twitter


“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah mereka berserah diri segala yang dilangit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan”.(QS. Ali Imran:83)

Makna hakiki dari Islam adalah tunduk dan patuh. Yang dimaksud tunduk dan patuh di sini adalah tunduk dan patuh kepada aturan-aturan Allah. Sampel keislaman yang dikehendaki oleh Allah SWT sebagaimana dinyatakan dalam ayat di atas adalah Islamnya alam semesta. Jadi kita harus ber-Islam sebagaimana Islamnya alam semesta. Tetapi bagaimana alam semesta ber-Islam?



Mari kita perhatikan ayat berikut:

“Apakah kamu tiada mengetahui, bahwa kepada Allah bersujud apa yang ada di langit, di bumi, matahari, bulan, bintang, gunung, pohon-pohonan, binatang-binatang yang melata dan sebagian besar daripada manusia? Dan banyak di antara manusia yang telah ditetapkan azab atasnya. Dan barangsiapa yang dihinakan Allah maka tidak seorangpun yang memuliakannya. Sesungguhnya Allah berbuat apa yang Dia kehendaki”.(QS. Al-Hajj:18)

Islamnya alam semesta ternyata bersujud mengabdi kepada Allah. Artinya, mereka tunduk patuh berjalan pada garis ketentuan Allah SWT. Mereka semuanya melakukan ibadah, melakukan sholat dan tasbih sebagaimana yang dilakukan oleh manusia, tetapi hanya Allah-lah yang lebih mengetahui tata cara tasbih dan sholatnya.

Seluruh makhluk di alam ini, dari matahari, bulan, bintang, gunung, pohon, binatang-binatang, burung-burung dan lain-lain, semuanya tunduk, bersujud, ber-Islam kepada Allah SWT. Dalam ber-Islam, seluruh makhluk yang ada di semesta ini memiliki orbit (jalan) yang mesti dilaluinya. Dalam bersujud (ber-Islam) kepada Allah, matahari beredar pada orbitnya dan tidak pernah keluar dari orbit itu walau sedikit. Demikian juga bulan, bumi dan bintang-bintang yang ada di semesta ini, semuanya beredar pada orbitnya tanpa pernah keluar dari garisnya walau sedikit. Matahari, bulan, bintang-bintang tidak pernah ingkar dari garis ini. Matahari tak pernah keluar dari orbitnya lalu beredar pada orbit bintang lain. Demikian juga bumi tidak pernah keluar dari orbitnya lalu berjalan di orbit bintang lain. Inilah jalan keislaman yang dikehendaki oleh Allah, ketundukan pada orbit yang telah ditetapkan baginya.

“Dan masing-masing beredar pada garis edarnya”.(QS. Yasin:40)

Manusia, sebagaimana makhluk lainnya, juga diwajibkan oleh Allah berislam (bersujud) bersama sujudnya makhluk-makhluk lainnya. Bila alam semesta dalam bersujud memiliki orbit untuk membuktikan keislamannya dan untuk menyampaikannya kepada Allah, bagaimana dengan manusia, apakah ia harus memiliki dan melalui garis orbit juga? Pasti! Kalau dalam ber-Islam kepada Allah makhluk lain memiliki garis edar, maka untuk melakukan ibadah manusia juga harus memiliki garis edar (jalan) yang mesti dilaluinya. Rotasi kehidupan manusia adalah berangkat untuk kembali menuju Allah SWT.

“Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun (dari Allah dan akan kembali kepada Allah)

Kalau tujuan perjalanan hidup manusia adalah menuju Allah, maka adakah sembarangan jalan (orbit) yang akan bisa menyampaikannya kepada Allah? Tentu tidak! Tentu hanya jalan yang terkait dengan Allah, yang menuju Allah, yang akan menyampaikannya kepada Allah. Manusia tidak akan pernah sampai kepada Allah kalau ia tidak memiliki dan menempuh jalan yang menghantarkannya kepada Allah.

Untuk kepentingan ibadah, ber-Islam dan bersujud secara benar, Allah SWT telah memberikan satu jalan (orbit) yang mesti dilalui oleh manusia, yaitu sabilillah. Kalau manusia tidak melewati garis ini dalam ber-Islam, sesungguhnya ia telah berada pada orbit yang salah. Berada pada orbit yang salah berarti keluar dari jalur keislaman. Dan keluar dari jalur keislaman berarti bukan seorang muslim. Jadi, keislaman yang dikehendaki oleh Allah adalah keislaman yang berada pada jalan (orbit) yang benar, yaitu sirotol mustaqim. Fahal antum muslimun?

Perhatikan ayat berikut:

“Bahwa ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa:.(QS. Al-An’am:153)

Ayat ini telah dijelaskan oleh Rasulullah SAW dengan sangat gamblang dalam bentuk garis sebagaimana diterangkan dalam hadist yang diriwayatkan dari Jabir ra:

“Kami duduk bersama Rasulullah SAW, lalu beliau membuat garis lurus di depannya, lalu berkata:”Ini adalah Jalan Allah”. Kemudian beliau membuat dua garis di kanan dan dua garis di kiri lalu berkata:”Ini adalah jalan setan”. Kemudian beliau meletakkan tangannya di garis tengah lalu membacakan ayat berikut:”Bahwa ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa”.

Secara garis lurus, Allah telah menyediakan satu jalan (orbit) bagi manusia untuk ber-Islam menuju Allah. Jalan itu adalah nabi dan rasul. Karenanya, manusia tidak akan pernah sampai pada ketaatan kepada Allah SWT kecuali melalui jalan ini, karena tidak ada jalan lain yang diciptakan Allah sebagai jalan ber-Islam menuju kepada-Nya.

Kerasulan sebagai orbit manusia satu-satunya menuju Allah, telah secara terus-menerus dimunculkan oleh Allah dengan dikirimnya para nabi dan rasul secara sambung menyambung sepanjang masa. Dari nabi Adam as sampai nabi Muhammad SAW. Inilah jalan itu, inilah jalan Islam, inilah jalan yang mesti dilalui oleh manusia dalam bersujud kepada Allah SWT. Tidak ada jalan diluar jalan Nabi dan Rasul.

“Barangsiapa yang menta’ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta’ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari keta’atan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka”.(QS. An-Nisa:80)

Semua Nabi telah menegaskan hakekat jalan ini.

Yang menjadi masalah adalah, apakah dengan berakhirnya kenabian ini berarti terputus pula orbit bagi manusia untuk ber-Islam menuju Allah???

Tidak! Allah menyambungkan jalan itu dengan khilafah, sehingga dengan adanya khilafah jalan menuju Allah tetap terbentang, dan manusia tetap dapat beribadah kepada Allah, manusia tetap bisa bersujud kepada Allah bersama sujudnya semesta alam pada orbit yang benar. Dalam hadist yang diriwayatkan Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda,

“Adalah Bani Israil kepemimpinan mereka selalu di pegang oleh nabi-nabi. Setiap meninggal seorang Nabi maka Nabi itu digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tak ada lagi Nabi sesudahku, yang ada hanya para khalifah yang banyak jumlahnya. Para sahabat bertanya:”Apakah yang engkau suruh kami kerjakan? Nabi menjawab:”Sempurnakanlah bai’at yang telah engkau berikan kepada yang pertama. Kemudian yang datang sesudahnya. Sesungguhnya Allah akan bertanya kepada mereka tentang apa yang Allah suruh kepada mereka”.

Dalam hadist yang lain Rasulullah SAW bersabda,

“Sesungguhnya aku memerintahkan kepadamu dengan lima perkara sebagaimana Allah memerintahkan kepadaku, yaitu: berjama’ah, mendengar, taat, hijrah dan jihad fi sabilillah. Karena sesungguhnya siapa yang keluar dari jama’ah barang sejengkal, maka sungguh telah lepas ikatan Islam dari lehernya sampai dia kembali (bertaubat) dan barangsiapa yang berseru dengan seruan jahiliyah, maka ia bertekuk lutut dalam neraka jahanam. Sahabat bertanya:”Sekalipun dia puasa dan shalat, ya Rasulullah?’. Jawab Nabi SAW:”Sekalipun dia puasa dan shalat dan sekalipun ia mengaku muslim. Maka serulah orang-orang Islam dengan nama mereka, yaitu Al Muslimun, Al Mu'minun, hamba-hamba Allah Azza wa jalla”.

Jama’ah adalah esensi khilafah, orbit ber-Islam satu-satunya yang terus terbentang menuju Allah. Dalam sunnah Rasulullah di atas ditegaskan:”Sekalipun sholat, sekalipun puasa, bahkan sekalipun mengaku sabagai muslim”, tetapi tidak berorbit dengan orbit jama’ah adalah sia-sia. Tetapi kini kebanyakan manusia telah keluar dari orbit ini, mereka ber-Islam bukan dengan orbit Islam, mereka ber-Islam tetapi melalui orbit lain. Kalau demikian apakah mereka dapat dikatakan sebagai muslim???

Ketika arus kekufuran begitu dahsyat, Nabi Isa as telah mengkokohkan pendirian al-Hawariyyin dengan ikrar keislaman:

“Saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang Muslim”.(QS. Ali Imran:52)

Ketika menghadapi kebebalan ahli kitab yang menolak risalahnya, nabi Muhammad SAW diperintah Allah untuk memperteguh akidah para sahabatnya dengan ikrar keislamnya:

“Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”.(QS.Ali Imran:64)

Oleh karena itu, di tengah arus kekufuran yang kini semakin merajalela, selayaknya kita mempertegas ikrar keislaman kita:

“Isyhaduu bianna muslimuun” (saksikan kami adalah seorang muslim)

Katakan:”Isyhaduu bianna muslimuun”,..pasti anda yakin bahwa tidak ada agama yang legal di sisi Allah kecuali hanya Islam, karena Allah yang tidak pernah dusta telah berfirman:

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam”.(QS. Ali Imran:19)

Katakan:”Isyhaduu bianna muslimuun”,..pasti anda yakin bahwa tidak ada petunjuk hidup yang boleh anda ikuti kecualil Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW. Karena Rasulullah SAW telah menegaskan:

“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Seburuk-buruk perkara adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah kesesatan dan setiap kesesatan tempatnya adalah neraka”.

Katakan:”Isyhaduu bianna muslimuun”,..pasti anda yakin bahwa orbit satu-satunya dalam beribadah kepada Allah adalah jalan kerasulan yang setelahnya disambung dengan jalan khilafah. Rasulullah SAW bersabda:

“Tangan Allah beserta Jama’ah, barangsiapa yang menyimpang, maka ia menyimpang ke dalam neraka”.

Katakan:”Isyahduu bianna muslimuun”,..pasti anda yakin bahwa di pundak anda terpikul tugas menegakkan agama, amar ma’ruf nahi munkar sehingga Allah memenangkan agama-Nya. Karena anda adalah seperti yang disifatkan oleh Allah dalam firman-Nya:

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”.(QS. Ali Imran:110)

Rasulullah SAW bersabda:

“Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, kamu wajib melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar atau kalau tidak sungguh Allah tidak ada ragu-ragu untuk menimpakan azab-Nya kepada kamu, kemudian kamu berdoa kepada-Nya kemudian tidak diijabah lagi”.

Katakan:”Isyhaduu bianna muslimuun”,..maka adakah suatu sikap kecuali berkata:

“Dan hanya kepada-Nya kami tunduk patuh!...Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah!...Dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati!”.(QS.AlBaqarah:136,138,139)

0 komentar:

Posting Komentar

Komentarlah dengan Bijaksana

Bookmarks