bukhari)

Jika seorang muslim dihimbau untuk mengajar dan mendidik budak perempuannya dengan baik, maka mengajar dan mendidik putrinya sendiri dengan baik tentu lebih wajib dan lebih utama. Sebaik-baik hal yang dijadikan bekal hidup adalah akhlak yang baik dan ilmu yang bermanfaat. Dari waktu ke waktu, jika akhlak yang baik sudah merupakan sesuatu yang tetap dan baku, dikatakan bahwa ilmu yang bermanfaat akan mengalami perbedaan jenis dan kadarnya.

Ibnu Juraij, dari Atha dan dari Jabir bin Abdullah, berkata: "Nabi saw. berdiri pada hari raya Fitri, lalu shalat. Dimulai dengan shalat, setelah itu baru khotbah. Selesai berkhotbah beliau turun, kemudian mendatangi jamaah wanita. Sambil bersandar pada tangan Bilal, beliau menyampaikan nasihat kepada kaum wanita. Sementara Bilal menggelar/membentangkan kainnya, lantas kaum wanita menjatuhkan sedekah mereka ke atas kain tersebut. Menurut satu riwayat11 dari Ibnu Abbas, beliau (Nabi saw.) merasa belum memperdengarkan kepada kaum wanita (nasihat yang beliau sampaikan), maka beliau pergi kepada kaum wanita untuk memberi mereka nasihat dan menyuruh mereka bersedekah. Ibnu Juraij berkata: "Apakah seorang imam (pada masa sekarang ini) berhak melakukan yang demikian itu dalam memberikan peringatan kepada kaum wanita?" Atha berkata: "Hal itu adalah hak mereka. Jadi mengapa mereka tidak boleh melakukannya?" (HR Bukhari)

Ketika Rasulullah saw. merasa bahwa dirinya belum memperdengarkan (nasihat yang beliau sampaikan) kepada kaum wanita --mengingat banyaknya jamaah yang hadir, sementara shaf kaum wanita berada di belakang shaf kaum laki-laki-- lalu beliau mendatangi kaum wanita untuk memberikan nasihat kepada mereka guna menunaikan hak mereka dalam bidang pendidikan dan pengajaran. Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada Atha yang berpendapat mengenai wajibnya memberi peringatan dan mengajar kaum wanita serta menentang kelalaian tokoh-tokoh pada zamannya dalam menunaikan kewajiban ini.

Di samping nash-nash ini, yang menegaskan hak-hak wanita mengenai pendidikan dan pengajaran agar wanita mampu melaksanakan tanggung jawabnya dengan baik, masih ada kaidah ushul fiqih yang mengatakan yang artinya: "Suatu kewajiban yang tidak akan sempurna kecuali dengan sesuatu perkara, maka perkara itu wajib kecuali dengannya, maka perkara tersebut (hukumnya juga) wajib." Dalam hal tanggung jawab ini, jika pelaksanaannya tidak wajib, tentu hukumnya sunnah/mandub.

C.         KEIKUTSERTAAN WANITA DALAM MERIWAYATKAN SUNNAH DAN MENGAJARKANNYA

Al-Hafizh adz-Dzahabi berkata: "Belum ditemukan pada wanita bahwa dia berdusta dalam (meriwayatkan) suatu hadits."13 Berkata pula asy-Syaukani: "Tidak pernah diriwayatkan dari salah seorang ulama bahwa dia menolak riwayat seorang wanita karena dia wanita. Betapa banyak sunnah yang sampai kepada umat ini diterima dari salah seorang istri sahabat. Dalam hal ini, belum seorang pun yang menyangkal, betapapun rendah pengetahuannya tentang sunnah."

Aisyah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda:

"Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu yang baru dalam urusan (agama) kita ini, yang tidak kami perintahkan, maka hal itu ditolak." (HR Bukhari dan Muslim)

Aisyah juga berkata bahwa Nabi saw. senang mendahulukan yang kanan ketika ingin memakai sandal, menata rambut, bersuci, dan dalam semua urusannya. (HR Bukhari dan Muslim) Aisyah berkata:

"Rasulullah saw. pernah mendengar suara orang bertengkar di pintu, suara mereka keras sekali. Tiba-tiba salah seorang dari mereka meminta kepada yang lain agar membebaskan sebagian utangnya dan bersikap lunak. Yang lain itu berkata: 'Demi Allah, aku tidak mau melakukan hal itu.' Maka Rasulullah saw. keluar, lalu berkata: 'Mana orang yang bersumpah berlebihan dengan nama Allah bahwa dia tidak akan berbuat baik?' Orang itu berkata: 'Saya, wahai Rasulullah!' Tetapi sekarang dia boleh memilih mana yang lebih disukainya (antara pembebasan sebagian utangnya atau sikap lunak dalam berperkara)." (HR Bukhari dan Muslim)

Hafshah berkata: "Aku tidak pernah melihat Rasulullah saw. melakukan shalat sunnat dalam keadaan duduk sampai satu tahun sebelum beliau wafat. Setelah itu beliau jadi biasa melakukannya dalam posisi duduk. Beliau selalu membaca surat secara tartil, dan terkadang sampai lama sekali." (HR Muslim)

Ummu Salamah berkata bahwa Rasulull ah saw. mendengar pertengkaran di depan pintu kamar beliau. Lalu beliau keluar menemui mereka, dan berkata: "Aku hanyalah seorang manusia. Terkadang datang kepadaku orang-orang yang bersengketa. Boleh jadi sebagian dari kalian lebih pintar dari sebagian yang lain (dalam berhujjah) sehingga aku mengira dialah yang benar, lalu aku mengeluarkan keputusan yang menguntungkannya. Karena itu, barangsiapa yang aku putuskan mendapat hak orang lain, maka hal itu sebenarnya tidak lain adalah sepotong api neraka. Jadi terserah dia, mau mengambilnya atau membiarkannya." (HR Bukhari dan Muslim)

Zainab binti Jahasy bercerita bahwa Nabi saw. suatu ketika datang menemuinya dalam keadaan ketakutan, lalu berkata: "La Ilaaha Illallah! Celakalah bangsa Arab dari petaka yang telah dekat. Hari ini dinding Ya'juj dan Ma'juj terbuka sekian." Beliau membuat lingkaran dengan jari jempol dan telunjuknya. Zainab berkata: "Aku bertanya: 'Wahai Rasulullah, apakah kami akan binasa, sementara di tengah-tengah kami ada orang-orang yang saleh?' Nabi saw. menjawab: "Ya jika kemaksiatan dan kejahatan sudah banyak." (HR Bukhari dan Muslim)

Ummu Habibah berkata: "Ya Allah, bahagiakanlah aku dengan panjangnya usia suamiku, Rasulullah saw., bapakku Abu Sufyan, dan saudaraku Mu'awiyah." Mendengar itu Nabi saw. berkata: "Itu artinya kamu memohon kepada Allah tentang ajal-ajal yang sudah ditentukan, hari-hari yang sudah dihitung, dan rezeki-rezeki yang sudah dibagi. Sedikit pun tidak akan dimajukan dari waktunya dan juga tidak ditangguhkan dari waktunya. Seandainya kamu mau bermohon kepada Allah supaya Dia berkenan melindungimu dari siksa neraka, atau dari siksa kubur, niscaya hal itu lebih baik dan lebih utama." Dia berkata: "Dan aku menyebut tentang kera di hadapan Rasulullah saw." Mis'ar (salah seorang perawi) berkata: "Kelihatannya dia berkata: 'Dan babi termasuk jelmaan.' Lantas Rasulullah saw. bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak menjadikan keturunan bagi jelmaan. Kera dan babi sudah ada sebelum itu." (HR Muslim)

Juwairiyyah berkata: "Bahwa Nabi saw. pagi-pagi sekali selesai shalat subuh keluar dari tempatnya, ketika itu dia berada di tempat shalatnya. Memasuki waktu dhuha, Nabi saw. kembali, sementara dia masih tetap duduk di tempat shalatnya. Nabi saw. bertanya: 'Kamu belum juga beranjak dari tempatmu itu sejak tadi?' Juwairiyyah menjawab: 'Benar.' Nabi saw. berkata: 'Tadi aku membaca empat kalimat sebanyak tiga kali. Dan seandainya ia ditimbang dan dibandingkan dengan apa yang telah kamu katakan sejak hari ini, maka akan lebih berat timbangannya apa yang aku baca itu: yaitu Maha Suci Allah, dan dengan puji-Nya yang sebanyak jumlah makhlukNya, ridha diri-Nya, keagungan Arasy-Nya, dan sebanyak kalimat-kalimat-Nya.'" (HR Muslim)

Shafiyyah binti Huyay berkata: "Bahwa dia datang mengunjungi Rasulullah saw. yang sedang melakukan i'tikaf di masjid pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadan. Setelah berbicara secukupnya dengan Rasulullah saw., dia berdiri untuk pulang. Lalu Nabi saw. berdiri pula bersamanya untuk me-ngantarkannya, hingga ketika sampai di masjid di dekat pintu Ummu Salamah, tiba-tiba lewat dua orang laki-laki Anshar. Keduanya mengucapkan salam kepada Rasulullah saw. Lalu Nabi saw. berkata kepada keduanya: "Perlahan-lahanlah kalian. Dia ini adalah Shafiyyah binti Huyay." Mereka berkata: "Maha suci Allah, ya Rasulullah!" Dan hal itu dirasakan berat oleh mereka berdua karena mungkin dianggap curiga. Lalu Nabi saw. berkata: "Sesungguhnya setan itu mencapai diri manusia sejauh yang bisa dicapai oleh darah, dan aku khawatir bahwa setan itu melemparkan sesuatu ke dalam hatimu berdua." (HR Bukhari dan Muslim)

Maimunah berkata: "Apabila Rasulullah saw. sedang melakukan sujud, beliau merenggangkan kedua lengan beliau sampai putihnya ketiak beliau bisa dilihat dari belakang; dan apabila duduk, beliau duduk dengan penekanan di atas paha beliau yang kiri." (HR Muslim)

Asma binti Abu Bakar r.a. berkata bahwa Nabi saw. bersabda:

"Aku berada di atas telaga sehingga aku dapat melihat siapa diantara kalian yang datang kepadaku. Dan orang-orang yang dibawahku akan dihukum, lalu aku berkata: 'Wahai Tuhanhu, mereka bagian dariku dan termasuk umatku?, Lalu dijawab: 'Apakah engkau tahu apa yang mereka perbuat sesudahmu? Demi Allah, mereka kembali pada kekafiran sepeninggalmu.'" (HR Bukhari dan Muslim)

Juga dari Asma dikatakan: "Ketika terjadi gerhana bulan Kami diperintahkan memerdekakan budak." Dan menurut satu riwayat: "Nabi saw. memerintahkan orang supaya memerdekakan budak ketika terjadi gerhana matahari." (HR Bukhari)

Ummu Sulaim berkata: "Sesungguhnya Nabi saw. pernah mendatangi rumahnya, lalu tidur siang (istirahat) di rumahnya. Ummu Sulaim lalu menggelarkan selembar hamparan dari kulit, lalu Nabi saw. tidur (siang) di atasnya. Ketika itu beliau banyak sekali mengucurkan keringat. Lalu Ummu Sulaim mengumpulkannya dan mencampurnya dengan minyak wangi, kemudian memasukkannya ke dalam botol-botol kecil. Kemudian Nabi saw. bertanya: 'Ummu Sulaim, apa ini?' Ummu Sulaim menjawab: 'Keringatmu, aku campur dengan minyak wangiku.'" (HR Muslim)

Ummu Athiyyah berkata: "Aku ikut berperang bersama Rasulullah saw. sebanyak tujuh kali peperangan. Aku selalu ditempatkan di bagian belakang pasukan. Akulah yang membuat makanan untuk mereka, mengobati yang luka-luka, dan menolong yang sakit." (HR Muslim)

Zainab, istri Abdullah bin Mas'ud, berkata: "Rasulullah saw. berkata kepada kami: 'Apabila ada salah seorang dari kalian yang ingin pergi ke masjid, janganlah dia menyentuh (memakai) wewangian.'" (HR Muslim)29 Ummu Syarik berkata: "Bahwa Nabi saw. memerintahkannya membunuh cecak." (HR Bukhari dan Muslim)

Khaulah binti Hakim berkata: "Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: 'Barangsiapa singgah di suatu rumah kemudian membaca doa: "Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan makhluk-Nya, maka tidak ada sesuatu apa pun yang akan mengganggunya, sampai dia pergi dari rumah tersebut.'" (HR Muslim)

Ummu Hushain berkata: "Aku ikut bersama Rasulullah saw. sewaktu melakukan haji wada'." Ummu Hushain berkata bahwa Rasulullah berbicara (berkhotbah) panjang sekali, lalu beliau bersabda: 'Sekalipun dijadikan pemimpin atas kalian seorang budak yang cacat hidungnya --rasanya dia juga mengatakan hitam-- lalu dia menuntun kalian dengan Kitabullah, maka kalian harus mendengarkan katanya dan menaati perintahnya.' (HR Muslim)

Ummu Kaltsum binti Uqbah berkata: "Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: 'Bukanlah termasuk pendusta orang yang mendamaikan di antara manusia, lalu dia mengembangkan kebaikan atau mengatakan yang baik.'" (HR Bukhari dan Muslim) Dari Ummu Hani, dia berkata: "Aku pergi menemui Rasulullah saw. pada tahun penaklukan kota Mekah. Aku dapati beliau sedang mandi, sementara Fathimah, putri beliau, berusaha menutupi beliau dengan kain. Aku mengucapkan salam kepada beliau. Beliau bertanya: 'Siapa itu?'Aku menjawab: 'Aku Ummu Hani binti Abi Thalib.' Beliau berkata: 'Selamat datang Ummu Hani.' Setelah selesai mandi beliau berdiri, lalu melakukan shalat sebanyak delapan rakaat dengan hanya memakai sehelai kain." (HR Bukhari dan Muslim)

Fathimah binti Qais berkata: "Aku menikah dengan putranya Mughirah, seorang pemuda Quraisy terbaik. Namun dia gugur pada jihad yang pertama bersama Rasulullah saw. Ketika aku hidup menjanda, aku dilamar oleh Abdurrahman bin Auf di hadapan sekelompok sahabat Rasulullah saw. Rasulullah saw. sendiri yang melamarku untuk budaknya (cucu angkat beliau), Usamah bin Zaid, sedangkan aku pernah mendengar hadits bahwa Rasulullah saw. bersabda: 'Barangsiapa yang mencintai aku, hendaklah dia pula mencintai Usamah.' Ketika Rasulullah saw. membicarakan masalah itu padaku, aku berkata: 'Perkaraku ada di tangan engkau, maka nikahkanlah aku dengan siapa yang engkau inginkan ...'" (HR Muslim)

Ummu Hisyam binti Haritsah bin Nu'man berkata: "Aku tidak hafal surat Qaaf kecuali dari mulut Rasulullah saw. yang selalu berkhotbah dengan membacanya pada setiap hari Jum'at. Ummu Hisyam berkata lagi: 'Dapur kami dan dapur Rasulullah saw. adalah satu.'" (HR Muslim)

Ar-Rubai' binti Mu'awwidz berkata bahwa Rasulullah saw. mengutus orang-orang pada pagi hari Asyura untuk memberi tahu penduduk perkampungan kaum Anshar: "Barangsiapa yang pada pagi hari ini berbuka, maka hendaklah dia menyempurnakan (berpuasa) pada sisa harinya, dan barangsiapa yang pada pagi harinya sudah berpuasa, maka hendaklah dia meneruskan puasanya." Kami berpuasa pada hari tersebut, bahkan kami menyuruh anak-anak kami berpuasa. Kami membuatkan untuk mereka mainan yang terbuat dari bulu biri-biri yang sudah dicat. Jika ada di antara mereka yang menangis minta makan, maka kami berikan kepadanya mainan tersebut sampai tiba waktu berbuka. (HR Bukhari dan Muslim)

D.         KEIKUTSERTAAN WANITA DALAM KEGIATAN IBADAH YANG DILAKUKAN SECARA BERJAMAAH

1.           Shalat Fardu
Aisyah r.a. berkata: "Perempuan-perempuan mukmin ikut hadir bersama Rasulullah saw. untuk melaksanakan shalat subuh dengan menyelimutkan pakaian-pakaian mereka. Kemudian mereka kembali ke rumahnya setelah mengerjakan shalat, sementara tidak seorang pun yang bisa mengenali mereka karena gelapnya suasana." (HR Bukhari dan Muslim)

2.         Shalat Gerhana
Asma binti Abu Bakar r.a. berkata: "Aku datang menemui Aisyah, istri Nabi saw., pada saat terjadi gerhana matahari, sedangkan orang-orang sedang melakukan shalat, dan Aisyah juga sedang melakukan shalat. Aku bertanya: 'Mengapa orang-orang (melakukan shalat)?' Aisyah memberi isyarat dengan tangannya ke arah langit dan berkata: 'Subhanallah (Maha Suci Allah).' Aku bertanya: 'Apakah itu tanda kebesaran (ayat) Allah?' Dia memberi isyarat: 'ya.'Aku pun kemudian ikut shalat sehingga hampir saja aku pingsan (karena lamanya shalat itu). Lalu aku kucurkan air ke atas kepalaku. Setelah selesai shalat Rasulullah saw. mengucapkan puja-puji kepada Allah SWT, kemudian berkata ..." (HR Bukhari dan Muslim)

3.         Shalat Jenazah
Aisyah r.a. berkata bahwa dia berkata: "Tatkala Sa'ad bin Abi Waqqash meninggal dunia, para istri Nabi saw. menyuruh agar jenazahnya dilewatkan di dalam masjid agar mereka juga bisa menyalatinya. Lalu orang-orang melaksanakannya. Jenazah Sa'ad dihentikan pada kamar-kamar para istri Nabi saw. sehingga mereka bisa menyalatinya ..." (HR Muslim)) Demikian pula, kaum wanita ikut menyalati jenazah Rasulullah saw. Al-Imam an-Nawawi berkata: "Pendapat yang sahih menurut jumhur (mayoritas) ulama adalah bahwa mereka menyalati Rasulullah saw. secara sendiri-sendiri. Artinya, masuk satu rombongan, lalu mereka shalat sendiri-sendiri. Kemudian keluar. Setelah itu masuk pula rombongan yang lain, lalu shalat seperti tadi. Sementara wanita masuk setelah kaum laki-laki selesai. Selanjutnya anak-anak."

4.          I'tikaf
Aisyah r.a., istri Nabi saw., berkata bahwa Nabi saw. melakukan i'tikaf pada sepuluh hari yang terakhir dari bulan Ramadhan sampai beliau dipanggil oleh Allah SWT. Kemudian para istri beliau tetap melakukan i'tikaf sepeninggal beliau. (HR Bukhari)

5.         Haji
Ummu Salamah r.a. berkata: "Aku mengeluh karena sakit kepada Rasulullah saw. Dan beliau bersabda: 'Lakukanlah thawaf di belakang orang-orang dengan menaiki kendaraan.' Kemudian aku thawaf dan pada saat itu Rasulullah saw. tengah shalat di samping Baitullah dengan membaca surat ath-Thuur wa Kitaabin Masthur." (HR Bukhari dan Muslim)

Ummul Fadhal binti al-Harits r.a. berkata bahwa sesungguhnya ada beberapa orang yang berselisih pendapat di dekatnya pada hari Arafah mengenai apakah Nabi saw. berpuasa pada hari itu. Sebagian mereka mengatakan bahwa beliau berpuasa, sementara yang sebagian lagi mengatakan bahwa beliau tidak berpuasa. Akhirnya aku kirimkan semangkuk susu kepada Nabi saw. yang sedang melakukan wukuf di atas untanya, dan beliau meminumnya. (HR Bukhari dan Muslim)

Yahya bin Hushain, dari neneknya, Ummu al-Hushain r.a., berkata: "Aku pernah mendengar nenekku mengatakan: 'Aku ikut bersama Rasulullah saw. sewaktu melakukan haji wada. Aku melihat beliau ketika melontar jumrah Aqabah lalu beliau pergi ...'" (HR Muslim)

E.          KEIKUTSERTAAN WANITA DALAM PERAYAAN UMUM

Pesta Perkawinan

Anas r.a. berkata: "Nabi saw. melihat beberapa orang perempuan dan anak-anak datang dari suatu pesta perkawinan, lalu beliau memaksakan diri berdiri dan berkata: 'Ya Allah, kalian termasuk orang-orang yang paling aku senangi.' Ucapan tersebut beliau ucapkan sebanyak tiga kali." (HR Bukhari dan Muslim)

Sahal r.a. berkata: "Ketika Abu Usaid as-Sa'idiy menjadi pengantin, dia mengundang Nabi saw. beserta sahabat-sahabat beliau. Tidak ada yang membuat makanan dan menghidangkannya kepada mereka selain istrinya, Ummu Usaid. Dia telah merendam beberapa biji kurma dalam satu bejana yang terbuat dan batu pada malam harinya. Setelah Nabi saw. selesai makan, Ummu Usaid mengaduk kurma tersebut hingga hancur, lalu menuangkannya khusus untuk Nabi saw. sebagai penghormatan bagi beliau." (HR Bukhari dan Muslim)

F.          KEIKUTSERTAAN WANITA DALAM MELAYANI MASYARAKAT (DENGAN MENGIKUTI BERBAGAI MACAM KEGIATAN SOSIAL)

1.           Bekerjasama dalam Perayaan
Abdul Wahid bin Aiman berkata: "Ayahku bercerita padaku, katanya: 'Suatu hari aku menemui Aisyah r.a.. Ketika itu dia memakai baju yang terbuat dari katun, harganya lima dirham. Dia berkata: 'Coba arahkan pandanganmu kepada pembantu perempuanku itu, bagaimana dia merasa menolak memakai pakaian itu di rumah. Pada zaman Rasulullah saw. dahulu baju ini sering sekali dipinjam oleh wanita-wanita Madinah untuk digunakan berdandan."" (HR Bukhari)

2.         Menyediakan Tempat dan Makanan bagi Para Tamu
Fathimah binti Qais berkata: "... Dan Ummu Syauraik adalah seorang wanita kaya kaum Anshar. Dia membelanjakan hartanya banyak sekali untuk kepentingan agama Allah, dan rumahnya sering sekali disinggahi oleh para tamu ..." (HR Muslim)

3.         Berkiprah dalam Pelayanan Masyarakat
Ummul Ala berkata: "... lalu Utsman bin Mazh'un sakit di rumah kami dan aku merawatnya hingga dia meninggal dunia." (HR Bukhari)

G.         KEIKUTSERTAAN WANITA DALAM MENJAGA MASYARAKAT DAN MELURUSKAN JALANNYA (DENGAN MENGIKUTI KEGIATAN POLITIK)

1.           Meninggalkan Kampung Halaman untuk Menjauhkan Diri dari Masyarakat Kafir
Marwan dan Miswar bin Makhramah berkata: "Pada suatu hari datanglah berhijrah beberapa orang wanita mukminat dan Ummu Kaltsum binti Uqbah bin Abi Mu'ith di antara orang-orang yang pergi kepada Rasulullah saw. pada saat itu. Ketika itu, dia sudah menjadi gadis dewasa. Maka datanglah keluarganya untuk meminta kepada Nabi saw. agar beliau mengembalikan Ummu Kaltsum kepada mereka. Tetapi Nabi saw. menolak mengembalikannya kepada mereka ..." (HR Bukhari)

2.         Usaha Memilih Pengganti Penguasa (untuk menjaga keamanan negara pada saat negara mengalami krisis)
Ibnu Umar berkata: "Aku pergi menemui Hafshah. Dia berkata kepadaku: 'Apakah kamu sudah tahu bahwa bapakmu tidak menunjuk seseorang untuk menjadi khalifah?'Aku jawab: 'Memang, dan rasanya dia tidak mungkin melakukan hal itu.' Hafshah berkata: 'Tetapi dia harus melakukannya.' Ibnu Umar berkata: 'Lalu aku bersumpah bahwa aku akan membicarakan hal itu kepada bapakku ...'" (HR Muslim)

3.         Menentang Penguasa yang Zalim
Abu Naufal berkata: "... setelah terbunuhnya Abdullah bin Zubair, al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi pergi menemui Asma binti Abu Bakar, lalu berkata: 'Bagaimana pendapatmu mengenai apa yang telah aku lakukan terhadap musuh Allah itu?' Asma berkata: 'Aku berpendapat bahwa kamu telah merusak dunianya, sementara dia telah merusak akhiratmu ... dan bahwasanya Rasulullah saw. pernah menceritakan kepada kami bahwa di antara kaum Tsaqif itu ada seorang pembohong dan seorang perusak (tirani). Pembohong itu sudah kita lihat, sedangkan perusak (tirani), aku kira kamulah orangnya.' Abu Naufal berkata: 'Mendengar itu, al-Hajjaj berdiri meninggalkan Asma tanpa melanjutkan lagi dialognya.'" (HR Muslim)

H.         KEIKUTSERTAAN WANITA DALAM ANGKATAN BERSENJATA (DENGAN MENGlKUTI KEGIATAN YANG SESUAI DENGAN KODRATNYA)
1.           Bekerja dalam Bidang Konsumsi, Kesehatan, dan Transportasi
Ruba'i binti Mu'awwidz berkata: "Kami pernah ikut berperang bersama Rasulullah saw. Kami bertugas memberi minum pasukan dan melayani mereka serta memulangkan orang-orang yang terbunuh dan terluka ke Madinah." (HR Bukhari)
2.         Bekerja di Bagian Belakang Garis Pertempuran dalam Bidang Konsumsi dan Perawatan
Ummu Athiyyah al-Anshariyyah berkata: "Aku ikut berperang bersama Rasulullah sebanyak tujuh kali peperangan. Aku selalu ditempatkan di bagian belakang pasukan. Akulah yang membuatkan makanan untuk mereka, mengobati yang luka-luka, dan membantu yang sakit." (HR Muslim)

I.           KEIKUTSERTAAN WANITA DALAM KEGIATAN PROFESI (YANG TIDAK BERTENTANGAN DENGAN TANGGUNG JAWAB KELUARGA)
1.           Bekerja dalam Bidang Pertanian
Jabir bin Abdullah berkata: "Bibiku dicerai dan dia bermaksud hendak mengambil buah kurma pada masa 'iddahnya. Namun, ada seorang laki-laki menghardiknya agar jangan keluar dan rumahnya. Lalu bibiku pergi menemui Rasulullah saw. (untuk menanyakan masalah). Nabi saw. berkata: 'Tidak apa-apa, potonglah buah kurmamu. Barangkali dengan begitu kamu bisa bersedekah atau melakukan sesuatu kebajikan.'" (HR Muslim)
2.         Bekerja dalam Bidang Peternakan
Sa'ad bin Mu'adz berkata bahwa seorang budak perempuan milik Ka'ab bin Malik pada suatu hari menggembalakan kambing di daerah Sal'i (kawasan perbukitan di Madinah). Tiba-tiba ada seekor kambing; yang mau mati. Lalu budak perempuan itu mengambil pecahan batu, kemudian menyembelih kambing tersebut dengan pecahan batu itu. Ketika hal itu ditanyakan kepada Nabi saw., beliau menjawab: "Makan saja kambing itu." (HR Bukhari)
3.         Bekerja dalam Bidang Perawatan
Aisyah r.a. berkata: "Sa'ad terluka pada saat Perang Khandaq... Lantas Nabi saw. mendirikan tenda dalam masjid, agar beliau bisa menjenguk Sa'ad dari dekat ..." (HR Bukhari dan Muslim)
Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: "... dan Rasulullah saw. menempatkan Sa'ad di tenda Rufaidah di samping masjid beliau. Rufaidah adalah seorang wanita yang sudah biasa merawat orang-orang yang terluka. Lalu Nabi saw. berkata: 'Tempatkanlah Sa'ad di tenda Rufaidah agar aku dekat menjenguknya.'"

J.          KEDUDUKAN WANITA Dl TENGAH KELUARGA (ISTRI SALEHAH ADALAH PERHIASAN DUNIA YANG TERBAIK)

Dari Abdullah bin Umar dikatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
"Dunia itu adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah istri yang salehah ." (HR Muslim)

K.          HAK WANITA UNTUK MEMILIH PASANGAN

Dari Abu Hurairah dikatakan bahwa Nabi saw. bersabda:
"Seorang wanita janda tidak boleh dinikahkan sebelum ia dimintai pertimbangan dan seorang gadis perawan tidak boleh dinikahkan sebelum ia dimintai persetujuan." (HR Bukhari dan Muslim)

L.           TANGGUNG JAWAB SUAMI DAN ISTRI DALAM KELUARGA

1.           Tanggung Jawab Laki-laki
Pertama, memimpin keluarga. Dari Ibnu Umar dikatakan bahwa Nabi saw. bersabda: "... dan seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya, dan dia bertanggung jawab ..." (HR Bukhari dan Muslim)
Kedua, memberi nafkah keluarga. Jabir berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Dan kewajiban kalian (suami-suami) memberi mereka (istri-istri) makan dan pakaian menurut yang wajar (ma'ruf)." (HR Bukhari dan Muslim)

2.         Tanggung Jawab Wanita
Pertama, memelihara dan mendidik anak-anak. Dari Ibnu Umar, dikatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: "... dan wanita/istri adalah pemimpin atas penghuni rumah suaminya dan anaknya, dan dia bertanggung jawab terhadap mereka." (HR Bukhari dan Muslim)
Kedua, mengatur urusan rumah tangga. Dari Ibnu Umar dikatakan bahwa Rasulullah saw. bersabda: "... dan wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya, dan dia harus bertanggung jawab." (HR Bukhari dan Muslim)

M.         KERJASAMA SUAMI DENGAN ISTRI (AGAR TANGGUNG JAWAB TERTUNAIKAN)

1.           Kerjasama dalam Memimpin (melalui introspeksi dan musyawarah)
Umar ibnul Khattab berkata: "Demi Allah, pada zaman jahiliah kami menganggap wanita sesuatu yang tidak berarti sama sekali sampai turun ayat Allah mengenai wanita dan memberinya bagian khusus. Tetapi pada suatu hari, ketika aku sedang berintrospeksi, tiba-tiba istriku berkata kepadaku: 'Cobalah kamu lakukan begini dan begini.'Aku lalu bertanya kepadanya dengan nada heran: 'Mengapa kamu menghalangi apa yang aku kehendaki?' Istriku berkata: 'Heran aku terhadap kamu ini, wahai ibnul Khattab. Kamu tidak mau dikoreksi, sedangkan putrimu (Hafshah) telah membuat ulah kepada Rasulullah saw. sehingga sehari penuh beliau murung.'" (HR Bukhari dan Muslim)

Umar ibnul Khattab berkata: "Kami orang-orang Quraisy sudah terbiasa menguasai wanita. Tetapi tatkala tiba di Madinah, kami malah mendapatkan orang-orang Anshar dikuasai oleh wanita mereka. Maka sejak itu wanita-wanita kami mulai meniru etika wanita-wanita Anshar tersebut. Karena itu aku marah-marah pada istriku. Tetapi dia malah membantahku. Hal itu tentu saja tidak bisa aku terima. Namun dia malah membela diri dengan mengatakan: 'Mengapa kamu tidak bisa menerima jika aku membantahmu? Demi Allah, istri-istri Nabi saja pernah membantah beliau. Bahkan ada salah seorang dari mereka pernah mendiamkan (tidak berbicara dengan) beliau selama sehari semalam sehingga aku takut karenanya.'" (HR Bukhari dan Muslim)

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: "Dari hadits tersebut dapat diambil pelajaran bahwa terlalu keras terhadap istri-istri bukanlah sikap yang terpuji. Sebab, Nabi saw. sendiri meniru sikap orang-orang Anshar dalam memperlakukan wanita mereka dan menanggalkan sikap kaum beliau sendiri."

2.         Kerjasama dalam Memberi Nafkah
Abu Sa'id al-Khuduri berkata bahwa Nabi saw. bersabda kepada Zainab, istri Abdullah bin Mas'ud: "Suamimu dan anakmu adalah lebih berhak untuk kamu berikan sedekahmu kepada mereka." (HR Bukhari)

3.         Kerjasama dalam Mengasuh dan Mendidik Anak anak
Abdullah bin Umar ibnul Ash bercerita bahwa Nabi saw. bersabda kepadanya: "Dan bahwa sesungguhnya anakmu mempunyai hak atasmu." (HR Muslim)

4.          Kerjasama dalam Menangani Urusan Rumah Tangga
Dari al-Aswad, dia berkata: "Aku bertanya kepada Aisyah mengenai apa yang dilakukan oleh Nabi saw. di rumah beliau. Aisyah mengatakan: 'Beliau biasanya suka membantu urusan keluarganya. Lalu bila waktu shalat tiba, beliau pergi untuk mengerjakan shalat.'" (HR Bukhari)

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: "Di dalam hadits Aisyah lainnya yang dikeluarkan oleh Ahmad dan Ibnu Sa'ad serta disahihkan oleh Ibnu Hibban, Aisyah berkata: 'Beliau (Nabi saw.) yang menjahit kainnya, menjahit sepatunya, dan mengerjakan apa yang biasa dikerjakan oleh kaum laki-laki di rumah mereka."

5.         Hak Wanita Meminta Cerai kepada Suami
Dari Ibnu Abbas, dia berkata: "Istri Tsabit bin Qais datang kepada Nabi saw., lalu berkata: 'Wahai Rasulullah, aku tidak mencela Tsabit mengenai agama atau akhlaknya. Akan tetapi, aku khawatir akan berbuat kekufuran (karena kurang menyukainya).' Rasulullah saw. bertanya: 'Lalu, apakah kamu bersedia mengembalikan kebunnya?' Wanita itu menjawab: 'Ya.' Lantas dia mengembalikan kebunnya kepada Tsabit dan Nabi saw. menyuruh Tsabit untuk menceraikan istrinya." (HR Bukhari)

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata: "Dalam hadits tersebut terdapat beberapa pelajaran, di antaranya bahwa apabila keretakan rumah tangga terjadi dari pihak perempuan saja, maka diperbolehkan baginya mengajukan khulu dan membayar fidyah. Selain itu, tidak bahwa disyaratkan keretakan itu terjadi pada kedua belah pihak. Hal itu diperbolehkan agama apabila si istri sudah tidak suka lagi bergaul dengan suaminya, meskipun si suami tidak membencinya, dan tidak melihat adanya sesuatu hal yang mengharuskannya untuk menceraikan istrinya."78 Ditambahkan lagi: "Jika perceraian itu tidak akan menimbulkan mudharat bagi istrinya."

Sementara itu, al-Qadhi Ibnu Rusyd berkata: "Mengingat di tangan laki-laki ada hak talak bila dia sudah tidak menyenangi istrinya lagi, maka di tangan perempuan pun ada hak khulu bila dia sudah tidak menyenangi suaminya lagi."

N.         KEMULIAAN ALLAH UNTUK WANITA

1.           Kemuliaan Allah untuk Wanita Sebagai Istri
a. Khadijah binti Khuwailid
Abu Hurairah r.a. berkata: "Jibril datang kepada Nabi saw., lalu berkata: Wahai Rasulullah, ini adalah Khadijah. Jika ia datang kepadamu, maka ucapkanlah salam atasnya dan Tuhannya dan dariku ..." (HR Bukhari dan Muslim)
b. Aisyah binti Abu Bakar
Aisyah r.a. berkata: "Rasulullah saw. berkata: 'Wahai Aisyah, ini Jibril mengucapkan salam kepadamu.'" (HR Muslim)

2.         Kemuliaan Allah kepada Fathimah binti Rasulullah saw. sebagai Anak Perempuan
Aisyah berkata bahwa Nabi saw. bersabda kepada Fathimah: "Apakah kamu tidak suka bila kamu menjadi pemimpin wanita-wanita penghuni surga atau wanita-wanita mukmin?" (HR Bukhari)

O.         KEMULIAAN YANG DIBERIKAN RASULULLAH SAW. KEPADA WANITA

1.           Ibunda Nabi saw.
Abu Hurairah r.a. berkata: "Rasulullah saw. pernah berziarah ke kuburan ibunya. Beliau menangis sehingga membuat orang yang di sekeliling beliau juga turut menangis, lalu beliau berkata: 'Aku memohon izin kepada Tuhanku untuk memintakan ampun bagi ibuku, tapi Dia tidak memberiku izin. Dan ketika aku memohon izin kepada-Nya untuk berziarah ke kuburan ibuku Dia memberiku izin. Karena itu, berziarahlah kalian ke kuburan, sebab hal itu bisa mengingatkan kepada kematian.'" (HR Muslim)

2.         Istri Nabi saw.
Aisyah r.a. berkata: "Saya tidak pernah cemburu terhadap salah seorang dari para istri Nabi saw. sebagaimana cemburuku terhadap Khadijah. Saya tidak pernah melihatnya, tetapi Nabi saw. sering sekali menyebut-nyebut namanya. Terkadang beliau menyembelih kambing, lalu memotong-motongnya menjadi beberapa bagian, kemudian mengirimkannya kepada teman-teman Khadijah. Terkadang aku berkata kepada beliau: 'Seolah-olah di dunia ini tidak ada wanita selain Khadijah.' Beliau menjawab: 'Khadijah itu adalah seorang wanita yang utama, bijaksana, dan darinya aku dikaruniai anak.'" (HR Bukhari dan Muslim)

3.         Putri Nabi saw.
Miswar bin Makhramah berkata bahwa Nabi saw. bersabda: "Fathimah itu adalah bagian dari diriku. Barangsiapa yang menjadikannya marah, berarti dia menjadikan aku marah." (HR Bukhari dan Muslim)

Aisyah r.a. berkata: "... lalu Fathimah datang... tatkala Rasulullah saw. melihatnya beliau menyambutnya seraya berkata: 'Selamat datang putriku.' Kemudian beliau menyuruhnya duduk di samping kanan atau di samping kiri beliau ..." (HR Bukhari dan Muslim)

4.          Cucu Wanita Nabi saw.
Abu Qatadah al-Anshari berkata bahwa Rasulullah saw. pernah melakukan shalat sambil menggendong Umamah binti Zainab binti Rasulullah saw. Menurut keterangan Abul 'Ash bin Rabi'ah bin Abdi Syams, jika Rasulullah saw. sujud, Umamah diletakkannya, dan jika beliau berdiri, Umamah digendongnya. (HR Bukhari dan Muslim)

Benar sekali apayang dikatakan oleh ulama besar al-Fakhani: "Tampaknya, rahasia mengapa Rasulullah saw. menggendong Umamah dalam shalat adalah untuk mengubah kebiasaan dan tradisi orang Arab yang tidak suka pada anak perempuan dan tidak mau menggendongnya. Lalu Nabi saw. meninggalkan kebiasaan mereka meskipun dalam shalat untuk lebih tegas menentang kebiasaan mereka. Keterangan dengan perbuatan lebih kuat daripada keterangan dengan perkataan."

5.         Ibu Pengasuh Nabi saw.
Anas berkata bahwa seseorang pernah menyerahkan kepada Nabi saw. hasil dari beberapa batang pohon kurma miliknya, sampai Bani Quraizhah dan Bani Nadhir berhasil ditaklukkan. Setelah itu keluargaku menyuruhku menemui Nabi saw. guna meminta apa yang pernah mereka berikan kepada beliau atau sebagiannya. Sementara Nabi saw. sendiri telah memberikan apa yang beliau terima itu kepada Ummu Aiman (pengasuh beliau). Lalu Ummu Aiman datang. Dia meletakkan kain di leherku seraya berkata: "Tidak, demi yang tidak ada tuhan selain-Nya, bagaimana mungkin beliau memberikannya kepadamu, kalau semua itu sudah beliau berikan kepadaku." Nabi saw. berusaha membujuk Ummu Aiman: "Untukmu sebanyak ini." Ummu Aiman tetap ngotot dan berkata: "Demi Allah, tidak bisa." Sehingga Nabi saw. memberikan apa yang beliau janjikan --saya kira-- sepuluh kali lipat." (HR Bukhari dan Muslim)

Kemuliaan yang diberikan Rasulullah saw. kepada Ummu Aiman mengingatkan kita pada kemuliaan yang beliau berikan kepada wanita yang pernah menyusukan beliau, yaitu Halimah as-Sa'diyah r.a.. Abu Daud mengeluarkan satu riwayat yang bersumber dari Abu Thufail bahwa dia berkata: "Aku pernah melihat Nabi saw. sedang membagi-bagikan daging di Ji'ranah. Tiba-tiba datang seorang perempuan. Dia langsung mendekati Nabi saw. Nabi saw. membentangkan semiri/selendang beliau untuk wanita itu. Lantas wanita itu duduk di atasnya. Aku bertanya: 'Siapa wanita itu?' Para sahabat menjawab: 'Dia ini adalah ibu yang telah menyusui beliau.'"

6.         Kaum Wanita Secara Umum
Anas r.a. berkata: "Nabi saw. melihat beberapa orang perempuan dan anak-anak datang dari suatu pesta perkawinan, lalu beliau berdiri menyambut kedatangan mereka. Beliau berkata: 'YaAllah, kalian adalah termasuk golongan manusia yang paling aku senangi.' Ucapan tersebut beliau katakan sebanyak tiga kali." (HR Bukhari dan Muslim)

Anas bin Malik berkata: "Seorang wanita kaum Anshar datang menemui Rasulullah saw. sambil menggendong bayinya. Rasulullah saw. berbincang-bincang dengannya, kemudian berkata: 'Demi yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, kalian adalah orang-orang yang yang paling aku cintai.' Beliau mengulangi ucapannya dua kali." (HR Bukhari dan Muslim)

Abu Hurairah berkata bahwa sesungguhnya seorang laki-laki hitam atau seorang wanita hitam pernah menjadi petugas kebersihan masjid. Menurut riwayat Bukhari: "Aku tidak melihatnya selain wanita." Kemudian petugas kebersihan masjid itu meninggal. Pada suatu hari Nabi saw. menanyakannya. Para sahabat menjawab: "Dia sudah meninggal." Nabi saw. berkata: "Mengapa tidak kalian beritahukan kepadaku perihal meninggalkanya? Jika begitu, tunjukkanlah kepadaku sekarang di mana kuburannya. Setelah diberitahu, Nabi saw. mendatangi kuburan petugas kebersihan itu dan melakukan shalat di situ." (HR Bukhari dan Muslim)

P.         ISLAM MENGANJURKAN PENJAGAAN TERHADAP WANITA SEBAIK MUNGKIN

1.           Menjaga Ibu
Abu Hurairah r.a. berkata: "Seorang lelaki datang kepada Rasulullah saw., lalu berkata: 'Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak untuk aku hormati?' Beliau menjawab: 'Ibumu.' Lelaki itu kembali bertanya 'Kemudian siapa?' Nabi saw. menjawab: 'Ibumu.' Lelaki itu terus bertanya: 'Kemudian siapa?' Nabi saw. menjawab: 'Ibumu.' Sekali lagi lelaki itu bertanya: 'Kemudian siapa?' Nabi saw. menjawab: 'Kemudian bapakmu.'" (HR Bukhari dan Muslim)

2.         Menjaga Saudara Wanita
Aisyah r.a. berkata bahwa Nabi saw. bersabda: "Tidak seorang pun dari umatku yang menanggung tiga orang anak perempuan atau tiga orang saudara perempuan, lalu dia perlakukan mereka secara baik, kecuali mereka itu akan menjadi tirai pencegah baginya dari api neraka." (HR Baihaqqi)

3.         Menjaga Istri
Abu Hurairah r.a. berkata: "Rasulullah saw. bersabda: '... sampaikan oleh kalian nasihat kepada kaum wanita secara baik ...'" (HR Bukhari dan Muslim)

Hal itu diperkuat lagi dengan sabda Nabi saw. yang berbunyi: "Sebaik-baik kamu adalah sebaik-baik kamu terhadap keluarganya, dan aku adalah orang paling baik di antara kalian terhadap keluargaku." (HR Ibnu Majah)

4.          Menjaga Anak Perempuan
Urwah bin Zubair berkata bahwa Aisyah pernah bercerita kepadanya bahwa seorang wanita dengan membawa dua orang anak perempuan datang kepadanya meminta-minta. Tetapi dia tidak memiliki apa-apa selain sebiji kurma. Aisyah memberikan kurma itu kepada wanita tersebut. Lantas wanita tersebut membagi dua kurma tadi dan diberikannya kepada anak perempuannya. Setelah itu dia berdiri dan pergi. Kemudian Nabi saw. datang dan Aisyah menceritakan hal tersebut kepada beliau. Mendengar ceritaAisyah, Nabi saw. bersabda: "Barangsiapa yang menanggung dua anak perempuan, lalu berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi tirai pencegah baginya dari api neraka." (HR Bukhari)

Anas bin Malik r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Barangsiapa yang memelihara dua orang anak perempuan sampai semua balig, maka pada hari kiamat aku dan dia ...," sambil merapatkan jari-jarinya. (HR Muslim)

5.         Menjaga Budak Perempuan
Abu Burdah, dari ayahnya, berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: "Lelaki mana saja yang mempunyai budak perempuan lalu dia mengajarnya dengan baik dan mendidiknya dengan baik, kemudian memerdekakannya dan mengawininya, maka baginya dua ganjaran." (HR Bukhari)

Setelah mengetengahkan nash-nash hadits Nabi saw. yang menjelaskan beberapa karakteristik wanita muslimah, saya ingin menambahkan satu hal lagi yang tampaknya agak lucu dan aneh, yaitu tentang beberapa nash hadits yang di dalamnya disebutkan nama, rupa, dan berbagai cerita mengenai wanita. Mungkin ada pembaca yang bertanya, dan hal ini ada benarnya: "Apa hubungannya cerita ini dengan karakteristik wanita?" Saya jawab: "Maksud saya mengetengahkan nash-nash tersebut adalah untuk menanggapi pemahaman yang berkembang di kalangan sebagian umat Islam selama berabad-abad. Dalam hal ini mereka merasa sangat risih menyebut nama dan menceritakan rupa serta berbagai hal mengenai wanita. Mereka menganggap semua itu sebagai bagian dari aurat wanita yang harus ditutupi dan meyakininya bahwa hal itu bagian dari etika Islam."

Q.         MENYEBUTKAN NAMA WANITA

"... Tiba-tiba lewat dua orang laki-laki Anshar. Keduanya mengucapkan salam kepada Rasulullah saw. Lalu Nabi saw. berkata kepada kedua laki-laki itu: 'Pelan-pelan sajalah kalian. Dia ini hanyalah Shafiyyah binti Huyay.'" (HR Bukhari dan Muslim)

"Halah binti Khuwailid, saudara perempuan Khadijah, minta izin untuk menemui Rasulullah saw. Permintaan izin/salam Halah tersebut mengingatkan beliau pada salamnya Khadijah sehingga beliau agak gemetar karenanya, lalu beliau berkata: 'Ya Allah, (rupanya) Halah binti Khuwailid.'" (HR Bukhari dan Muslim)

Anas bin Malik berkata bahwa neneknya Malikah mengundang Rasulullah saw. untuk menikmati makanan yang dia buat. (HR Bukhari dan Muslim)
Tatkala Rasulullah saw. datang kepada Aisyah, beliau bertanya: "Apakah kamu memiliki sesuatu?" Aisyah menjawab: "Tidak ada, cuma saja Nasibah mengirim kembali kepada kita sebagian dari kambing yang engkau kirimkan kepadanya." (HR Muslim)
"Lalu (Bilal) berkata: '... seorang wanita Anshar dan Zainab.' Rasulullah saw. bertanya: 'Zainab yang mana?' Bilal menjawab: 'Istrinya Abdullah (bin Mas'ud).'" (HR Bukhari dan Muslim)

"... Lalu Umar masuk menemui Hafshah, sementara di samping Hafshah ada Asma. Umar bertanya: 'Siapa wanita ini?' Dia menjawab: 'Asma binti Umais.'" (HR Bukhari dan Muslim)

Ummu Salamah, istri Nabi saw., bercerita bahwa seorang wanita dari Bani Aslam bernama Subaiah masih tetap di bawah tanggungan suaminya. Kemudian suaminya wafat, sementara dia dalam keadaan hamil ... (HR Bukhari dan Muslim)

"Lalu dia (Anas bin Nadhar) memerangi mereka sehingga dia sendiri terbunuh. Pada sekujur tubuhnya ditemukan delapan puluh lebih bekas terkena pukulan pedang, tikaman, dan panah. Saudara kandung wanitanya, yaitu bibiku Rubayyi binti Nadhar, berkata: 'Aku tidak bisa mengenali saudaraku itu lagi kecuali melalui ujung jari-jemarinya.'" (HR Muslim)

"Seorang wanita dari keluarga Ahmas datang menemui Abu Bakar, namanya Zainab binti al-Muhajir." (HR Bukhari)110 "Bahwasanya Arwa binti Umais mengaku-ngaku bahwa Sa'id bin Zaid telah mengambil sebagian tanahnya." (HR Bukhari dan Muslim)

Yang lebih jauh lagi dari sekadar menyebutkan nama seorang wanita adalah menisbahkan anak laki-laki kadang-kadang kepada ibunya, bukan kepada bapaknya, dan hal itu pernah dilakukan oleh Rasulullah saw. dan para sahabat beliau yang mulia. "Rasulullah saw. tidak menyalatkan (jenazah) Suhail ibnul Baidha kecuali di masjid." (HR Muslim)

Abdurrahman bin Auf berkata: "Aku berada dalam satu barisan ketika Perang Badar. Ketika menoleh, tiba-tiba aku lihat di sebelah kanan dan kiriku ada dua pemuda yang masih muda usianya, seolah-olah aku tidak aman berada di tempat mereka berdua. Karena salah seorang dari mereka bertanya kepadaku: 'Wahai paman, tolong beritahu aku yang mana Abu jahal!' Aku berkata: 'Wahai keponakanku, apa yang akan kamu lakukan terhadapnya?' Dia menjawab: 'Aku telah berjanji kepada Allah, jika aku melihatnya, aku akan membunuhnya atau aku mati melawannya.' Temannya yang satu lagi juga berkata seperti itu kepadaku. Abdurrahman berkata: 'Aku merasa tidak tenang karena berada di antara kedua anak itu. Lalu aku tunjukkan kepada mereka keberadaan Abu Jahal. Mereka segera memburu Abu Jahal bagaikan dua ekor elang sehingga mereka berhasil memukul Abu Jahal. Keduanya adalah putra Afra.'" (HR Bukhari)

Ibnu Mas'ud berkata: "Apakah kamu mengira keluarga putra Ummu Abdi adalah orang-orang yang lalai?" (HR Muslim)114 "Rasulullah saw. berkata: "Pindahlah kamu ke rumah putra Ummu Maktum." (HR Muslim)

Abdullah bin Malik bin Buhainah r.a. berkata bahwa Nabi saw., apabila mengerjakan shalat, melebarkan kedua tangannya. (HR Bukhari dan Muslim)116 Ibnu Daqiqil 'Id berkata: "Abdullah bin Malik bin Buhainah, dan Buhainah itu adalah ibunya, sementara bapaknya bernama Malik ibnul Qasyab. Abdullah adalah salah seorang yang dinisbahkan kepada ibunya, sama seperti Muhammad bin Hubaib al-Lughawi, pengarang buku Al-Muhabbar fil Mu'talaf wal Mukhtalaf fi Qaba'ilil 'Arab. Hubaib itu adalah ibunya, bukan bapaknya. Yang lebih aneh lagi dalam pengamatanku mengenai masalah ini nama Muhammad bin Syaraf al-Qairawani adalah seorang sastrawan dan penyair terkenal. Dia dinisbahkan kepada ibunya, Syaraf. Banyak sekali perbandingannya. Kalau Anda telusuri akan banyak sekali Anda temukan hal seperti ini.

Imam an-Nawawi dalam buku syarahnya terhadap Shahih Muslim berkata: "Ismail menceritakan kepada kami dan Ismail adalah putra Aliyyah. Aliyyah adalah ibu Ismail, sementara bapaknya adalah Ibrahim bin Sahm as-Asadiy ..." Syu'bah berkata: "Ismail bin Aliyyah adalah aroma kalangan fuqaha dan pemimpin kalangan muhadditsin."

R.         MENYEBUTKAN RUPA ATAU BENTUK WANITA

Rasulullah saw. bersabda: "Ibrahim a.s hijrah bersama Sarah. Dia memasuki suatu negeri yang dikuasai oleh seorang raja atau tirani. Lalu tersebar berita bahwa Ibrahim datang bersama seorang wanita yang paling cantik." (HR Bukhari dan Muslim)

Abu Qilabah, dari Anas r.a., berkata bahwa Nabi saw. pernah melakukan suatu perjalanan. Yang menjadi penuntun kendaraan mereka (beberapa orang istri Nabi saw. dan Ummu Sulaim) adalah seorang budak yang bernama Anjasyah. Nabi saw. berkata kepada Anjasyah: "Wahai Anjasyah, pelan-pelan saja membawa botol-botol kaca ini (maksudnya kaum wanita)." Menurut satu riwayat120 Abu Qilabah berkata: "Rasulullah saw. mengucapkan satu perkataan yang andaikata diucapkan oleh sebagian kalian, tentulah kalian mencelanya karena mengucapkan perkataan tersebut." (HR Bukhari dan Muslim)

Syekh Ibnu Badis berkata: "Abu Qilabah (seorang imam terkenal dari kalangan fuqaha tabi'in) tahu sikap keras dan kaku orang-orang yang kepada mereka beliau ceritakan hadits ini. Sikap keras dan kaku tersebut membuat mereka menjauh dari mengucapkan kata-kata yang mensifati kaum wanita. Sikap mereka ini dijawab oleh Abu Qilabah dengan kata-kata yang diucapkan oleh Nabi saw. Ketika kalimat itu diucapkan oleh salah seorang dari mereka, tentu yang lainnya akan mencelanya. Kemudian beliau jelaskan kepada mereka bahwa kata-kata tersebut dan yang semisalnya adalah bukan karena tidak mengandung unsur keburukan, kekejian, dan tidak bermaksud jahat."

"Umar berkata kepada Hafshah: 'Janganlah kamu sampai terpedaya jika tetanggamu lebih cantik darimu.'" Dan menurut riwayat Muslim Umar berkata: "Wahai putriku, janganlah kamu sampai terpedaya oleh wanita ini (Aisyah) yang merasa kagum dengan kecantikannya." (HR Bukhari dan Muslim)

"Lalu keluar Saudah binti Zam'ah, istri Nabi saw., pada suatu malam di waktu isya. Saudah adalah seorang wanita yang tinggi." Menurut satu riwayat125: "Sangat besar," dan menurut satu riwayat lagi: "Melebihi wanita lain dalam segi besar tubuhnya." (HR Bukhari dan Muslim)

Abu Sufyan berkata kepada Rasulullah saw.: "Aku memiliki orang Arab yang paling baik dan paling cantik, yaitu Ummu Habibah binti Abu Sufyan. Aku akan mengawinkanmu dengannya." (HR Muslim)

"Kemudian Rasulullah saw. berjalan hingga sampai ke tempat kelompok wanita, lalu beliau menyampaikan nasihat kepada mereka. Tiba-tiba dari tengah-tengah mereka berdiri seorang wanita rupawan yang kedua pipinya agak hitam kemerah-merahan." (HR Muslim) "Bahwa seorang wanita hitam pernah menjadi petugas kebersihan masjid .... Kemudian Rasulullah saw. mendatangi kuburannya dan menyalatinya." (HR Bukhari dan Muslim)

"Ketika terjadi Perang Uhud ... aku melihat Aisyah binti Abu Bakar dan Ummu Sulaim. Mereka menyingsingkan kainnya sehingga terlihat olehku gelang-gelang kaki mereka." (HR Bukhari dan Muslim)130 "Tatkala kami bertemu (orang-orang musyrik pada Perang Uhud) mereka lari pontang-panting sehingga aku melihat wanita-wanita mereka berlompatan di bukit itu sambil mengangkat kain betis mereka sehingga kelihatan nyata gelang-gelang kaki mereka." (HR Bukhari)

"Dan Allah mengalahkan mereka (maksudnya penduduk Khaibar) ... Seorang tawanan wanita yang sangat cantik jatuh ke tangan Dahyah." (HR Muslim)

"Aku pernah ikut berperang di daerah Fazarah ... Begitu mereka melihat anak panah melesat ke arah mereka, mereka pun berhenti dan tidak jadi mendaki. Mereka berhasil aku ringkus dan aku giring, termasuk diantaranya seorang wanita dari Bani Fazarah yang mengenakan tutup kepala dari bahan kulit yang sudah lusuh, berikut anak gadisnya yang merupakan gadis Arab paling cantik." (HR Muslim)

"Rasulullah saw. tidak menyalatkan (jenazah) Suhail, putra si wanita putih kecuali di ruangan masjid. Al-Baidha adalah julukan untuk Da'ad binti Jahdam." (HR Muslim) "Ibnu Abbas berkata padaku: "Maukah kamu aku beritahu tentang seorang wanita yang menjadi calon ahli surga?" Aku jawab: "Tentu saja mau." Ibnu Abbas berkata: "Ini, si wanita hitam ini orangnya." (HR Bukhari dan Muslim)

"Ini ibunya az-Zubair. Dia pernah menceritakan bahwa Rasulullah saw. memperbolehkannya (maksudnya melaksanakan haji mut'ah). Karena itu temuilah dia dan tanyakanlah masalah itu langsung kepadanya. Lalu kami pergi menemuinya. Ternyata dia adalah seorang wanita yang sangat gemuk dan buta." (HR Muslim)

"Wanita yang kesebelas mengatakan: "Suamiku bernama Abu Zara. Tahukah kamu siapa Abu Zara itu? Dialah yang memenuhi telingaku dengan perhiasan dan menggemukkan lenganku. Putri Abu Zara, tahukah kamu siapa putri Abu Zara itu? Dia adalah seorang anak yang sangat patuh kepada kedua orang tuanya dan tubuhnya gempal ... Pada suatu hari Abu Zara keluar dengan membawa bekal bejana terbuat dari kulit yang sudah diisi penuh dengan susu. Dia bertemu dengan seorang wanita dengan dua anaknya yang laksana dua ekor macan kumbang. Mereka mempermainkan buah delima dari bawah pinggang ibunya tersebut (yang dimaksud dengan buah delima dalam hadits ini adalah payudara ibu kedua anak tersebut)." (HR Bukhari dan Muslim)

Semoga Allah mencurahkan rahmat-Nya atas al-Hafizh Ibnu Hajar yang berkata ketika menjelaskan hadits Ummu Zara ini: "Dalam hadits ini terdapat dalil mengenai bolehnya menyebutkan masalah kecantikan wanita kepada laki-laki, apabila wanita itu tidak dikenal. Yang tidak diperbolehkan adalah menyebutkan perihal wanita yang bersangkutan di hadapan lelaki atau menyebutkan sesuatu tentang dirinya yang tidak boleh dilihat dengan cara sengaja oleh lelaki."

S.         MENYEBUTKAN BERBAGAI KISAH NYATA WANITA

Jabir bin Abdullah berkata: "Pada suatu hari Abu Bakar meminta izin untuk menemui Rasulullah saw. Dia menjumpai beberapa orang sedang duduk di dekat pintu rumah Rasulullah saw. Belum seorang pun dari mereka yang diizinkan masuk. Jabir berkata bahwa Rasulullah saw. mengizinkan Abu Bakar masuk. Maka masuklah Abu Bakar. Kemudian datang pula Umar. Dia minta izin untuk masuk dan diberi izin. Sesampainya di dalam, Umar mendapati Rasulullah saw. sedang duduk diam membisu. Tampaknya beliau sedang bersedih. Sementara di sekeliling beliau duduk istri-istri beliau. Melihat suasana yang dingin itu, Umar bermaksud mengatakan sesuatu yang dapat membuat Nabi saw. tertawa. Umar berkata: 'Wahai Rasulullah seandainya aku lihat putri Kharijah menuntut belanja kepadaku, niscaya aku akan bangun dan mencekik lehernya.' Rasulullah saw. lalu tertawa mendengarkan kata-kata Umar itu. Kemudian beliau berkata: 'Mereka ini berada di sekitarku sebagaimana kamu lihat sendiri, juga untuk menuntut belanja kepadaku.' Abu Bakar bergegas berdiri menuju Aisyah, sementara Umar berdiri menuju Hafshah dengan niat mencekik leher putri-putri masing-masing. Keduanya berkata: 'Apakah kalian menuntut dari Rasulullah saw. sesuatu yang tidak beliau miliki?' Mereka menjawab: 'Demi Allah, kami tidak meminta dari beliau sesuatu yang tidak beliau miliki."' (HR Muslim)

Dari Sa'ad bin Abi Waqqash, dia berkata: "Pada suatu hari Umar minta izin untuk masuk kepada Rasulullah saw. Kebetulan waktu itu ada beberapa orang wanita Quraisy sedang berbicara dengan beliau dengan suara yang cukup keras, dan mereka banyak sekali mengajukan pertanyaan. Mendengar Umar minta izin masuk mereka bergegas berlari menuju balik tabir. Lalu Rasulullah saw. sambil tertawa mengizinkan Umar masuk. Melihat Rasulullah tertawa Umar berkata: 'Semoga Allah membuatmu tetap dalam keadaan senang dan gembira, wahai Rasulullah!' Rasulullah saw. berkata: 'Aku merasa heran dengan ulah wanita-wanita yang berada di sampingku tadi. Begitu mendengar suaramu, mereka bergegas menuju balik tabir.' Umar menjawab: 'Bagaimanapun juga, engkaulah sebenarnya, wahai Rasulullah saw. yang lebih pantas untuk mereka segani.' Selanjutnya Umar berkata: 'Wahai wanita-wanita yang menjadi musuh dirinya sendiri, apakah kalian segan kepadaku sementara tidak segan kepada Rasulullah saw.' Mereka menjawab: 'Ya, lantaran kamu lebih keras dan lebih kasar ketimbang Rasulullah saw.' Rasulullah saw. bersabda: 'Demi yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, tidak akan pernah setan menemuimu di satu jalan yang kamu lalui, kecuali dia pasti akan mencari jalan lain selain jalan yang kamu lalui itu.'" (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Aisyah r.a. dikatakan bahwa Rasulullah saw., jika ingin bepergian, beliau mengundi istri-istrinya. Suatu ketika yang beruntung mendapatkan undian adalah Aisyah dan Hafshah. Maka merekalah yang ikut bersama Rasulullah saw. Ketika malam tiba, Rasulullah saw. berjalan bersama Aisyah dan bercakap-cakap dengannya. Pada hari yang lain Hafshah berkata kepada Aisyah: "Maukah kamu nanti malam mengendarai untaku dan aku mengendarai untamu, dan kita saling mengawasi?" Aisyah menjawab: "Tentu saja mau." Maka Aisyah naik unta Hafshah dan Hafshah menaiki unta Aisyah. Setelah itu datang Rasulullah menuju unta Aisyah yang ketika itu ditunggangi oleh Hafshah. Setelah mengucapkan salam, Rasulullah saw. berjalan bersama. Kemudian berhenti di suatu tempat. Aisyah kehilangan jejak mereka. Mengetahui mereka berhenti di satu tempat, Aisyah merasa cemburu. Lalu dia menginjakkan kakinya di antara rerumputan liar yang harum baunya, seraya berkata: "Ya Tuhan, semoga ada kala atau ular yang menggigitku. Aku tidak kuasa mengatakan sesuatu apa pun kepadanya." (HR Bukhari dan Muslim)

Anas berkata: "Pada suatu saat Nabi saw. berada di samping beberapa orang istri beliau, salah seorang ummul mukminin mengirimkan satu piring makanan. Tiba-tiba istri yang di rumahnya Nabi saw. berada, memukul tangan pelayan yang membawa piring makanan itu sehingga piringnya jatuh dan pecah. Lalu Nabi saw. mengumpulkan pecahan piring dan makanan yang tadinya berada dalam piring yang pecah itu. Beliau berkata: 'Ibumu cemburu.' Beliau menahan pelayan tadi sampai beliau memberikan piring dari istri yang di rumahnya beliau berada. Piring yang utuh itu beliau serahkan kepada istri yang piringnya pecah dan beliau menahan piring yang sudah pecah di rumah istri beliau yang telah memecahkan piring tadi." (HR Bukhari)

Anas berkata: "Nabi saw. memiliki sembilan orang istri. Apabila beliau menggilir, maka mereka semua akan kebagian. Setiap malam mereka berkumpul di rumah istri yang akan beliau datangi. Pada suatu malam, beliau berada di rumah Aisyah, maka datanglah Zainab dan beliau mengulurkan tangannya untuk menyambutnya. Aisyah berkata: 'Ini Zainab.' Lalu Nabi saw. menahan tangannya. Beberapa saat kemudian mereka berdua bertengkar dengan suara keras dan ucapan yang kotor. Terdengar suara iqamatushashalat. Abu Bakar lewat di rumah itu dan mendengar suara mereka berdua. Abu Bakar lalu berkata: 'Keluarlah wahai Rasulullah untuk menunaikan shalat dan sumpal saja mulut mereka dengan pasir!' Rasulullah saw. lalu keluar. Aisyah merasa agak sedikit kecewa dan merasa terganggu dengan sikap ayahnya tersebut. Setelah Rasulullah saw. selesai menunaikan shalat, Abu Bakar pergi menemui Aisyah dan melontarkan kata-kata yang keras: 'Apa layak kamu melakukan ini?' (HR Muslim)

Aisyah r.a. berkata bahwa istri-istri Rasulullah saw. terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama terdiri atas Aisyah, Hafshah, dan Saudah. Sementara kelompok kedua terdiri atas Ummu Salamah dan istri-istri Rasulullah saw. yang lain. Semua kaum muslimin sudah sama-sama tahu betapa cintanya Rasulullah saw. kepada Aisyah. Apabila ada salah seorang sahabat yang mempunyai hadiah yang akan dia berikan kepada Rasulullah saw., maka biasanya dia akan menangguhkan pemberian tersebut, sampai Rasulullah saw. sedang berada di rumah Aisyah. Suatu hari ada seorang sahabat yang mengirimkan hadiah kepada Rasulullah saw. ketika beliau sedang berada di rumah Aisyah. Rupanya hal itu diketahui oleh kelompok Ummu Salamah. Mereka berkata kepada Ummu Salamah: "Kamu bicaralah kepada Rasulullah saw. supaya beliau mau menasihati para sahabatnya: 'Barangsiapa yang bermaksud memberikan hadiah kepada beliau, supaya dia berikan saja di rumah istri mana pun beliau berada.' Ummu Salamah menyampaikan kepada Rasulullah saw apa yang diusulkan oleh kelompoknya itu. Akan tetapi beliau tidak menanggapi apa yang disampaikan Ummu Salamah itu sedikit pun. Ketika hal itu disampaikan kepada mereka, mereka tidak berputus asa. Mereka mendesak supaya Ummu Salamah mencobanya lagi. Ummu Salamah menurut saja. Sekali lagi dia sampaikan usulan kelompoknya itu kepada Rasulullah saw. di saat beliau tengah berada di rumahnya. Namun Rasulullah saw. juga tidak menanggapinya sedikit pun. Kelompok Ummu Salamah masih juga belum berputus asa. Mereka tetap membujuk Ummu Salamah agar mau melakukannya sekali lagi. Dan lagi-lagi Ummu Salamah menuruti kehendak mereka. Untuk ketiga kalinya Ummu Salamah nmenyampaikan hal itu kepada Rasulullah saw. pada saat beliau berada di rumahnya. Dan kali ini rupanya Rasulullah saw. mau menanggapi. Beliau berkata kepada Ummu Salamah: 'Jangan kamu sakiti aku tentang Aisyah. Sesungguhnya wahyu tidak turun kepadaku ketika aku berada dalam kain seorang wanita (istri) kecuali Aisyah.' Seketika itulah Ummu Salamah berkata: 'Aku bertobat kepada Allah karena telah menyakitimu, wahai Rasulullah.' Kemudian anggota kelompok Ummu Salamah tersebut memanggil Fathimah putri Rasulullah saw. Mereka mengutus Fathimah supaya menyampaikan pesan kepada Rasulullah saw. yang isinya: 'Sesungguhnya istri-istrimu mendambakan supaya berlaku adil khususnya menyangkut putri Abu Bakar.' Mendengar pesan yang disampaikan putrinya itu Rasulullah saw. berkata: 'Wahai putriku, apakah kamu tidak menyenangi akan apa yang aku senangi?' Fathimah menjawab: 'Tentu saja ayah.' Fathimah lalu pulang dan menceritakan kepada mereka tanggapan Rasulullah saw. tersebut. Ketika mereka membujuk Fathimah supaya balik lagi menghadap Rasulullah saw., dia menolak. Salanjutnya mereka mendesak Zainab binti Jahasy. Meski dengan terpaksa, akhirnya Zainab mau juga menemui Rasulullah saw. dan berkata: 'Sesungguhnya istri-istrimu mendambakanmu supaya berlaku adil dalam memperlakukan putri Abu Quhafah.' Zainab mengucapkan kata-katanya itu dengan suara yang agak keras, sehingga terdengar oleh Aisyah yang kebetulan berada tidak jauh dari tempat itu. Aisyah sempat mencaci maki dalam hati. Kemudian Rasulullah saw. sejenak memandang Aisyah barangkali dia akan berbicara. Akhirnya Aisyah memang terpaksa berbicara untuk menangkis ucapan Zainab, sehingga Zainab terdiam dibuatnya. Selanjutnya Rasulullah saw. kembali memandangi Aisyah dan berkata: 'Sesungguhnya dia adalah putri Abu Bakar.'" (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Aisyah, dia berkata: "Pada suatu hari sebelas orang wanita berkumpul di satu tempat. Mereka saling sepakat dan berjanji untuk tidak akan menyembunyikan sedikit pun perihal suami mereka masing-masing. Wanita pertama mengatakan: 'Suamiku adalah ibarat unta kurus yang berada di puncak gunung. Dia tidak untuk didaki dan tidak pula gemuk, sehingga tidak ada yang berkeinginan untuk pindah kepadanya.' Wanita kedua berkata: 'Maaf, aku terpaksa tidak bisa menuturkan secara rinci mengenai keadaannya. Aku khawatir tidak bisa melakukan hal itu. Jika sampai aku lakukan hal itu, sama artinya dengan mengungkapkan selurah aibnya.' Wanita ketiga berkata: 'Suamiku berpostur tinggi. Jika aku ceritakan halnya, maka dia akan menceraikanku, dan jika aku diamkan, dia juga akan membuatku terkatung-katung.' Wanita keempat berkata: 'Suamiku laksana cuaca malam hari di wilayah Tihamah, tidak terlalu panas dan juga tidak terlalu dingin, tidak menakutkan dan juga tidak membosankan.' Wanita kelima berkata: 'Suamiku apabila sudah masuk rumah bagaikan kumbang yang lembut, pemalu, dan tidak banyak gangguannya dan apabila keluar rumah, dia ibarat singa yang garang. Dia sangat pemurah dan tidak suka menyelidiki berkurangnya uang.' Wanita keenam berkata: 'Suamiku apabila makan, maka semua makanan akan dilahapnya, dan apabila minum, maka semua minuman akan diteguknya. Apabila tidur, dia menyendiri (mengabaikan istrinya). Namun dia tidak mau memasukkan telapak tangannya, karena takut mengetahui kesudahan istrinya.' Wanita ketujuh berkata: 'Suamiku adalah orang yang emosional. Semua cacat (aib) semua orang ada pada orang itu. Namun demikian dia suka melukai kepala atau melukai tubuhmu, atau melakukan kedua-duanya sekaligus.' Wanita kedelapan berkata: 'Suamiku memiliki sentuhan khusus bagaikan sentuhan kelinci dan mempunyai aroma khusus bagaikan aroma bunga wangi.' Wanita kesembilan berkata: 'Suamiku berkedudukan tinggi, bertubuh tinggi, suka sekali menjamu tamu, dan rumahnya dekat dengan balai pertemuan.' Wanita kesepuluh berkata: 'Suamiku bernama Malik. Apa itu malik? Malik artinya memiliki kebaikan melebihi apa dapat diungkapkan. Dia banyak sekali memiliki unta, kebanyakan unta-unta itu dibiarkan saja menderum di halaman rumah (agar mudah diperah susunya oleh tamu-tamu) dan banyak dipinjam untuk angkutan. Unta-unta tersebut bila mendengar suara kecapi, mereka sudah tahu bahwa sebentar lagi akan disembelih.' Dan wanita yang kesebelas berkata: 'Suamiku bernama Abu Zara. Tahukah kamu siapa Abu Zara' itu? Dialah yang memberiku makanan-makanan berlemak sehingga aku kelihatan gemuk. Dia suka menyanjung-nyanjungku sehingga aku merasa senang. Dia tahu aku dari keluarga yang tidak mampu, namun dia mau menerimaku di tengah keluarganya yang cukup kaya. Dia tidak pernah meremehkan ucapanku. Setiap tidur aku bisa tidur pulas sampai pagi, dan aku bisa minum sampai puas. Lalu Ummu Abu Zara, tahukah kamu siapa dia? Dia memiliki simpanan bahan pokok berkarung-karung dan rumahnya sangat luas. Ibnu Abi Zara. Tahukah kamu siapa dia? Dia memiliki tempat tidur laksana irisan pelepah kurma. Dia sudah merasa kenyang dengan hanya memakan sebelah kaki seekor kambing. Putri Abu Zara. Tahukah kamu siapa dia? Ia adalah seorang yang amat patuh terhadap kedua orang tuanya. Tubuhnya gempal dan dia adalah seorang yang sangat dermawan. Pelayan putri Abu Zara. Tahukah kamu siapa dia? Dia tidak pernah menyebarluaskan berita-berita. Dia sangat jujur sekalipun mengenai soal makanan. Dan dia orang yang sangat rajin bekerja dan tidak pernah membiarkan rumahku kotor. Selanjutnya Ummu Zara mengatakan: 'Pada suatu hari Abu Zara keluar dengan membawa bekal bejana terbuat dari kulit yang sudah diisi penuh dengan susu. Dia bertemu dengan seorang wanita dengan dua orang anaknya yang laksana dua ekor macan kumbang. Mereka mempermainkan buah delima dari bawah pinggang ibunya tersebut. Dia menikahi wanita tersebut dan aku diceraikannya. Setelah itu aku menikah lagi dengan seorang laki-laki yang cukup budiman dan cukup kaya. Tunggangannya adalah seekor kuda pilihan. Dia juga memperlihatkan kepadaku sebuah kandang ternak yang penuh dengan unta, sapi, dan kambing. Aku disuruhnya menikmati semua itu. Kalau aku kumpulkan semua pemberiannya, maka belum ada apa-apanya dengan apa yang pernah diberikan Abu Zara kepadaku.' Aisyah berkata: "Rasulullah saw. berkata padaku: 'Aku terhadapmu adalah seperti Abu Zara terhadap Ummu Zara.'" (HR Bukhari dan Muslim)

0 komentar:

Posting Komentar

Komentarlah dengan Bijaksana

Bookmarks