A.
SYUBHAT PERTAMA : MENAHAN GEJOLAK SEKSUAL
Syubhat
ini menyatakan, gejolak nafsu seksual pada setiap manusia adalah sangat besar
dan membahayakan. Ironinya, bahaya itu timbul ketika nafsu tersebut ditahan dan
dibelenggu. Jika terus menerus ditekan, ia bisa mengakibatkan ledakan dahsyat.
Hijab
wanita akan menyembunyikan kecantikannya, sehingga para pemuda tetap berada
dalam gejolak nafsu seksual yang tertahan, dan hampir meledak, bahkan terkadang
tak tertahankan sehingga ia lampiaskan dalam bentuk tindak perkosaan atau
pelecehan seksual lainnya.
Sebagai
pemecahan masalah tersebut, satu-satunya cara adalah membebaskan wanita dari
mengenakan hijab, agar para pemuda mendapatkan sedikit nafas bagi pelampiasan
nafsu mereka yang senantiasa bergolak di dalam. Dengan demikian, hasrat mereka
sedikit bisa terpenuhi. Suasana itu lalu akan mengurangi bahaya ledakan gejolak
nafsu yang sebelumnya tertahan dan tertekan.
1.
Bantahan
Sepintas, syubhat di
atas secara lahiriah nampak logis dan argumentatif. Kelihatannya, sejak awal,
pihak yang melemparkan jalan pemecahan tersebut ingin mencari kemaslahatan bagi
masyarakat dan menghindarkan mereka dari kehancuran. Padahal kenyataannya,
mereka justru menyebabkan bahaya yang jauh lebih besar bagi masyarakat, yaitu
menyebabkan tercerai-berainya masyarakat, kehancurannya, bahkan berputar sampai
seratus delapan puluh derajat pada kebinasaan.
Seandainya jalan
pemecahan yang mereka ajukan itu benar, tentu Amerika dan Negara-negara Eropa
serta Negara-negara yang berkiblat kepada mereka akan menjadi negara yang
paling kecil kasus perkosaan dan kekerasannya terhadap kaum wanita di dunia,
juga dalam kasus-kasus kejahatan yang lain.
Amerika dan
negara-negara Eropa amat memperhatikan masalah ini, dengan alasan kebebasan
individual.
Di sana, dengan mudah
anda akan mendapatkan berbagai majalah porno dijual di sembarang tempat.
Acara-acara televisi, khususnya setelah pukul dua belas malam, menayangkan
berbagai adegan tak senonoh, yang membangkitkan hasrat seksual. Bila musim
panas tiba, banyak wanita di sana membuka pakaiannya dan hanya mengenakan
pakaian bikini. Dengan keadaan seperti itu, mereka berjemur di pinggir pantai
atau kota-kota pesisir lainnya. Bahkan di sebagian besar pantai dan pesisir,
mereka boleh bertelanjang dada dan hanya memakai penutup ala kadarnya.
Terminal-terminal video rental bertebaran di seluruh pelosok Amerika dengan
semboyan "Adults Only" (khusus untuk orang dewasa). Di
terminal-terminal ini, anak-anak cepat tumbuh matang dalam hal seksual sebelum
waktunya. Siapa saja dengan mudah bisa menyewa kaset-kaset video lalu memutarnya
di rumah atau langsung menontonnya di tempat penyewaan.
Rumah-rumah bordil
bertaburan di mana-mana. Bahkan di sebagian negara, memajang para wanita tuna
susila (pelacur) di etalase sehingga bisa dilihat oleh peminatnya dari luar.
Apa kesudahan dari hidup
yang serba boleh (permisif) itu? Apakah kasus perkosaan semakin berkurang?
Apakah kepuasan mereka terpenuhi, sebagaimana yang ramai mereka bicarakan?
Apakah para wanita terpelihara dari bahaya besar ini?
2.
Data Statistik Amerika
Dalam sebuah buku berjudul
"Crime in U.S.A" terbitan Pemerintah Federal di Amerika --yang ini
berarti data statistiknya bisa dipertanggungjawabkan karena ia dikeluarkan oleh
pihak pemerintah, tidak oleh paguyuban sensus-- di halaman 6 dari buku ini
ditulis: "Setiap kasus perkosaan yang ada selalu dilakukan dengan caua
kekerasnlz dan iru terjadi di Amerika setiap enam menit sekali. " Data ini
adalah yang tejadi pada tahun 1988 , yang dimaksud dengan kekerasan di sini
adalah dengan menggunakan senjata tajam.
Dalam buku yang sama
juga disebutkan:
Pada tahun 1978 di
Amerika tejadi sebanyak 147,389 kasus perkosaan.
Pada tahun 1979 di
Amerika tejadi sebanyak 168,134 kasus perkosaan.
Pada tahun 1981 di
Amerika tejadi sebanyak 189.045 kasus perkosaan.
Pada tahun 1978 di
Amerika tejadi sebanyak 211.691 kasus perkosaan.
Pada tahun 1978 di
Amerika tejadi sebanyak 211.764 kasus perkosaan.
Data statistik ini, juga
data-data sejenis lainnya – yang dinukil dari sumber-sumber berita yang dapat
dipertanggungjawabkan-- menunjukkan semakin melonjaknya tingkat pelecehan
seksual di negara-negara tersebut. Tidak lain, kenyataan ini merupakan
penafsiran empiris (secara nyata dan dalam praktik kehidupan sehari-hari) dari
firman Allah:
"Hai Nabi,
katakanIah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri
orang mukmin, 'Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka'.
Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka
tidak diganggu ....."(Al Ahzab: 59 )
Sebab turunnya ayat ini,
--sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Qurthubi dalam tafsirnya—karena para
wanita biasa melakukan buang air besar di padang terbuka sebelum dikenalnya
kakus (tempat buang air khusus dan tertutup). Di antara mereka itu dapat
dibedakan antara budak dengan wanita merdeka. Perbedaan itu bisa dikenali yakni
kalau wanita-wanita merdeka mereka menggunakan hijab. Dengan begitu, para
pemuda enggan mengganggunya.
Sebelum turunnya ayat
ini, wanita-wanita muslimah juga melakukan buang hajat di padang terbuka
tersebut. Sebagian orang-orang dujana mengira kalau dia adalah budak, ketika
diganggu, wanita muslimah itu berteriak sehingga laki-laki itu pun kabur.
Kemudian mereka mengadukan peristiwa tersebut kepada Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam , sehingga turunlah ayat ini.
Hal ini menegaskan,
wanita yang memamerkan auratnya, mempertontonkan kecantikan dan kemolekan
tubuhnya kepada setiap orang yang lain lalang, lebih berpotensi untuk diganggu.
Sebab dengan begitu, ia telah membangkitkan nafsu seksual yang terpendam.
Adapun wanita yang
ber-hijab maka dia senantiasa menyembunyikan kecantikan dan perhiasannya. Tidak
ada yang kelihatan daripadanya selain telapak tangan dan wajah menurut suatu
pendapat. Dan pendapat lain mengatakan, tidak boleh terlihat dari diri wanita
tersebut selain matanya saja.
Syahwat apa saja yang bisa dibangkitkan oleh wanita ber-hijab itu? Instink seksual apa yang bisa digerakkan oleh seorang wanita yang menutup rapat seluruh tubuhnya itu?
Syahwat apa saja yang bisa dibangkitkan oleh wanita ber-hijab itu? Instink seksual apa yang bisa digerakkan oleh seorang wanita yang menutup rapat seluruh tubuhnya itu?
Allah mensyari'atkan
hijab agar menjadi benteng bagi wanita dari gangguan orang lain. Sebab Allah
Subhanahu Wata'ala mengetahui, pamer aurat akan mengakibatkan semakin
bertambahnya kasus pelecehan seksual, karena perbuatan tersebut membangkitkan
nafsu seksual yang sebelumnya tenang.
Kepada orang yang masih
mempertahankan dan meyakini kebenaran syubhat tersebut, kita bisa menelanjangi
kesalahan mereka melalui empat hakikat:
Pertama, berbagai data
statistik telah mendustakan cara pemecahan yang mereka tawarkan.
Kedua, hasrat seksual
terdapat pada masing-masing pria dan wanita. Ini merupakan rahasia Ilahi yang
dititipkan Allah pada keduanya untuk hikmah yang amat banyak, diantaranya demi
kelangsungan keturunan. jika boleh berandai-andai, andaikata hasrat seksual itu
tidak ada, apakah keturunan manusia masih bisa dipertahankan? Tak seorang pun
memungkiri keberadaan hasrat dan naluri ini. Tetapi, dengan tidak
mempertimbangkan adanya naluri seksual tersebut tiba-tiba sebagian laki-laki
diminta berlaku wajar di tengah pemandangan yang serba terbuka dan telanjang.
Amat ironi memang.
Ketiga, yang
membangkitkan nafsu seksual laki-laki adalah tatkala ia melihat kecantikan
wanita, baik wajah, atau anggota tubuh lain yang mengundang syahwat. Seseorang
tidak mungkin melawan fitrah yang diciptakan Allah (kecuali mereka yang
dirahmati Allah), sehingga bisa memadamkan gejolak syahwat-nya tatkala melihat
sesuatu yang membangkitkannya.
Keempat, orang yang
mengaku bisa mendiagnosa nafsu seksual yang tertekan dengan mengumbar pandangan
mata kepada wanita cantik dan telanjang sehingga nafsunya akan terpuaskan (dan
dengan demikian tidak menjurus pada perbuatan yang lebih jauh, misalnya
pemerkosaan atau pelecehan seksual lainnya), maka yang ada hanya dua
kemungkinan:
Pertama, orang itu
adalah laki-laki yang tidak bisa terbangkitkan nafsu seksualnya meski oleh
godaan syahwat yang bagaimana pun (bentuk dan jenisnya), ia termasuk kelompok
orang yang dikebiri kelaminnya sehingga dengan cara apa pun mereka tidak akan
merasakan keberadaan nafsunya.
Kedua, laki-laki yang
lemah syahwat atau impoten. Aurat yang dipamerkan itu tak akan mempengaruhi
dirinya.
Apakah orang-orang yang membenarkan
syubhat tersebut (sehingga dijadikannya jalan pemecahan) hendak memasukkan kaum
laki-laki dari umat kita ke dalam salah satu dari dua golongan manusia lemah di
atas? Na'udzubillah min dzalik
SYUBHAT
KEDUA : BELUM MANTAP
Hal
ini lebih tepat digolongkan kepada syahwat dan menuruti hawa nafsu daripada
disebut syubhat. Jika salah seorang ukhti yang belum mentaati perintah berhijab
ditanya, mengapa ia tidak mengenakan hijab? Di antaranya ada yang menjawab:
"Demi Allah, saya belum mantap dengan berhijab. Jika saya telah merasa
mantap dengannya saya akan berhijab, insya Allah."
Ukhti
yang berdalih dengan syubhat ini hendaknya bisa membedakan antara dua hal.
Yakni antara perintah Tuhan dengan perintah manusia. Jika perintah itu
datangnya dari manusia maka manusia bisa salah dan bisa benar. Imam Malik
berkata: "Dan setiap orang bisa diterima ucapannnya dan juga bisa ditolak,
kecuali (perkataan) orang yang ada di dalam kuburan ini." Yang dimaksudkan
adalah Rasulullah Shallallahu 'Alnihi Wasallam.
Selagi
masih dalam bingkai perkataan manusia, maka seseorang tidak bisa dipaksa untuk
menerima. Karenanya, dalam hal ini, setiap orang bisa berucap "belum
mantap", dan ia tidak bisa dihukum karenanya.
Adapun
jika perintah itu salah satu dari perintah-perintah Allah, dengan kata lain
Allah yang memerintahkan di dalam kitabNya, atau memerintahkan hal tersebut
melalui NabiNya agar disampaikan kepada umatnya, maka tidak ada alasan bagi
manusia untuk mengatakan "saya belum mantap".
Bila
ia masih mengatakan hal itu dengan penuh keyakinan, padahal ia mengetahui
perintah tersebut ada di dalam kitab Allah , maka hal tersebut bisa menyeretnya
pada bahaya yang sangat besar, yakni keluar dari agama Allah, sementara dia
tidak menyadarinya. Sebab dengan begitu berarti ia tidak percaya dan meragukan
kebenaran perintah tersebut. Karena itu, ia adalah ungkapan yang sangat
berbahaya.
Seandainya
ia berkata: "Aku wanita kotor","aku tak kuat melawan
nafsuku", "jiwaku rapuh" atau "hasratku untuk itu sangat
lemah" tentu ungkapan-ungkapan ini dan yang sejenisnya tidak bisa
disejajarkan dengan ucapan:
"Aku
belum mantap." Sebab ungkapan-ungkapan tersebut pengakuan atas kelemahan,
kesalahan dan kemaksiatan dirinya. Ia tidak menghukumi dengan salah atau benar
terhadap perintah-perintah Allah secara semaunya. Juga tidak termasuk yang
mengambil sebagian perintah Allah dan mencampakkan yang lain.
Allah
berfirman.Artinya:
"Dan
ridaklah patut bagi laki-laki mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan mukminah,
apabila Allah dan RasulNya telah menerapkan suatu ketetapan, akan ada bagi
mereka piIihan (yang lain) tentang trrusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai
AIlah dan RasulNya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. "
(Al-Ahzab: 36)
Sikap
Yang Dituntut
Ketika
seorang hamba mengaku beriman kepada Allah, percaya bahwa Allah lebih bijaksana
dan lebih mengetahui dalam penetapan hukum daripada dirinya -sementara dia
sangat miskin dan sangat lemah-- maka jika telah datang perintah dari Allah,
tidak ada pilihan lain baginya kecuali mentaati perintah tersebut. Ketika
mendengar perintah Allah, sebagai seorang mukmin atau mukminah, mereka wajib
mengatakan sebagaimana yang dikatakan orang-orang beriman Artinya:
"...
Kami dengar dan kami taat". (Mereka berdo'a), 'Ampunilah kami ya Tuhan
kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.' (Al Baqarah: 285)
Ketika
Allah memerintahkan kita dengan suatu perintah, Dia Maha Mengetahui bahwa
perintah itu untuk kebaikan kita, dan salah satu sebah bagi tercapainya
kebahagiaan kita. Demikian pula ha!nya dengan ketika memerintah wanita
ber-hijab, Dia Maha Mengetahui bahwa ia adalah salah satu sebab tercapainya
kebahagiaan, kemuliaan dan keagungan wanita.
Allah
Maha Mengetahui, ilmuNya meliputi segala sesuatu, mengetahui sejak sebelum
manusia diciptakan, juga mengetahui apa yang akan tejadi di masa mendatang
dengan tanpa batas, mengetahui apa yang tidak akan tejadi dari berbagai
peristiwa, juga Dia mengetahui andaikata peristiwa tersebut tejadi, apa yang
bakal terjadi selanjutnya.
Dengan
kepercayaan seperti ini, yang merupakan keyakinan umat Islam, apakah patut dan
masuk akal kita menolak perintah Allah Yang Maha Luas ilmuNya, selanjutnya kita
menerima perkataan manusia yang memiliki banyak kekurangan, dan ilmunya sangat
terbatas?
Contoh
dari Kenyataan Sehari-hari
Sebagai
contoh, dapat kita kemukakan dari kenyataan hidup sehari-hari. Bila kita
membeli satu unit komputer sementara orang yang merakitnya ada di dekat kita,
dia mengerti betul bagaimana cara mengoperasikannya, memahami dari A hingga Z
seluk beluk alat canggih tersebut, maka logiskah jika kita memanggil tukang
cuci mobil untuk mengajari kita cara pengoperasian komputer?
Tentu
sangat tidak logis. Akal kita akan mengatakan, kita mesti memanggil ahli
komputer untuk mengajari bagaimana cara penggunaan alat tersebut, berikut cara
memperbaikinya jika tejadi kerusakan. Kita meyakini, yang menciptakan manusia
dan membentuknya adalah Tuhan manusia, yaitu Allah. Karena itu, sangat wajar
jika Allah yang lebih mengetahui tentang apa yang membahayakan dan memberi
manfaat manusia.
Dan
jelaslah, bertahkim, patuh dan menyerah kepada selain Allah adalah cermin
ketidak warasan, kebodohan dan kedunguan. Kedunguan itu disebabkan karena kita
patuh kepada seseorang yang tidak mengetahui. Barangsiapa yang mengambil
nasihat orang bodoh berarti dia menggelincirkan dirinya pada kebinasaan.
Ironinya,
inilah yang tejadi pada kita kaum muslimin, betapa banyak kaum muslimin yang
menuntut jawaban dari orang yang tidak mengetahuinya. Sebagaimana betapa banyak
dari kalangan kita yang tidak memahami bahwa yang dimaksud kata
"Islam" adalah menyerah, patuh dan tunduk secara total kepada
perintah-perintah Allah dan larangan-laranganNya.
Ukhti,
Jangan Terjerumus Pada Pertentangan.
Tatkala
engkau menasehati sebagian ukhti yang belum berhijab, sebagian mereka ada yang
menjawab: "Saya juga seorang muslimah, selalu menjaga shalat lima waktu
dan sebagian shalat sunat, saya puasa Ramadhan dan telah melakukan haji,
berkali-kali pula saya umrah, aktif sebagai donatur pada beberapa yayasan
sosial, tetapi saya belum' mantap dengan ber-hijab"
Pertanyaan
Buat Ukhti
"Kalau
memang anda sudah dan selalu melakukan amalan-amalan terpuji, yang berpangkal
dari iman, kepatuhan pada perintah Allah serta takut siksaNya jika meninggalkan
kewajiban-kewajiban itu, mengapa anda beriman kepada sebagian dan tidak beriman
kepada sebagian yang lain, padahal sumber perintah-perintah itu adalah satu?
Sebagaimana
shalat yang selalu anda jaga adalah suatu kewajiban, demikian pula halnya
dengan hijab. Hijab itu wajib, dan kewajiban itu tidak diragukan adanya dalam
A1Qur'an dan As Sunnah. Atau, apakah anda tidak pernah mendengar cercaan Allah
terhadap Bani Israil, karena mereka melakukan sebagian perintah dan
meninggalkan sebagian yang lain? Secara tegas, dalam hal ini Allah berfirman
Artinya:
...Apakah
kamu beriman kepada sebahagian AI-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian
yang lain? Tidaklah balasan bagi orang-orang yang berbuat demikian daripadamu,
melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari Kiamat mereka
dikembalikan kepada siksa yang sangat berat, Allah tidak lengah dari apa yang kamu
perbuat". (Al-Baqarah: 85)
Selanjutnya
renungkanlah hadits shahih berikut ini:
"Sesungguhnya
penghuni Neraka yang paling ringan adzabnya pada Ilari Kiamat ialah orang yang
diletakkan di tengah kedua telapak kakinya dua bara api, dari dua bara api ini
otaknya mendidih, sebagaimana periuk yang mendidih dalam bejana besar yang dipanggang
dalam kobaran api ". (Diriwayatkan oleh
Al-Bukhari, Kitabur Riqaaq, 11/376.)
Jika
seperti ini adzab yang paling ringan pada hari Kiamat, lalu bagaimana adzab
bagi orang yang diancam Allah dengan adzab yang amat pedih, sebagaimana
disebutkan dalam ayat ini. Yakni bagi orang yang beriman kepada sebagian ayat
dan meninggalkan sebagian yang lain?
Wahai
Ukhti...
Apakah
hanya demi penampilan, kebanggaan dan saling unggul-mengungguli di dunia, lain
anda rela menjual akhirat dan slap menerima adzab yang pedih?
Sungguh,
kami tidak berharap untuk ukhti, melainkan kebaikan di dunia dan di akhirat.
Kami meminta agar ukhti mau menggunakan akal sehat dalam menentukan pilihan
ini.
SYUBHAT
KETIGA: IMAN ITU LETAKNYA DI HATI
Jika
salah seorang di antara mereka ditanya, mengapa dia tidak berhijab? Maka ukhti
yang terhormat ini akan menjawab: "Ah, iman itu letaknya di hati".
Ini
adalah jawaban yang paling sering dilontarkan para wanita muslimah yang belum
berhijab. Karena itu, di bawah ini akan kita bahas syubhat tersebut.
Sumber
Syubhat:
Mereka
berusaha menafsirkan sebagian hadits, tetapi tidak sesuai dengan yang
dimaksudkan. Seperti dalam sabda Nabi Shallallahu 'Alnihi Wnsallam:
"Sesungguhnya
Allah tidak melihat pada bentuk-bentuk (lahiriah) dan harta kekayaanmu, tetapi
Dia melihat pada hati dan amalmu sekalian ".
Tampaklah,
bahwa mereka menggugurkan makna yang semestinya, yaitu kebenaran yang
dibelokkan kepada kebatilan. Memang benar, iman letaknya dalam hati, tetapi
iman itu tidak sempurna bila dalam hati saja.
Dengan
hadits ini Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam hendak menjelaskan makna
keikhlasan bagi diterimanya suatu amal perbuatan. Allah tidak melihat
bentuk-bentuk lahiriah, seperti pura-pura khusyu' dalam shalat dan sebagainya,
tetapi Allah melihat hati dan keikhlasan niat dari segala yang selain Allah.
Dia tidak menerima suatu amal perbuatan kecuali yang ikhlas untuknya semata.
Rasulullah
Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
"Taqwa
itu ada di sini", seraya menunjuk ke arah dadanya ".
Pengarang
kitab Nuzhatul Mutraqin berkata: "Hadits ini menunjukkan, pahala amal
tergantung keikhlasan hati, kelurusan niat, perhatian terhadap situasi hati,
pelempangan tujuan dan kebersihan hati dari segala sifat tercela yang dimurkai
Allah"
Definisi
Iman
Iman
tidak cukup hanya dalam hati. Iman dalam hati semata tidak cukup menyelamatkan
diri dari Neraka dan mendapatkan Surga.
Definisi
iman menurut jumhur ulama Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah :
"Keyakinan
dalam hati, pengucapan dengan lisan dan pelaksanaan dengan anggota badan".
Definisi
ini terdapat dalam setiap buku akidah (tauhid), kecuali buku-buku yang
menyimpang dan tidak berdasarkan manhaj (methode) Ahlus Sunnnh wal Jama'ah.
Kesempurnaan
Iman
Dalam
tashawwur (gambaran) kita, orang yang mengatakan iman dengan lidahnya, tetapi
tidak disertai keyakinan hatinya, itu adalah keadaan orang-orang munafik.
Demikian pula orang yang beramal hanya sebatas aktifitas anggota tubuh, tetapi
tidak disertai keyakinan hati, itu merupakan keadaan orang-orang munafik.
Pada
masa Nabi Shallallahu alaihi wasalam , mereka senantiasa shalat bersama beliau,
berperang, mengeluarkan nafkah, pulang pergi bersama kaum muslimin, tetapi hati
mereka tidak pemah beriman kepada agama Allah. Kepada mereka, Allah menghukumi
sebagai orang-orang munafik, dan balasan untuk mereka adalah berada di kerak
atau dasar Neraka.
Demikian
pula orang yang beriman hanya dengan hatinya tapi tidak disertai dengan amalan
anggota badan.
Ini
adalah keadaan iblis. Dia percaya pada kekuasaan Allah, Dzat yang menghidupkan
dan mematikan. Dia meminta penangguhan kematiannya, dia juga percaya terhadap
adanya hari Kiamat, tetapi dia tidak beramal dengan anggota tubuhnya. Allah
berfirman:
Artinya:
"la (iblis) enggan dan takabur dan dia temzasuk golongan orang-orang
kafir". (Al Baqarah:34)
Dalam
Al Qur'an setiap kali disebutkan kata iman, selalu disertai dengan amal,
seperti: "Orang yang beriman dan beramal shaIih ...........
Amal
selalu beriringan dan merupakan konsekuensi iman, keduanya tidak dapat dipisah-pisahkan.
Kepada
ukhti yang belum berhijab dengan alasan "iman itu letaknya di hati",
kami hendak bertanya, andaikata seorang kepala sekolah memintanya membuat
laporan, atau mengawasi murid-murid, atau memberi pelajaran ekstra kurikuler,
atau menjadi petugas piket untuk menggantikan guru yang berhalangan hadir atau
pekerjaan lain, logiskah jika dia menjawab: "Dalam hati, saya percaya dan
sudah mantap terhadap apa yang diminta oieh direktur kepadaku, tetapi aku tidak
mau melaksanakan apa yang dikehendakinya dariku". Apakah jawaban ini bisa
diterima? Lalu apa akibat yang bakal menimpanya?
Ini
sekedar contoh dalam kehidupan manusia. Lalu bagaimana jika urusan ini
berhubungan dengan Allah, Tuhan manusia yang memiliki sifat Yang Maha Tinggi?
SYUBHAT
KEEMPAT: ALLAH BELUM MEMBERIKU HIDAYAH
Para
akhawat yang tidak berhijab banyak yang berdalih: "Allah belum memberiku
hidayah. Sebenamya·aku juga ingin berhijab, tetapi hendak bagaimana jika hingga
saat ini Allah belum memberiku hidayah?, do'akanlah aku agar segera mendapat
hidayah!"
Ukhti
yang berdalih seperti ini telah terperosok dalam kekeliruan yang nyata. Kami
ingin bertanya: "Bagaimana engkau mengetahui bahwa Allah belum memberimu
hidayah?"
Jika
jawabannya, "Aku tahu", maka ada satu dari dua kemungkinan:
Pertama,
dia mengetahui ilmu ghaib yang ada di dalam kitab yang tersembunyi (Lauhul Mahfuzh).
Dia pasti mengetahui pula bahwa dirinya termasuk orang-orang yang celaka dan
bakal masuk Neraka.
Kedua,
ada makhluk lain yang mengabarkan padanya tentang nasib dirinya, bahwa dia
tidak termasuk wanita yang mendapatkan hidayah. Bisa jadi yang memberitahu itu
malaikat atau pun manusia.
Jika
kedua jawaban itu tidak mungkin adanya, bagaimana engkau mengetahui Allah belum
memberimu hidayah? Ini salah satu masalah.
Masalah
lain adalah, Allah telah menerangkan dalam kitabNya, bahwa hidayah itu ada dua macam.
Masing-masing adalah hidayah dilaiah dan hidayah taufiq.
Hidayah
Dilaiah
Ini
adalah bimbingan atau petunjuk pada kebenaran. Dalam hidayah'ini, terdapat
campur tangan dan usaha manusia, di samping hidayah Allah dan bimbingan
RasulNya. Allah telah menunjukkan jalan kebenaran pada manusia yang mukallnf,
juga Dia telah menunjukkan jalan kebatilan yang menyimpang dari petunjuk para
Rasul dan KitabNya. Para rasul pun telah menerangkan jalan ini kepada kaumnya.
Begitu pula para da'i. Mereka semua menerangkan jalan ini kepada manusia. Jadi
semua ikut ambil bagian dalam hidayah ini.
Hidayah
Taufiq
Hidayah
ini hanya milik Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya (dalam pemberian hidayah
taufiq ini). Ia berupa peneguhan kebenaran dalam hati, penjagaan dari penyimpangan,
pertolongan agar tetap meniti dan teguh di jalan kebenaran, pendorong pada
kecintaan iman. Pendorong pada kebencian terhadap kekufuran, kefasikan dan
kemaksiatan.
Hidayah
Taufiq diberikan kepada orang yang memenuhi panggi!an Allah dan mengikuti petunjukl\lya.
Jenis
hidayah ini datang sesudah hidayah dilalah. Sejak awal, dengan tidak pilih
kasih, Allah memperlihatkan kebenaran kepada semua manusia. Allah berfirman
Artinya:
"Dan
adapun kaum Tsamua maka mereka telah kami beri petunjuk tetapi mereka lebih
menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk itu .... " (Fushshilat: 17 )
Dan
untuk itu, Allah menciptakan potensi dalam diri setiap orang mukaIlaf untuk
memilih antara jalan kebenaran atau jalan kebatilan. Jika dia memilih jalan
kebenaran menurut kemauannya sendiri maka hidayah taufiq akan datang kepadanya.
Allah berfirman:
Artinya:
''Dan orang-orang yang meminta petunjuk, Allah (akan) menambah petunjuk pada
mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya " . (Muhammad:
17)
Jika
dia memilih kebatilan menurut kemauannya sendiri, maka Allah akan menambahkan
kesesatan padanya dan Dia mengharamkannya mendapat hidayah taufiq. Allah
berfirman :
Artinya:"Katakanlah:
'Barangsiapa yang berada dalam kesesatan, maka biarlah Tuhan Yang Maha Pemurah
memperpanjang tempo baginya .... "(Maryam: 75)
Maka
tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka
". (Ash Shaf: 5)
Perumpamaan
Hidayah Taufiq
Syaikh
Asy Sya'rawi memberikan perumpamaan yang amat mengena tentang hidayah taufiq
ini, dan itu menupakan sunnatullah. Beliau mengumpamakan dengan seseorang yang
menanyakan suatu alamat. Orang itu pergi ke polisi lain lintas untuk menanyakan
alamat tersebut. Lain polisi menyarankan: "Anda bisa bejalan lurus
sepanjang jalan ini, sampai di perempatan anda belok ke kanan, selanjutnya ada
gang, anda belok ke kiri, di situ anda mendapatkan jalan raya, di seberang
jalan raya tersebut akan terlihat gedung dengan pamplet besar, itulah alamat
yang anda cari".
Orang
tersebut dihadapkan pada dua pilihan, percaya kepada petunjuk polisi atau
mendustakannya. Jika percaya kepada polisi, ia akan segera beranjak mengikuti
petunjuk yang diterimanya. Jika berjalan terus sesuai dengan petunjuk polisi,
ia akan semakin dekat dengan tempat dan alamat yang ia inginkan.
Jika
ia tidak mempercayai saran polisi itu bahkan malah mengumpatnya sebagai
pendusta, sehingga ia bejalan menuju arah yang berlawanan, rnaka semakin jauh
dia berjalan, semakin jauh pula kesesatannya. Itulah perumpamaan petunjuk dan
kesesatan.
Ini
merupakan perumpamaan yang tepat untuk mendekatkan pengertian sunnatullah ini.
Siapa yang memilih kebenaran, Allah akan menolong dan meneguhkannya. Dan siapa
yang memilih kebatilan, Allah akan menyesatkannya dan membiarkannya bersama
setan yang menyertainya.
Carilah
Sebab-sebab Hidayah, Niscaya Anda Mendapatkannya
Itulah
sunnatullnh yang berlaku pada semua makhluknya. Allah berfirman:
...Maka
sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan
sekali-kaIi tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu".
(Faathir: 43)
Adapun
sunnatullah dalam perubahan nasib, hanya akan terjadi jika manusia memulai
dengan mengubah terlebih dahulu dirinya sendiri, lain mengupayakan sebab-sebab
perubahan yang dimaksudnya. Allah berfirman:
Artinya:
"Sesungguhnya AIlah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka
mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. " (Ar Ra'd: 11)
Maka
orang yang menginginkan hidayah, serta menghendaki agar orang lain mendo'akan
dirinya agar mendapatkannya, ia harus berusaha keras dengan seba-sebab yang
bisa mengantarkannya mendapat hidayah tersebut.
Dalam
hal ini, terdapat teladan yang baik pada diri Maryam. Suatu hari, dia amat
membutuhkan makanan, Padahal ketika itu, ia dalam kondisi sangat lemah, seperti
yang biasa tejadi pada wanita yang hendak melahirkan.Lalu Allah
memerintahkannya melakukan suatu usaha yang orang laki-laki paling kuat sekali
pun tidak akan mampu melakukannya. Maryam diminta menggoyang-goyangkan pangkal
pohon korma, meskipun pangkal pohon korma itu sangat kokoh dan sulit
digoyang-goyangkan. Allah berfirman Artinya:
"Dan
goyanglah pangkal pohon komra itu ke arahmu .... (Maryam: 25)
Maryam
tidak mungkin mampu menggoyang pangkal pohon korma, sementara dia dalam kondisi
yang amat lemah. Itu hanya dimaksudkan sebagai usaha mencari sebab dengan cara
meletakkan tangannya di pohon korma.
Dengan
demikian terpenuhilah hukum kausalitas dan sunnatullah dalam hal perubahan.
Maka hasilnya adalah:
Artinya:
"Pohon itu akan menggugurkan buah korma yang masak kepadamu ".
(Maryam: 25)
Inilah
sunnatullah dalam perubahan. Tidak mungkin orang mukmin terus-menerus berada di
masjid, bahkan meskipun di Masjidil Haram dengan hanya duduk dan beribadah
kepada Allah, Seraya mengharap rizki dari Allah.
Tentu
Allah tidak akan mengabulkannya tanpa dia sendiri mencari sebab-sebab rizki
tersebut. Langit tak mungkin sekonyong-konyong menurunkan hujan emas dan perak.
Karena
itu, wahai ukhti, berusahalah mendapatkan sebab-sebab hidayah, niscaya anda
mendapatkan hidayah tersebut dengan izin Allah. Di antara usaha itu ialah
berdo'a agar mendapat hidayah, memilih teman yang shalihah, selalu membaca,
mempelajari dan merenungkan Kitab Allah, mengikuti majelis-majelis dzikir dan
ceramah agama, mendengarkan kaset pengajian agama, membaca buku-buku tentang
keimanan dan sebagainya.
Tetapi,
sebelum melakukan semua itu hendaknya engkau terlebih dahulu meninggallkan
hal-hal yang bisa menjauhkanmu dari jalan hidayah. Seperti teman yang tidak
baik, membaca majalah-majalah yang tidak mendidik, menyaksikan
tayangan-tayangan televisi yang membangkitkan perbuatan haram, bepergian tanpa
disertai mahram, menjalin hubungan dengan para pemuda (pacaran), dan hal-hal
lain yang bertentangan dengan jalan hidayah.
SYUBHAT
KELIMA: TAKUT TIDAK LAKU NIKAH
Sebagian
akhawat yang tidak ber-hijab berdalih dengan takut tidak laku nikah Syubhat
yang dibisikkan setan dalam jiwa sebagian akhawat yang tidak berhijab ini,
pangkalnya adalah perasaan bahwa para pemuda tidak akan mau memutuskan menikah
kecuali jika dia telah melihat badan, rambut, kulit, kecantikan dan perhiasan
sang gadis. Jika ia berhijab atau memakai cadar, tentu tak ada yang bisa
dilihat dari padanya, sehingga sang pemuda enggan mengambil keputusan untuk
menikahinya.
Ironinya,
kepercayaan seperti ini, tidak hanya monopoli para akhawat, tetapi juga
merupakan kepercayaan para orang tua, pada akhimya mereka melarang anak-anak
puterinya memakai hijab. Syubhat ini tidak bisa diterima lewat dua alasan
mendasar.
Penilaian
dari Sisi Teori Dasar
Meskipun
kecantikan merupakan salah satu sebab paling pokok dalam pernikahan, tetapi ia
bukan satu-satunya sebab dinikahinya wanita.Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
Wasallam bersabda:
"Wanita
itu dinikahi karena empat hal. Yaitu karena harta, keturunan, kecantikan dan agamanya.
Dapatkanlah wanita yang berpegang teguh dengan agama, (jika tidak) niscaya
kedua tanganmu berlumur debu.
Memang
demikian yang terjadi. Kaum laki-laki tidak hanya melihat unsur kecantikan
semata, tetapi ada hal-hal lain yang menyatu dengan kecantikan itu atau
terlepas darinya, yang dijadikan pertimbangan dalam memilih isteri. Namun para
gadis dan orangtua banyak yang menganggap kecantikan adalah segala-galanya.
Atau setidak-tidaknya menjadikan kecantikan sebagai unsur terpenting, sedangkan
hal lainnya bisa dikesampingkan. Jelas, jalan pikiran seperti ini bertentangan
dengan naluri manusia.
Penilaian
dari Sisi Empiris
Bisa
jadi sikap gadis-gadis yang biasa memperlihatkan aurat --yang dimaksudkan untuk
menawan hati pria-- menjadi bumerang bagi dirinya. Betapa banyak tindakan itu
malah membuat para pemuda enggan menikahinya. Sebab bisa saja para pemuda itu
beranggapan, jika wanita tersebut berani melanggar salah satu perintah Allah,
yaitu hijab, tidak menutup kemungkinan dia akan berani melanggar perintah-perintah
yang lain. Karena setan memiliki banyak kiat.
Meskipun
terkadang kenyataan yang ada tidak selalu sesuai dengan pendapat ini, tetapi
memang begitulah keadaan mayoritas pemuda kita di zaman sekarang.Pemuda yang
menyunting gadis ber-hijab, namanya akan menjadi harum, meskipun ia sendiri
tidak termasuk orang-orang yang dinilai ta'at menjalankan perintah agama.
SYUBHAT
KEENAM: IA MASIH BELUM DEWASA
Syubhat
ini banyak beredar di kalangan orangtua serta sebagian akhawat yang tidak
ber-hijab. Sebenamya anak-anak tersebut sudah memiliki niat memakai hijab,
tetapi kemudian ditunda karena syubhat ini. Karena itu dalih ini lebih pantas
disebut hawa nafsu daripada syubhat.
Kebanyakan
mereka berkata: "Jangan sampai melarangnya menikmati kehidupan. Dia toh
masih belum dewasa. Dia masih senang dengan pakaian yang indah, bersolek dengan
berbagai macam make up serta masih suka menampakkan kecantikannya. Semua ini
membuatnya lebih berbahagia dan menikmati hidup".
Kenapa
kita melarang dan menghalangi kebahagiaan justru pada saat umur mereka masih
relatif sangat muda? Kalau kita terlanjur ketinggalan kereta, mengapa kita
membuatnya pula ketinggalan kereta dengan begitu tergesa-gesa?
Menurut
pendapat mereka, masa belum dewasa berlangsung hingga anak berumur dua puluh
tahun. Karenanya, meskipun ada gadis yang sudah datang bulan pada umur 13
tahun, dia masih dianggap anak-anak.
Nasihat
untuk Para Wali
Sesungguhnya
para wali, baik bapak atau ibu yang mencegah anak-anak puterinya ber-hijab,
dengan dalih karena masih belum dewasa, mereka memiliki tanggung jawab yang
besar di hadapan Allah pada hari Kiamat.
Ketika
seorang gadis mendapatkan haidh, seketika itu pula ia wajib ber-hijab, menurut
syari'at. Jika wali gadis itu melarangnya ber-hijab, maka dia mendapat dosa
besar, dan Allah akan, menanyakan hal itu pada hari Kiamat. Allah berfirman:
"Dan
tahanlah mereka (di tempat perhentian) karena sesungguhnya mereka akan ditanya
". (Ash-Shaaffaat: 24)
Maksudnya
jika ia menyuruh anak puterinya memakai hijab sejak dini.
Nabi
ShalIallahu 'Alaihi Wasallam bersabda:
"Masing-masing
kamu adalah pemimpin dan masing-masing kamu akan ditanya tentang yang
dipimpinnya.... "'
Seorang
ayah adalah pemimpin pertama dalam rumah tangga. Fada hari Kiamat dia akan
ditanya tentang masing-masing orang yang ada di bawah kepemimpinannya.
Setiap
ayah hendaknya bertanya kepada dirinya sendiri: "Berapa banyak para pemuda
yang tergoda oleh anak puterinya? Seberapa jauh puterinya menyebabkan
penyimpangan para pemuda?"
Ungkapan
Cinta untuk Anak-anak Puteri
Allah
sebagai saksi, betapa kami amat mengkhawatirkan dirimu akan mendapat siksa
Allah. Kami begitu ingin menyelamatkanmu dari segala bahaya yang akan
menimpamu, baik di dunia maupun di akhirat. Ini adalah kewajiban seorang muslim
kepada saudaranya muslim yang lain.
Di
antara bahaya yang bakal menimpa ukhti yang tidak ber-hijab, baik di dunia
maupun di akhirat, adalah seperti disebutkan Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam
dalam sabdanya:
"Akan
ada di akhir umatku kaum lelaki yang menunggang pelana seperti layaknya kaum
lelaki, mereka turun di depan pintu-pintu masjid, wanita-wanita merekn
berpakaian (tetapi) telanjang, di atas kepala mereka (terdapat sesuatu) seperti
punuk onta yang lemah gemulai. Laknatlah mereka!, sesungguhnya mereka adalah
wanita-wanita terlaknat.
Wahai
ukhti yang tak ber-hijab! Tahukah engkau makna laknat? Laknat artinya dijauhkan
dari rahmat Allah Ta'ala.
Dalam
hadits tadi, Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam memerintahkan setiap muslim,
agar melaknat tipe wanita seperti yang telah disebutkan. Yaitu mereka yang
mengenakan pakaian di tubuh mereka, tapi tidak sampai menutup auratnya,
sehingga seakan-akan mereka telanjang. Dalam hadits lain Nabi shallallahu
alaihi wasalam bersabda:
"Dua
kelompok termasuk penghuni Neraka, aku (sendiri) belum pernah melihat mereka,
yaitu orang-orang yang membawa cemeti seperti ekor sapi, dengannya mereka
mencambuki manusia ,~dan para wanita yang berpakaian (tetapi) teIanjang,
bergoyang-goyang dan berlenggak-lenggok, kepala mereka (ada sesuatu) seperti punuk
unta yang bergoyang-goyang. Mereka tentu tidak akan masuk Surga, bahkan tidak
mendapatkan baunya. Dan sesungguhnya bau Surga itu tercium dari jarak
perjalanan sekian dan sekian ".(HR.Muslim)
Dalam
hadits tersebut terdapat sifat-sifat secara rinci tentang golongan wanita ini,
yaitu:
1)
Mengenakan sebagian pakaian, tetapi dia
menyerupai orang telanjang, karena sebagian besar tubuhnya terbuka dan itu
mudah membangkitkan birahi laki- laki, seperti paha, lengan, rambut, dada dan
lain-lainnya. Juga pakaian yang tembus pandang atau yang amat ketat, sehingga
membentuk lekuk-lekuk tubuhnya, maka ia seperti telanjang, meski berpakaian.
2)
Jalannya lenggak-lenggok dan bergoyang,
sehingga membangkitkan nafsu birahi.
3)
Kepalanya tampak lebih tinggi, sebab ia
membuat seni hiasan dari bulu atau rambut sintetis, karena tingginya, ia
seperti punuk onta.
Hadits
tersebut juga menjelaskan hakikat golongan wanita yang tidak masuk surga,
bahkan sekedar mencium bau wanginya pun tidak, padahal rahmat Allah meliputi
segenap langit dan bumi. Belum lagi Rasulullah Shallallalhu 'Alaihi Wasallam
yang menyuruh kaum muslimin agar melaknat mereka. "Laknatlah mereka,
sesungguhnya mereka adalah wanita terlaknat".
Kami
tidak menginginkan,selain kebaikan bagi anda Kekhawatiran kami kepada diri anda,
mendorong kami berharap dari lubuk hati kami yang terdalam, untuk menjauhkan
anda dari segala yang tidak disenangi. Semoga Allah mengisi hati anda dengan
cahayaNya yang tidak pernah padam, lalu anda menang dalam pertarungan melawan
setan, jin dan manusia. Selanjutnya anda berketetapan melepaskan jeratan dan
memerdekakan diri dari tawanan hawa nafsu, menuju alam kebebasan, kemuliaan,
kehormatan, ketenangan dan alam kesucian.
Apakah
Engkau Menjamin Umurmu Masih Panjang?
Wahai
ukhti yang tidak ber-hijab! Engkau tidak mau berhijab dengan dalih masih belum
dewasa, apakah engkau dapat menjamin umurmu panjang beberapa saat lagi? Apakah
engkau tahu, atau seseorang mengabarkan padamu tentang kapan engkau bakal mati?
Jika
tidak, maka boleh jadi kematian akan menjemputmu setelah setahun, sebulan,
seminggu, sehari, sejam atau sedetik kemudian. Semua itu serba mungkin, selama
kita tidak tahu kapan ajal kita akan datang.
Wahai
ukhti, kematian tidak hanya mengetuk pintu orang yang sakit, tidak pula orang
yang lanjut usia saja, tetapi juga orang-orang yang sehat walafiat, orang
dewasa, pemuda bahkan sampai bayi yang masih menetek di pangkuan ibunya. Banyak
contoh yang bisa dipaparkan
KISAH-KISAH
NYATA
1.
Kematian Yang Tiba-tiba
Seorang anggota parlemen
dalam kondisi kesehatan yang prima, penuh energi dan memiliki etos kerja sangat
tinggi, orangnya masih muda. Namun, tiba-tiba virus ganas menyerang otaknya.
Tak berlangsung lama, virus itu berubah menjadi segumpal daging. Anggota
parlemen itu akhimya tak berdaya dan meningal dengan cara yang amat
mengenaskan.
2.
Kematian Tak Kenal Orang Sehat atau Sakit
Seorang komandan tinggi
di jajaran Angkatan Bersenjata, ia tak pernah mengeluhkan suatu penyakit
apapun, tubuhnya padat berisi, otot-ototnya kekar, lincah dan gesit dalam
melakukan tugas di teritorialnya.
Seperti biasa, pada
suatu malam, ia pergi tidur. Di pagi hari, sang ibu membangunkannya. Tak ada
jawaban. Apa yang tejadi? Ternyata tubuhnya sudah dingin dan terbujur kaku.
Tidur itu menghantarnya pada kematian dan tak pemah kembali lagi.
3.
Temanku Mati Terbakar
Abu Abdillah berkata:
"Aku tak tahu, bagaimana harus menuturkan kisah ini padamu. Kisah yang
pemah kualami sendiri beberapa tahun lain, sehingga mengubah total perjalanan
hidupku. Sebenarnya aku tak ingin menceritakannya, tapi demi tanggung jawab di
hadapan Allah, demi peringatan bagi para pemuda yang mendurhakai Allah dan demi
pelajaran bagi para gadis yang mengejar bayangan semu, yang disebut cinta, maka
kuungkapkan kisah ini.
Ketika itu kami tiga
sekawan. Yang mengumpulkan kami adalah kesamaan nafsu dan kesia-siaan. Oh
tidak, kami berempat. Satunya lagi adalah setan.
Kami pergi berburu
gadis-gadis. Mereka kami rayu dengan kata-kata manis, hingga mereka takluk,
lain kami bawa ke sebuah taman yang jauh terpencil. Di sana kami berubah
menjadi serigala-serigala yang tak menaruh belas kasihan mendengar rintihan
permohonan mereka, hati dan perasaan kami sudah mati.
Begitulah hari-hari kami
di taman, di tenda, atau dalam mobil yang di parkir di pinggir pantai. Sampai
suatu hari, yang tak mungkin pernah saya bisa melupakannya, seperti biasa kami
pergi ke taman. Seperti biqsa pula, masing-masing kami menyantap satu mangsa
gadis, ditemani minuman laknat. Satu hal kami lupa.saat itu, makanan.
Segera salah Seorang di
antara kami bergegas membeli makanan dengan mengendarai mobilnya. Saat ia
berangkat, jam menunjukkan pukul enam sore. Beberapa jam berlalu, tapi teman
kami itu belum kembali. Pukul sepuluh malam, hatiku mulai tidak enak dan gusar.
Maka aku segera membawa mobil untuk mencarinya. Di tengah perjalanan, di
kejauhariaku melihat jilatan api. Aku mencoba mendekat. Astaghfirullah, aku
hampir tak percaya dengan yang kulihat.Ternyata api itu bersumber dari mobil
temanku yang terbalik dan terbakar. Aku panik seperti orang gila.Aku segera
mengeluarkan tubuh temanku dari mobilnya yang masih menyala. Aku ngeri tatkala
melihat separuh tubuhnya masak terpanggang api. Kubopong tubuhnya lalu
kuletakkan di tanah.
Sejenak kemudian, dia
berusaha membuka kedua belah matanya, ia berbisik lirih: "Api..., api...!"
Aku memutuskan untuk
segera membawa ke rumah sakit dengan mobilku. Tetapi dengan suara campur
tangis, ia mencegah: ";Tak ada gunanya.. aku tak akan sampai...!l
Air mataku tumpah, aku
harus menyaksikan temanku meninggal dihadapanku. Di tengah kepanikanku,
tiba-tiba ia berteriak lemah: "Apa yang mesti kukatakan padarnya?
Apa yang mesti kukatakan
padaNya?"
Aku memandanginya penuh
keheranan. "Siapa?" tanyaku. Dengan suara yang seakan berasal dari
dasar Sumur yang amat dalam, dia menjawab: "Allah!"
Aku merinding ketakutan.
Tubuh dan perasaanku terguncang keras. Tiba-tiba temanku itu menjerit,gemanya
menyelusup ke setiap relung malam yang gulita, lain kudengar tarikan nafasnya
yang terakhir. Innanlillaahi wa innaa ilaihi raaji 'uun.
Setelah itu, hari-hari
berlalu seperti sedia kala, tetapi bayangan temanku yang meninggal, jerit
kesakitannya, api yang membakaryal dan lolongannya "Apa yang harus
kukatakan padaNya? Apa yang harus kukatakan padaNya?", seakan terus
membuntuti setiap gerak dan diamku.
Pada diriku sendiri aku
bertanya: "Aku,... apa yang harus kukatakan padaNya?"
Air mataku menetes, lain
sebuah getaran aneh menjalari jiwaku. Saat puncak perenungan itulah,
sayup-sayup aku mendengar adzan Shubuh menggema:
"Allahu Akbar,
Allahu Akbar, Asyhadu Anla Ilaaha Illa Allah... Asyhadu Anna Muhammadar
XasuluNah... Hayya 'Alash Shalaah..."
Aku merasa bahwa adzan
itu hanya ditujukan pada diriku saja, mengajakku menyingkap fase kehidupanku
yang kelam, mengajakku pada jalan cahaya dan hidayah.
Aku segera bangkit,
mandi dan wudhu, menyucikan tubuhku dari noda-noda kehinaan yang menenggelamkanku
selama bertahun-tahun.
Sejak saat itu, aku tak
pernah lagi meninggall
4.
Kesudahan Yang Berlawanan
Tatkala masih di bangku
sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku dalam lingkungan yang balk. Aku
selalu mendengar do'a ibuku saat pulang dari keluyuran dan begadang malam.
Demikian pula ayahku, ia selalu dalam Shalatnya yang panjang. Aku heran,
mengapa ayah shalat begitu lama, apalagi jika saat musim dingin yang menyengat
tulang.
Aku sungguh heran.
Bahkan hingga aku berkata kepada' diri sendiri: "Alangkah sabarnya
mereka...setiap hari begitu...benar-benar mengherankan!"
Aku belum tahu bahwa di
situlah kebahagiaan orang mukmin, dan itulah shalat orang-orang pilihan...Mereka
bangkit dari tempat tidumya untuk bermunajat kepada Allah.
Setelah menjalani
pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang matang. Tetapi diriku
semakin jauh dari Allah. Padahal berbagai nasihat selalu kuterima dan kudengar
dari waktu ke waktu.
Setelah tamat dari
pendidikan, aku ditugaskan ke kota yang jauh dari kotaku. Perkenalanku dengan
teman-teman sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang
terasing.
Di sana, aku tak
mendengar lagi suara bacaan Al-Qur'an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan
dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan
keluarga yang dulu kami nikmati.
Aku ditugaskan mengatur
lalu lintas di sebuah jalan tol. Di samping menjaga keamanan jalan, tugasku
membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan.
Pekejaan baruku sungguh
menyenangkan Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi.
Tetapi, hidupku bagai
selalu diombang-ambingkan ombak. Aku bingung dan sering melamun
sendirian...banyak waktu luang...pengetahuanku terbatas.
Aku mulai jenuh...tak
ada yang menuntunku di bidang agama. Aku'sebatang kara. Hampir tiap'·hari yang
kusaksikan hanya kecelakaan dan orang-orang yang mengadu kecopetan atau
bentuk-bentult penganiayaan lain. Aku bosan dengan rutinitas. Sampai suatu hari
terjadilah suatu peristiwa yang hingga kini tak pernah kulupakan.
Ketika kami dengan
seorang kawan sedang bertugas di sebuah pos jalan.Kami asyik ngobrol…tiba-tiba
kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras.
Kami mengalihkan
pandangan. Teryata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur
dari arah berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong
Korban.
Kejadian yarng sungguh
tragis. Kami lihat dua awak salah satu mobil daIam kondisi sangat kritis kedua
nya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah.
Kami cepat-cepat menuju
mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan. Kami
kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun
mereka mengucapkan kalimat syahadat. :
Ucapkanlah
"Laailaaha Illallaah…Laailaaha Illallaah…" perintah temanku.
Tetapi sungguh mengherankan,
dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding.
Temanku tampaknya sudah
biasa menghadapi orang-orang yang sekarat...Kembali ia menuntun korban itu
membaca syahadat.
Aku diam membisu. Aku
tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah
menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini.
Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat. Tetapi...
keduanya tetap terus saja melantunkan lagu.
Tak ada gunanya...
Suara lagunya semakin
melemah...lemah dan lemah sekali. Orang pertama diam, tak bersuara lagi,
disusul orang kedua. Tak ada gerak... keduanya telah meninggal dunia.
Kami segera membawa
mereka ke dalam mobil.
Temanku menunduk, ia tak
berbicara sepatah pun. Selama pejalanan hanya ada kebisuan, hening.
Kesunyian pecah ketika
temanku memulai bicara. Ia berbicara tentang hakikat kematian dan su'ul
khatimah (kesudahan yang buruk). Ia berkata: "Manusia akan mengakhiri
hidupnya dengan baik atau buruk. Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa
yang dilakukan olehnya selama di dunia". Ia bercerita panjang lebar padaku
tentang berbagai kisah yang diriwayatkan dalam buku-buku Islam. Ia juga
berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya
secara lahir batin.
Perjalanan ke rumah
sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu
makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa kami sedang membawa mayat.
Tiba-tiba aku menjadi
takut mati. Peristiwa ini benar-benar memberi pelajaran berharga bagiku. Hari
itu, aku shalat kusyu' sekali.Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan
peristiwa itu.
Aku kembali pada
kebiasaanku semula...Aku seperti tak pemah menyaksikan apa yang menimpa dua
orang yang tak kukenal beberapa waktu lalu. Tetapi sejak saat itu, aku memang
benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu-lagu. Aku tak mau tenggelam
menikmatinya seperti sedia kala. Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang
pemah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu.
*Kejadian Yang
Menakjubkan...
Selang enam bulan dari
peristiwa mengerikan itu...sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan
mataku. Seseorang mengendarai mobilnya denganpelan, tetapi tiba-tiba mobilnya
mogok di sebuah terowongan menuju kota.
Ia turun dari mobilnya
untuk mengganti ban yang kempes. Ketika ia berdiri di belakang mobil untuk
menurunkan ban serep, tiba-tiba sebuah mobil dengan kecepatan tinggi
menabraknya dari arah belakang. Lelaki itu pun langsung tersungkur seketika.
Aku dengan seorang
kawan, -bukan yang menemani-ku pada peristiwa yang pertama-cepat-cepat menuju
tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi
rumah sakit agar langsung mendapat penanganan.
Dia masih muda, dari
tampangnya, ia kelihatan seorang yang ta'at menjalankan perintah agama.
Ketika mengangkatnya ke
mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia
menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa
membedakan suara yang keluar dari mulutnya.
Ia melantunkan ayat-ayat
suci Al-Qur'an...dengan suara amat lemah.
"Subhanallah!
" dalam kondisi kritis seperti , ia masih sempat melantunkan ayat-ayat
suci Al-quran? Darah mengguyur seluruh pakaiannya; tulang-tulangnya patah, bahkan:ia
hampir mati.
Dalam kondisi seperti
itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan suaranya yang merdu.
Selama hidup aku tak pernah mendengar suara bacaan' al quran seindah itu. Dalam
batin aku bergumam sendirian: "Aku akan menuntun membaca syahadat
sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu... apalagi aku Sudah punya
pengalaman" aku Meyakinkan diriku sendiri.
Aku dan kawanku seperti
kena hipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qurlan yang merdu itu.
Sekonyong-konyong tubuhku merinding menjalar dan menyelusup ke setiap rongga.
Tiba-tiba suara itu
berhenti. Aku menoleh ke belakang. Kusaksikan dia mengacungkan jari telunjuknya
lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang. Kupegang
tangannya, detak jantungnya nafasnya, tidak ada yang terasa. Dia telah
meninggal dunia.
Aku lalu memandanginya
lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui
kawanku. Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah wafat. Kawanku tak
kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis,
air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul-betul sangat mengharukan.
Sampai di rumah
sakit...Kepada orang-orang di sanal kami mengabarkan perihal kematian pemuda
itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan. Banyak orang yang
terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata.
Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri jenazah
dan mencium keningnya.
Semua orang yang hadir
memutuskan untuk tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah
akan dishalatkan. Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah, semua
ingin ikut menyalatinya.
Salah seorang petugas
tumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut mengantarkan jenazah hingga
ke rumah keluarganya. Salah seorang saudaranya mengisahkanl ketika kecelakaan
sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekejaan itu rutin ia
lakukan setiap hari Senin. Di sana almarhum juga menyantuni para janda, anak
yatim dan orang-orang miskin. Ketika tejadi kecelakaan, mobilnya penuh dengan
beras, gula, buah-buahan dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya. Ia juga tak
lupa membawa buku-buku agama dan kaset-kaset pengajian. Semua itu untuk
dibagi-bagikan kepada orang-orang yang ia santuni. Bahkan ia juga membawa permen
untuk dibagi-bagikan kepada anak-anak kecil.
Bila ada yang
mengeluhkan-padanya tentang kejenuhan dalam pejalanan, ia menjawab dengan
halus. "Justru saya memanfaatkan waktu pejalananku dengan menghafal dan
mengulang-ulang bacaan Al-Qur'an, juga dengan mendengarkan kaset-kaset
pengajian, aku mengharap ridha Allah pada setiap langkah kaki yang aku
ayunkan," kata almarhum.
Aku ikut menyalati
jenazah dan mengantamya sampai ke kuburan.
Dalam liang lahat yang
sempit, almarhum dikebumikan. Wajahnya dihadapkan ke kiblat.
"Dengan nama Allah
dan atas ngama Rasulullah".
Pelan-pelan, kami
menimbuninya dengan tanah...Mintalah kepada Allah keteguhan hati saudaramu,
sesungguhnya dia akan ditanya...
Almarhum menghadapi hari
pertamanya dari hari-hari akhirat...
Dan aku... sungguh
seakan-akan sedang menghadapi hari pertamaku di dunia.Aku benar-benar bertaubat
dari kebiasaan burukku. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa-dosaku di masa lalu
dan meneguhkanku untuk tetap mentaatinya, memberiku kesudahan hidup yang baik (khusnul
khatimah) serta menjadikan kuburanku dan kuburan kaum muslimin sebagai
taman-taman Surga. Amin...
5.
Perjalanan Yang Jauh
Nurah, saudara
perempuanku nampak pucat dan kurus sekali. Tetapi seperti biasa, ia masih
membaca Al-Qur'anul Karim.
Tika ingin menemuinya,
pergilah ke mushallanya. Di sana engkau akan mendapatinya sedang ruku', sujud
dan menengadahkan ke langit. Itulah yang dilakukannya setiap pagi, sore dan di
tengah malam hari. Ia tidak pernah jenuh.
Berbeda dengannya, aku
selalu asyik membaca majalah-majalah seni, tenggelam dengan buku-buku cerita
dan hampir tak pernah beranjak dari video. Bahkan, aku sudah identik dengan
benda yang satu ini. Setiap video diputar pasti di situ ada aku. Karena
'kesibukanku' ini, banyak kewajiban yang tak bisa kuselesaikan bahkan, aku suka
meninggalkan shalat.
Setelah tiga jam
berturut-turut menonton video di tengah malam, aku dikagetkan oleh suara adzan
yang berkumandang dari masjid dekat rumahku.
Sekonyong-konyong malas
menggelayuti semua persendianku, maka aku pun segera menghampiri tempat tidur.
Nurah memanggilku dari mushallanya.
Dengan berat sekali, aku
menyeret kaki menghampirinya.
Ada apa Nurah?, tanyaku.
"Jangan tidur
sebelum shalat Shubuh!", ia mengingatkan. "Ah. Shubuh kan masih satu
jam lagi. Yang baru saja kan adzan pertama
Begitulah, ia selalu
penuh perhatian padaku. Sering memberiku nasihat, sampai akhimya ia terbaring
sakit. ia tergeletak lemah di tempat tidur.
"Hanah!,"
panggilnya lagi suatu ketika.
Aku tak mampu
menolaknya. Suara itu begitu jujur dan polos.
Ada apa
saudariku?", tanyaku pelan.
"Duduklah!"
Aku menurut dan duduk di
sisinya. Hening...
Sejenak kemudian Nurah
melantunkan ayat suci Al-Qur'an dengan suaranya yang merdu.
"Tiap jiwa akan
merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari Kiamat sajalah disempumnkan
pahalamu." (Al Imran: 185)
Diam sebentar, lalu ia
bertanya: "Apakah kamu tidak percaya adanya kematian?"
"Tentu saja
percaya!"
"Apakah kamu tidak
percaya bahwa amalmu kelak akan dihisab, baik yang besar maupun yang
kecil?"
"Percaya. Tetapi
bukankah Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang, sementara aku masih muda,
umurku masih panjang!"
"Ukhti, apakah kamu
tidak takut mati yang datangnya tiba-tiba? Lihatlah Hindun, dia lebih muda
darimu, tetapi meninggal karena sebuah kecelakaan. Lihat pula si
fulanah...Kematian tidak mengenal umur. Umur bukan ukuran bagi kematian
seseorang.
Aku menjawabnya penuh
ketakutan. Suasana tengah malam yang gelap mencekam, semakin menambah rasa takutku.
"Aku takut dengan
gelap, bagaimana engkau menakut-nakutiku lagi dengan kematian ? Di mana aku
akan tidur nanti ?" Jiwa asliku yang amat penakut betul-betul tampak.
Kucoba menenangkan diri
aku benusaha tegar dengan mengalihkan pembicaraan pada tema yang menyenangkan,
rekreasi.
"Oh ya, kukira
ukhti setuju pada liburan ini kita pergi rekreasi bersama?", pancingku.
"'Tidak, karena
barangkali tahun ini aku akan pergi jauh, ke tempat yang jauh... mungkin...
umur ada di tangan Allah, Hanah", ia lalu terisak.
Suara itu bergetar, aku
ikut hanyut dalam kesedihan.
Sekejap, langsung
terlintas dalam benakku tentang sakitnya yang ganas. Para dokter, secara
rahasia telah mengabarkan hal itu kepada ayah. Menurut analisa medis, para dker
sudah tak sanggup, dan itu berarti dekatnya kematian.
Tetapi, siapa yang
mengabarkan ini semua padanya?, atau ia memang merasa sudah datang waktunya?,
"Mengapa ternenung?
Apa yang engkau lamunkan?", Nurah membuyarkan lamunanku.
"Apa kau mengira,
hal ini kukatakan karena aku sedang sakit? Tidak. Bahkan boleh jadi umurku
lebih panjang dari umur orang-orang sehat.
Dan kamu, sampai kapan
akan terus hidup? Mungkin 20 tahun lagi, 40 tahun atau...
Lalu apa setelah itu?
Kita tidak berbeda. Kita semua pasti akan pergi, entah ke Surga atau ke Neraka.
Apakah engkau belum mendengar ayat:
"Barangsiapa
dijauhkan dari Neraka dimasukkan ke dalam Surga maka sungguh ia telah
beruntung" ( Ali Imran: 185)
"Sampai besok
pagi," ia menutup nasihatnya.
Aku bergegas
meninggalkannya menuju kamar.
Nasihatnya masih
tergiang-ngiang di gendang telingaku, "Semoga Allah memberimu petunjuk,
jangan lupa shalat!"
Pagi hari...Jam dinding
menunjukkan angka delapan pagi.Terdengar pintu kamarku diketuk dari luar.
"Pada jam ini biasanya aku belum mau bangun" pikirku. Tetapi di luar
terdengar suara gaduh, orang banyak terisak.
"Ya Rabbi, apa yang
tejadi?"
"Mungkin Nurah...?,
"firasatku berbicara. Dan benar, Nurah pingsan, ayah segera melarikannya
ke rumah sakit.
Tidak ada rekreasi tahun
ini. Kami semua harus menunggui Nurah yang sedang sakit.
Lama sekali menunggu
kabar dari rumah sakit dengan harap-harap cemas.
Tepat pukul satu siang,
telepon di rumah kami berdering. Ibu segera mengangkatnya. Suara ayah di seberang,
ia menelpon dari rumah sakit. "Kalian bisa pergi ke rumah sakit
sekarang!," demikian pesan ayah singkat.
Kata ibu, tampak sekali
ayah begitu panik, nada suaranya berbeda dari biasanya.
"Mana
sopir...?" kami semua terburu-buru: Kami menyuruh sopir menjalankan mobil
dengan cepat. Tapi ah, jalan yang biasanya terasa dekat bila aku menikmatinya
dalam pejalanan liburan, kini terasa amat panj ang, panjang dan lama sekali.
Jalanan macet yang biasanya kunanti-nantikan sehingga aku bisa menengok ke
kanan-kiri, cuci mata, kini terasa menyebalkan. Di sampingku, ibu berdo'a untuk
keselamatan Nurah.
"Dia anak shalihah.
Ia tidak pernah menyia-nyia kan waktunya. Ia begitu rajin beribadah", ibu
bergumam sendirian.
Kami turun di depan
pintu rumah sakit. Kami segera masuk ruangan. Para pasien pada tergeletak
lunglai. Di sana sini terdengar lirih suara rintihan. Ada yang baru saja masuk
karena kecelakaan mobil, ada yang matanya buta, ada yang mengerang keras.
Pemandangan yang membuat bulu kudukku merinding.
Kami naik tangga
eskalator menuju lantai atas. Nurah berada di ruang perawatan intensif. Di
depan pintu terpampang papan peringatan: "Tidak boleh masuk lebih dari
satu orang!" Kami terperangah. Tak lama kemudian, seorang perawat datang
menemui, kami. Perawat memberitahu kalau kini kondisi Nurah mulai membaik,
setelah beberapa saat sebelumnya tak sadarkan diri.
Di tengah kerumunan para
dokter yang merawat, dari sebuah lubang keciljendela yang ada di pintu, aku
melihat kedua bola mata Nurah sedang memandangiku. Ibu yang berdiri di
sampingnya tak kuat menahan air matanya. Waktu besuknya habis, ibu segera
keluar dari ruang perawatan intensif.
Kini tiba giliranku
masuk. Dokter memperingatkan agar aku tidak banyak mengajaknya bicara. Aku
diberi waktu dua menit.
"Assalamu 'alaikum!,
bagaimana keadaanmu Nurah?, tadi malam, engkau baik-baik saja. Apa yang terjadi
denganmu?", aku menghujaninya dengan pertanyaan.
"Alhamdulillah, aku
sekarang baik-baik saja, jawabnya dengan berusaha tersenyum.
"Tapi, mengapa
tanganmu dingin sekali, kenapa?" aku menyelidik.
Aku duduk di pinggir
dipan. Lalu kucoba meraba betisnya, tapi ia segera menjauhkannya dari
jangkauanku.
"Ma'af, kalau aku
mengganggumu!", aku tertunduk.
"Tidak apa-apa. Aku
hanya ingat firman Allah Ta'ala:
"Dan bertaut betis(kiri)
dengan betis(kanan), kepada Tuhanmullah pada hari itu kami dihalau".
(Al-Qiyamah: 29-30)
Nurah melantunkan ayat
suci Alquran.
Aku menguattkan diri.
Sekuat tenaga aku berusaha untuk tidak menangis dihadapan Nurah, aku membisu.
" Hanah, berdoalah untukku.
Mungkin sebentar lagi aku akan menghadap. Mungkin aku segera mengawali hari
pertama kehidupanku diakhirat…Perjalananku amat jauh tapi bekalku sedikit
sekali".
Pertahananku runtuh. Air
mataku tumpah. Aku menangis sejadi-jadinya. Ayah mengkhawatirkan keadaanku.
Sebab mereka tak pernah melihatku menangis seperti itu.
Bersamaan dengan
tenggelamnya matahari pada hari itu. Nurah meninggal dunia….
Suasana begitu sepat
berubah. Seperti baru beberapa menit aku bebincang-bincang dengannya. Kini ia
telah meninggalkan kami buat selama-selamanya. Dan, ia tak akan pernah bertemu
lagi dengan kami. Tak akan pernah pulang lagi. Tidak akan bersama-sama lagi. Oh
Nurah…
Suasana dirumah kami
digelayuti duka yang amat dalam. Sunyi mencekam. Lalu pecah oleh tangisan yang
mengharu biru. Sanak kerabat dan tetangga berdatangan melawat. Aku tidak bisa
membedakan lagi, siapa-siapa yang datang, tidak pula apa yang mereka
percakapan.
Aku tenggelam dengan
diriku sendiri. Ya Allah, bagaimana dengan diriku? Apa yang bakal terjadi pada
diriku? Aku tak kuasa lagi, meski sekedar menangis. Aku ingin memberinya
penghormatan terakhir. Aku ingin menghantarkan salam terakhir. Aku ingin
mencium keningnya.
Kini, tak ada sesuatu
yang kuingat seai satu hal. Aku ingat firman Allah yang dibacakannya kepadaku
menjelang kematiannya.
"Dan bertaut betis
(kiri) dengan betis (kanan)". Aku kini benar-benar paham
bahwa,"Kepada Tuhanmullah pada hari itu kamu dihalau"
"Aku tidak tahu,
ternyata malam itu, adalah malam terakhir aku menjumpainya di mushallanya.
Malam ini, aku sendirian
di mushalla almarhumah. terbayang kembali saudara kembarku, Nurah yang demikian
baik kepadaku. Dialah yang senantiasa menghibur kesedihanku, ikut memahami dn
merasakan kegalauanku, saudari yang selalu mendo'akanku agar aku mendapat
hidayah Allah, saudari yang senantiasa mengalirkan air mata pada tiap-tiap
pertengahan malam, yang selalu menasihatiku tentang mati, hari perhitungan….ya
Allah!
Malam ini adalah malam
pertama bagi Nurah dikuburnya. Ya Allah, rahmatilah dia, terangilah kuburnya.
Ya Allah, ini mushaf
Nurah, …ini sajadahnya…dan ini..ini gaun merah muda yang pernah dikatakannya
padaku, bakal dijadikan kenangan manis pernikahannya.
Aku menangisi
hari-hariku yang berlalu dengan sia-sia. Aku menangis terus-menerus, tak bisa
berhenti. Aku berdo'a kepada Allah semoga Dia merahmatiku dan menerima
taubatku.
Aku mendo'akan Nurah
agar mendapat keteguhan dan kesenangan di kuburnya, sebagaimana ia begitu
sering dan suka mendo'akanku.
Tiba-tiba aku tersentak
dengan pikiranku sendiri. "Apa yang terjadi jika yang meninggal adalah
aku? Bagaimana kesudahanku?"
Aku tak berani mencari
jawabannya, ketakutanku memuncak. Aku menangis, menangis lebih keras lagi.
Allahu Akbar, Allnhu Akbar...Adzan fajar berkumandang. Tetapi, duhai alangkah
merdunya suara panggilan itu kali ini.
Aku merasakan kedamaian
dan ketentraman yang mendalam. Aku jawab ucapan muadzin, lalu segera
kuhamparkan lipatan sajadah, selanjutnya aku shalat Shubuh. Aku shalat seperti
keadaan orang yang hendak berpisah selama-lamanya. Shalat yang pemah kusaksikan
terakhir kali dari saudari kembarku Nurah.
Jika tiba waktu pagi, aku tak
menunggu waktu sore dan jika tiba waktu sore, aku tidak menunggu waktu pagi.
SYUBHAT
KETUJUH: MODE DAN BUKAN HIJAB
Sebagian
wanita muslimah yang tidak berhijab, mengulang-ulang syubhat yang intinya,
tidak ada yang disebut hijab secara hakiki, ia sekedar mode. Maka, jika itu
hanya mode, kenapa harus dipaksakan untuk mengenakannya?
Mereka
lalu menyebutkan beberapa kenyataan serta penyimpangan yang dilakukan oleh
sebagian ukhti ber-hijab yang pernah mereka saksikan. Sebelum membantah syubhat
ini, kami perlu mengetengahkan, ada enam macam alasan yang karenanya seorang
ukhti mengenakan hijab.
Pertama,
ia ber-hijab untuk menutupi sebagian cacat tubuh yang dideritanya.
Kedua,
ia ber-hijab untuk bisa mendapatkan jodoh. Sebab sebagian besar pemuda, yang
taat menjalankan syari'at agama atau tidak, selalu mengutamakan wanita yang
berhijab.
Ketiga,
ia ber-hijab untuk mengelabui orang lain bahwa dirinya orang baik-baik.
Padahal, sebenarnya ia suka melanggar syarilat Allah. Dengan ber-hijab, maka
keluarganya akan percaya terhadap kesalihannya, orang tidak ragu-ragu
tentangnya. Akhirnya, dia bisa bebas ke luar rumah kapan dan ke mana dia suka,
dan tidak akan ada seorang pun yang menghalanginya.
Keempat,
ia memakai hijab untuk mengikuti mode, hal ini lazim disebut dengan "hijab
ala Prancis". Mode itu biasanya menampakkan sebagian jalinan rambutnya,
memperlihatkan bagian atas dadanya, memakai rok hingga pertengahan betis,
memperlihatkan lekuk tubuhnya. Terkadang memakai kain yang tipis sekali
sehingga tampak jelas warna kulitnya, kadang-kadang juga memakai celana
panjang. Untuk melengkapi mode tersebut, ia memoles wajahnya dengan berbagaimacam
make up, juga menyemprotkan parfum, sehingga menebar bau harum pada setiap
orang yang dilaluinya.
Dia
menolak syariat Allah, yakni perintah mengenakan hijab. Selanjutnya lebih
mengutamakan mode-mode buatan manusia. Seperti Christian Dior, Valentine, San
Lauren, Canal, Cartier dan merek dari nama-nama orang-orang kafir lainnya.
Kelima,
ia ber-hijab karena paksaan darikedua orang tuanya yang mendidiknya secara
keras di bidang agama, atau karena melihat keluarganya semua ber-hijab,
sehingga ia terpaksa menggunakannya, padahal dalam hatinya ia tidak suka. Jika
tidak mengenakan, ia takut akan mendapat teror dan hardikan dari keluarganya.
Golongan
wanita seperti ini, jika tidak melihat ada orang yang mengawasinya, serta merta
ia akan melepas hijabnya, sebab ia tidak percaya dan belum mantap dengan hijab.
Keenam,
ia mengenakan hijab karena mengikuti aturan-aturan syari'at. Ia percaya bahwa hijab
adalah wajib, sehingga ia takut melepaskannya.Ia berhijab hanya karena
mengharapkan ridha Allah, tidak karena makhluk. Wanita ber-hijab jenis ini,
akan selalu memperhatikan ketentuan-ketentuan ber-hijab, di antaranya:
1)
Hijab itu longgar, sehingga tidak
membentuk lekuk-lekuk tubuh.
2)
Tebal, hingga tidak kelihatan sedikit pun
bagian tubuhnya.
3)
Tidak memakai wangi-wangian.
4)
Tidak meniru mode pakaian wanita-wanita
kafir, sehingga wanita-wanita muslimah memiliki identitas pakaian yang dikenal.
5)
Tidak memilih wama kain yang kontras
(menyala), sehingga menjadi pusat perhatian orang.
6)
Hendaknya menutupi seluruh tubuh, selain
wajah dan kedua telapak tangan, menurut suatu pendapat, atau menutupi seluruh
tubuh dan yang tampak hanya mata, menurut pendapat yang lain.
7)
Hendaknya tidak menyerupai pakaian
laki-laki, sebab hal tersebut dilarang oleh syara'.
8)
Tidak memakai pakaian yang sedang menjadi
mode dengan tujuan pamer misalnya, sehingga ia terjerumus kepada sifat
membanggakan diri yang dilarang agama.
Selain
ber-hijab yang disebutkan terakhir (nomor enam), maka alasan-alasan mengenakan
hijab adalah keliru dan bukan karena mengharap ridha Allah. Ini bukan berarti,
tidak ada orang yang menginginkan ridha Allah dalam ber-hijab. Ber-hijablah
sesuai dengan batas-batas yang ditentukan syari'at, sehingga anda termasuk
dalam golongan wanita yang ber-hijab karena mencari ridha Allah dan takut akan
murkaNya.
SYUBHAT
KEDELAPAN: MENGHALANGI BERHIAS
Syubhat
ini -sebagaimana yang terdahulu- lebih tepat disebut syahwat daripada syubhat.
Ia adalah nafsu buruk, sehingga menghalangi para wanita ber-hijab.
Tetapi
wanita yang menurutkan dirinya di belakang nafsu ini. Patut kita pertanyakan:
"Untuk siapa engkau pamer aurat? Untuk siapa engkau berhias?"
Jika
jawabannya: "Aku memamerkan tubuhku dan bersolek agar semua orang
mengetahui kecantikan dan kelebihan diriku," maka kembali kita perlu
bertanya:
"Apakah
kamu rela, kecantikanmu itu dinikmati oleh orang yang dekat dan yang jauh
darimu?"
"Relakah
kamu menjadi barang dagangan yang murah, bagi semua orang, baik yang jahat
maupun yang terhormat?"
"Bagaimana
engkau bisa menyelamatkan dirimu dari mata para serigala yang berwujud
manusia?". "Maukah kamu, jika dirimu dihargai serendah itu?"
1.
Kisah Nyata
Seorang artis terkenal,
mengadakan lawatan di salah satu negara teluk, untuk memeriahkan sebuah pesta
malam kolosal di negara tersebut. Bersama grupnya, ia akan menggelar konser
spektakuler.
Salah seorang wanita
shalihah menghubungi artis tersebut via telepon. Ia akan melaksanakan tugas
amar ma'ruf nahi munkar. Segera ia mencari nomor telepon kamar di hotel tempat
artis itu menginap. Setelah menemukannya, ia segera menghubungi. Selanjutnya
tejadilah dialog seperti di bawah ini:
Ukhti: "kami
ucapkan selamat atas kedatangan anda di negeri kami. Kami senang sekali atas
kehadiran anda disini. Kami ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepada anda,
saya harap anda sudi menjawabnya."
Artis: " Dengan
segala senang hati, silahkan anda bertanya!"
Ukhti: "Jika anda
memiliki barang yang berharga, dimana anada akan meletakkannya?"
Artis:"Di tempat
yang khusus, aku akan menguncinya sehingga tidak seorangpun bisa
mengambil."
Ukhti:"Jika sesuatu
itu barang yang amat berharga sekali, di mana anda akan
menyembunyikannya?"
Artis:"Di tempat
yang sangat khusus, sehingga tak ada satu tangan pun bisa menyentuhnya."
Ukhti: "Apakah
sesuatu yang paling berharga yang dimiliki oleh seorang wanita?"
Artis : "(Lama
tidak ada jawaban)
Ukhti: Bukankah kesucian
dirinya sesuatu yang paling berharga yang ia miliki?"
Artis :
"Benar….Benar, sesuatu yang paling berharga dari milik wanita adalah
kesuciannya."
Ukhti: 'Apakah sesuatu
yang amat berharga itu boleh dipertontonkan dimuka umum?"
Dari sini artis itu
mengetahui kemana arah pembicaraan selanjutnya. Ia tercenung beberapa saat,
lalu berteriak riang, seakan suara itu dari lubuk fithrahnya. Ia tersadarkan.
Artis: "Ini sungguh
ucapan yang pertama kali kudengar selama hidupku. Saya harus bertemu anda,
sekarang juga! Saya ingin lebih banyak mendengarkan petuah-petuah anda".
Wahai ukhti, jika engkau
menampakkan auratmu dan bersolek demi suamimu atau di depan sesama kaummu maka
hal itu tidak mengapal selama tidqk keluar dari rumah. Jika antar sesama
wanita, maka hendaknya engkau tidak menampakkan aurat yang tidak boleh dilihat
sesama wanita, yakni antara pusar dengan lutut.
2.
Perumpamaan
Saudariku, engkau amat
mahal dan berharga sekali. Pernahkah terlintas dalam benakmu, bagaimana seorang
pembeli membolak-balik barang yang ingin dibelinya? Jika ia tertarik dan
berniat membelinya, ia akan meminta kepada sang penjual agar ia diambilkan
barang baru sejenis yang masih tersusun di atas rak. Ia ingin agar yang
dibelinya adalah barang yang belum pemah tersentuh oleh tangan manusia.
Renungkanlah perumpamaan ini
baik-baik. Dari sini, engkau akan tahu betapa berharganya dirimu, yakni jika
engkau menyembunyikan apa yang harus engkau sembunyikan sesuai dengan perintah
Allah kepadamu.
SYUBHAT
KESEMBILAN: HIJAB MENCIPTAKAN PENGANGGURAN SEBAGIAN SDM DI MASYARAKAT
Syubhat
ini tidak begitu populer di kalangan wanita tak ber-hijab, tetapi ia amat
sering dilontarkan oleh orang-orang sekuler dan para pendukungnya. Menurut
mereka, hijab wanita akan menciptakan pengangguran sebagian dari SDM (Sumber
Daya Manusia) yang dimiliki oleh masyarakat. Padahal Islam menyuruh para wanita
agar tetap tinggal di rumah.
Syubhat
yang sering kita dengar ini, dapat kita sanggah dengan beberapa argumentasi:
Pertama,
pada dasarnya wanita itu memang harus tetap tinggal di rumahnya. Allah
berfirman:
Dan
hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku
seperti orang-orang jahiliah terdahulu." (Al-Ahzab: 33)
Ini
bukan berarti melecehkan keberadaan wanita, atau tidak mendayagunakan
SDM-nya,tetapi hal itu merupakan penempatan yang ideal sesuai dengan kodrat dan
kemampuan wanita.
Kedua,
Islam memandang bahwa pendidikan anak, penanaman nilai-nilai akhlak dan
bimbingan terhadap mereka sebagai suatu kewajiban wanita yang paling hakiki.
Berbagai hasil penelitian, yang dikuatkan oleh data stastitik, baik yang
berskala internasional maupun nasional menunjukkan berbagai penyimpangan
anak-anak muda, faktor utamanya adalah "broken home" (keruntuhan
rumah tangga) serta kurangnya perhatian orang tua terhadap anak-anaknya.
Ketiga,
Islam tidak membebani wanita mencari nafkah. Mencari nafkah adalah tugas
laki-laki. Karena itu, secara alamiah, yang paling patut keluar rumah untuk
bekeja adalah laki-laki, sehingga wanita bisa sepenuhnya mengurus pekerjaan
yang justeru lebih penting daripada jika ia bekerja di luar rumah, yaitu
mendidik generasi muda. Dan sungguh, tugas paling berat dalam masyarakat adalah
mendidik generasi muda.Sebab, daripadanya akan lahir tatanan masyarakat yang
baik.
Keempat,
Islam sangat memperhatikan perlindungan terhadap masyarakat dari kehancuran.
Pergaulan bebas, (bercampumya laki-laki dengan perempuan tanpa hijab) dan
sebagainya menyebabkan lemahnya tatanan masyarakat serta menjadikan wanita
korban pelecehan oleh orang-orang yang lemah jiwanya. Dan dengan pergaulan yang
serba boleh itu, masing-masing lawan jenis akan disibukkan oleh pikiran dan
perasaan yang sama sekali tak bermanfaat, apalagi jika ikhtilath itu oleh pihak
wanita sengaja dijadikan ajang pamer kecantikan dan perhiasannya.
Kelima,
Islam tidak melarang wanita bekeja. Bahkan dalam kondisi tertentu, Islam
mewajibkan wanita bekeja.
Yakni
jika pekejaan itu memang benar-benar dibutuhkan oleh masyarakat demi mencegah
madharatl Seperti profesi dokter spesialis wanita, guru di sekolah khusus
wanita, bidan serta profesi lain yang melayani berbagai kebutuhan khusus wanita.
Keenam,
dalam kondisi terpaksa, Islam tidak melarang wanita bekeja, selama berpegang
dengan tuntunan syari'at.
Seperti
meminta izin kepada walinya, menjauhi ikhfilath, khalwat (berduaan dengan
selain mahram), profesinya bukan jenis pekerjaan maksiat, jenis pekerjaan itu
dibenarkan syan at, tidak keluar dari kebiasaan dan tabiat wanita, tidak
mengganggu tanggung jawab pokoknya sebagai ibu rumah tangga serta syarat-syarat
lain yang diatur oleh agama.
SYUBHAT
KESEPULUH: HIJAB BUKAN FENOMENA BUDAYA
Banyak
orang berkata: "Hijab merupakan fenomena keterbelakangan bagi masyarakat,
hijab tidak menunjukkan budaya modem dan maju. Wanita yang berhijab laksana
tenda hitam yang bejalan, sangat aneh dan mengembalikan masyarakat padakehidupan
primitif.
1.
Kerancuan Istilah
Syubhat ini langsung
gugur karena kesalahan fatal dari argumentasi itu sendiri. Kemajuan budaya
bukanlah diukur dengan simbol-simbol fisik dan materi, seperti pakaian,
bangunan, kendaraan, perhiasan dan hal-hal lahiriah lainnya. Orang yang
mengukur kemajuan budaya masyarakat dengan simbol-simbol fisik adalah orang
yang tidak memahami masalah dan tidak bisa berfikir secara logis.
Kebudayaan adalah
istilah. Ia merupakan kumpulan nilai-nilai, akhlak dan perilaku dalam suatu
masyarakat. Adapun fenomena fisik atau material -seperti dicontohkan di atas-
semua itu tidak masuk dalam lingkup budaya, tetapi wujud dari peradaban.
2.
Penjelasan dari Sisi Empiris
Sebagai contoh, jika
seseorang melawat ke Amerika, ia akan merasakan dan menyaksikan kebebasan
sangat dijunjung tinggi oleh setiap orang di sana, balk pejabat pemerintah atau
rakyat biasa. Sebagai simbol kebebasan tersebut, mereka membangun patung
Liberty (kebebasan) di jantung kota terbesar di negara adidaya tersebut.
Karena itu, Amerika
tidak saja menjadi pelopor dunia di bidang teknologi semata, tetapi juga di
bidang nilai-nilai kemanusiaan. Pemerintah yang sangat berkuasa itu begitu
menjaga nilai-nilai tersebut untuk kepentingan rakyatnya.
Negara-negara lain,
ukuran keberhasilan dan kemundurannya juga dilihat dari seberapa jauh mereka
menghormati nilai-nilai tersebut, berikut penerapannya.
Contoh lain, ketika anda
pergi ke stasiun kereta api, di negara mana pun di Eropa, tentu anda akan
mendapati jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta api selama sepekan, lengkap
dengan jam dan menitnya.
Misalnya, dalam jadwal
tertulis, hari Senin, kereta api pertama tiba pada pukul 06.40 pagi. Jika anda
menunggu di stasiun, anda akan mendapati kereta api datang tepat pada waktunya,
tidak terlambat meskipun hanya satu menit. Seandainya tejadi keterlambatan
sedikit saja, maka di mana-mana anda akan melihat pengaduan, bahkan petugas
yang menyebabkan keterlambatan tersebut, dapat dipecat dari tugasnya. Mungkin
juga akan menimbulkan gejolakl balk lewat media massa atau unjuk rasa.
"Menghormati
waktu" adalah satu di antara nilai-nilai yang dimiliki oleh Eropa. Maka,
ukuran kemajuan Eropa dan peradabannya tidak semata karena teknologinya, tetapi
juga karena mereka memiliki nilai-nilai yang seialu dijunjung tinggi.'
Sebaliknya, masyarakat
kita tergolong masyarakat terbelakang, bukan karena tidak memiliki teknologi
semata, tetapi karena kita menjauhi nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang kita
miliki. Padahal nilai-nilai kita bersumber dari agama Islam kita yang agung.
Dari sinilah, lain masyarakat kita tergolong masyarakat yang paling banyak
pelanggarannya terhadap hak-hak asasi manusia (HAM), kezhaliman merajalela di
mana-mana, marak berbagai pelecehan terhadap hukum dan peraturan, jarang
mengikutsertakan aspirasi rakyat, tidak suka mendengarkan pendapat orang lain
serta berbagai tindak pelecehan lainnya.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka
mengenakan hijab Islami terhitung satu langkah maju untuk membangun budaya
masyarakat, sebab ia adalah cerminan akhlak, perilaku dan nilai yang
berdasarkan agama kita yang lurus. Tidak seperti tuduhan mereka, ber-hijab
bukan fenomena budaya.
SYUBHAT
KESEBELAS : ORANG TUA DAN SUAMIKU MELARANG BERHIJAB
Dasar
permasalahan ini adalah, bahwa ketaatan kepada Allah harus didahulukan daripada
ketaatan kepada makhluk, siapapun dia. Setelah ketaatan kepada Allah, kedua
orang tua lebih berhak untuk ditaati dari yang lainnya, selama keduanya tidak memerintahkan
pada kemaksiatan.
Masalah
lain, bahwa menyelisihi wali karena melaksanakan perintah Allah adalah di
antara bentuk taqarrub kepada Allah yang paiing agung, dan itu sekaligus termasuk
bentuk dakwah kepada wali.
Masalah
ketiga, jika wall, balk ayah atau suami melihat orang yang berada di bawah
tanggung jawabnya bersikeras, biasanya wall akan mengalah dan menghormati
pilihan orang yang berada di bawah tanggung jawabnya.
Kecuali
jika wali itu tidak memiliki rasa cinta hakiki kepada orang yang berada di
bawah tanggung jawabnya.
Berikut
kami turunkan beberapa fatwa ulama besar seputar masalah ini.
Soal:
"Bagaimana hukum orang yang menentang ibunya dengan tidak mentaatinya
karena ibu tersebut menganjurkan sesuatu yang didalamnya terdapat maksiat
kepada Allah? Seperti, sang ibu menganjurkannya bertabarruj, bepergian jauh
tanpa mahram. Ia berdalih bahwa hijab itu hanyalah khurafat dan tidak
diperintahkan oleh agama. Karena itu ibu meminta agar saya menghadiri berbagai
pesta dan mengenakan pakaian yang menampakkan apa yang diharamkan Allah bagi
wanita. Ia amat marah jika melihat saya mengenakan hijab".
Jawab:
"Tidak ada ketaatan kepada makhluk, Baik ayah, ibu atau selain keduanya
dalam hal-hal yang di dalamnya terdapat maksiat kepada Allah. Dalam sebuah
hadits shahih disebutkan:
"Sesungguhnya
ketaatan itu hanyalah dalam kebaikan ".
"Dan
tidak boleh ta'at kepada makhluk dnzgan mendurhakai (bermaksiat) kepada
AI-Khaliq "
Hal-hal
yang dianjurkan oleh ibu sang penanya di atas termasuk kemaksiatan terhadap
Allah, karena itu ia tidak dibenarkan mentaatinya. ( syaikh bin Baz )
Soal:
Beberapa lembaga tinggi di negara kami yang termasuk negara islam mengeluarkan
peraturan yang intinya memaksa para wanita muslimah agar melepas hijab,
khususnya tutup kepala (kerudung). Bolehkah saya mentaati peraturan tersebut?
Perlu diketahui, jika ada yang berani menentangnya maka ia akan mendapat sangsi
besar. Misalnya dikeluarkan dari tempat kerja, dari sekolah atau bahknn
dipenjara?
Jawab:
"Kejadian di negara anda tersebut merupakan ujian bagi setiap hamba".
Allah berfirman :
"Alif
laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:
"Kami telah beriman ", sedang mereka tidak diuji lagi? Dan,
sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya
Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui
orang-orang yang berdusta ". (al Ankabut: 1-3)
Menurut
hemat kami, semua muslimah di negara itu wajib tidak menta'ati ulil amri
(penguasa) dalam perkara yang mungkar tersebut. Karena ketaatan kepada ulil
amri menjadi gugur kalau ia memerintahkan perbuatan yang mungkar. Allah
berfirman:
"Hai
orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasulnya dan uIil amri di
antara kamu". (An-Nisa: 59)
Jika
kita perhatikan ayat di atas, kita tidak mendapati perintah taat untuk ketiga
kalinya. Hal ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada ulil amri harus mengikuti
(sesuai) dengan ketaatan kepada Allah dan RasulllrTya, jika perintah mereka
bertentangan dengan perintah Allah dan Rasulnya, maka perintah itu tidak boleh
dituruti dan ditaati
"Dan
tidak boleh ta 'at kepada makhluk dengan mendurhakai (bermaksiat) kepada
AI-Khaliq "
Resiko
yang mungkin menimpa para wanita dalam masalah ini, hendaknya dihadapi dengan
sabar dan dengan memohon pertolongan kepada Allah. Kita semua berdo'a, semoga
para penguasa dinegara tersebut segera mendapat petunjuk dari Allah.
Tapi,
menurut hemat kami, pemaksaan tersebut tidak akan tejadi manakala wanita tidak
keluar dari rumah) .
Jika
mereka berada di rumah masing-masing, tentu dengan sendirinya pemaksaan itu tidak
ada artinya sama sekali.
Para
wanita muslimah hendaknya tetap tinggal di rumah masing-masing sehingga selamat
dari peraturan tersebut.
Adapun
belajar yang di dalamnya terdapat kemaksiat-an, misalnya ikhtilath, maka hal
itu tidak dibenarkan.
Memang,
para wanita harus belajar sesuai dengan kebutuhannya, baik di bidang agama
maupun masalah dunia.
Tetapi
biasanya, hal ini bisa dilakukan di dalam rumah. Secara ringkas, dapat saya
katakan, kita tidak boleh mentaati ulil amri dalam perkara yang mungkar."
(Syaikh Ibnu Utsaimin)
Soal:
"Sepasang suami isreri telah dikaruniai beberapa anak. Seorang istri
menghendaki mengenakan pakaian sesuai dengan ketentuan syari'at, tetapi sang
suami melarangnya. Apa nasihat Syaikh terhadap suami seperti ini? "
Jawab:
"Kami nasihatkan kepada suami itu agar ia bertaqwa kepada Allah dalam
urusan keluarganya. Ia juga hendaknya bersyukur bepada Allah yang memberikan
kepadanya isteri yang ingin menerapkan salah satu perintah Allah. Yakni memakai
pakaian sesuai dengan ketentuan syari 'at, sehingga menjaga keselamatan dirinya
dari fitnah.
Di
samping itu, Allah memerintahkan agar para hambaNya yang beriman menjaga diri
dan keluarganya dari api Neraka. Allah berfirman:
"Hai
orang-orang yang beriman, peIiharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka
yang bahan bakarnya adaIah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang
kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai AIlah terhadap apa yang
diperintahkanNya kepada mereka, dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan
". (At-Tahrim: 6)
Nabi
Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga menegaskan:
"Seseorang
laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan bertanggungjawab atas yang dipimpinya
". (HR. AI-Bukhari)
Jika
demikian halnya, patutkah seorang suami berusaha memaksa isterinya menanggalkan
pakaian sesuai dengan ketentuan syara' agar selanjutnya mengenakan pakaian yang
diharamkan, yang menyebabkan fitnah?
Hendaknya
sang suami tersebut bertaqwa kepada Allah dalam dirinya dan dalam urusan
keluarganya. Justru ia harus bersyukur karena dimudahkan oleh Allah sehingga
mendapatkan isteri shalihah tersebut.
Adapun
terhadap isterinya, kami nasihatkan agar ia tidak mentaati suaminya dalam
kemaksiatan terhadap Allah, sampai kapan pun. Sebab tidak ada ketaatan kepada
makhluk dalam kemaksiatan terhadap Al Khaliq (Syaikh Ibnu Utsaimin)
KESIMPULAN
Inilah
hukum syari 'at menurut keterangan para ulama kita seputar masalah syubhat yang
sedang kita bahas. Tetapi, untuk menolak wali, jika ia memerintahkan
bertabarruj atau melarang berhijab, hendaknya ia melakukan secara hikmah.
Hikmah
yang dimaksud di antaranya adalah :
- Memperhatikan adab dan sopan santun dalam menerangkan apa yang anda yakini kebenarannya. Misalnya dengan tidak meninggikan suara atau menggunakan kalimat yang memancing emosi dan kemarahan waliyyul amri.
- Tabah dalam menghadapi ejekan, celaan dan hinaan. Hendaknya lapang dada dan tidak cemas. Juga hal itu tidak boleh menyebabkan muamalah yang tidak baik kepada waliyyul amri.
- Setelah memohon pertolongan kepada Allah, hendaknya anda juga berusaha dengan memohon pertolongan kepada sanak kerabat dan kawan-kawan dekat yang telah mkndapatkan hidayah Allah.
- Hendaknya anda memohon pertolongan kepada Allah, terus menerus berdoa agar diberikan keteguhan dan dikeluarkan dari berbagai kesulitan, membaca Al-Qur'an terutama saat mendapatkan celaan, dan hinaan, agar bisa menahan diri--dari godaan setan.
- Hendaknya anda tidak menerangkan apa yang anda yakini dengan nada menggurui atau merasa lebih tinggi, tetapi sampaikanlah dengan bahasa murid terhadap gurunya, sebab seorang ayah atau ibu tidak suka melihat anaknya bersikap merasa tinggi atau sebagai guru terhadap mereka.
- Membalas keburukan dengan kebaikan.
- Memilih saat yang tepat untuk mengadakan dialog.
- Hendaknya ukhti ini sadar bahwa Surga itu sangat mahal, dan sesuatu yang mahal tidak akan diberikan kecuali setelah kepayahan, kerja keras dan tabah menanggung berbagai rintangan dan gangguan di jalan Allah Ta 'ala.
PENUTUP
Setelah
berabad-abad imperialisme kafir mencengkaramkan kukunya di berbagai negara,
muncullah kesadaran lewat berbagai gerakan kemerdekaan di negara-negara
terjajah untuk memerangi para imperialis tersebut.
Setelah
timbulnya perlawanan yang menelan korban tidak sedikit di pihak imperialis,
balk secara material maupun non material, para imperialis-kolonialis
tersadarkan bahwa pengerahan unsur militer sudah tidak sesuai lagi. Sebab ia
akan membangkitkan semangat dan perlawanan, yang tentunya bersebrangan dengan
niat para imperialis yang hendak mengeksploitasi kekayaan negara-negara
jajahannya bagi pembangunan negaranya.
Karena
itu, sebelum mereka keluar dari negara-negara jajahannya, mereka berfikir untuk
mendapatkan metodhe lain, selain kolonialisasi lewat pengerahan militer.
Akhimya mereka berhasil menentukan alternatif lain, berupa ghazwuts tsaqafi
(perang budaya dan pemikiran). Yaitu dengan menjadikan putra-putra kita agar
mengikuti pengaruh, tradisi, kebiasaan dan nilai-nilai kehidupan mereka. Dengan
demikian, mereka menjadi abdi (tangan kanan bagi imperialisme baru yang tak
perlu lagi membutuhkan kekuatan militer meski hanya satu orang.
Dan
inilah yang gencar dilakukan hingga sekarang.
Adapun
di antara perhatian dan sasaran utama mereka dalam ghazwuts tsaqafi ini adalah
wanita. Mereka menginginkan agar para wanita muslimah menjadi seperti keadaan
wanita-wanita mereka. Bebas berteman dan bergaul dengan laki-laki, mau membuka
aurat, berenang dalam satu kolam bersama laki-laki, menafikan kodrat wanita,
memperiuanakan emansipasi wanita-pria dalam segala hal, sehingga menganjurkan
wanita berkompetisi dengan laki-laki dalam semua lapangan kehidupan dan
sebagainya.
Untuk
mencapai tujuan itu, mereka menerbitkan ratusan buku, majalah dan koran,
memperalat para bintang film dan seniman, memboyong pertunjukan teater,
pemutaran film, dan sinetron, beasiswa pendidikan, berbagai klub, organisasi
dan sarana-sarana lain yang semuanya ditumpahkan agar sasaran utama mereka
berhasil. Yakni memperbudak negara kita tanpa menggunakan kekuatan militer,
tapi melalui berbagai macam kerusuhan dan kerusakan, penghancuran nilai-nilai dan
tradisi yang bersumber dari agama kita yang lurus.
Apa
yang kita saksikan dari berbagai bentuk kemungkaran wanita seperti tabarruj,
bepergian tanpa mahram dan sebagainya adalah hasilghazwuts tsaqafi, yang
dilancarkan sejak runtuhnya khilafah Islamiyah hingga sekarang.
Oleh
sebab itu, merupakan tanggung jawab para ahli kebaikan untuk menghentikan
penggerogotan nilai-nilai dan tradisi kita. Apa yang kami lakukan melalui
penulisan buku ini, adalah satu bentuk usaha untuk menghentikan ghazwuts
tsaqnfi tersebut, sehingga kita kembali lagi kepada ashalah (kemurnian ajaran
Islam), meninggalkan kehinaan dan tidak mengekor kepada kehendak orang-orang
kafir.
Sumber : swaramuslim
Sumber : swaramuslim



