Aku tak perlukan wanita yang tak ambil peduli ketika suami dia keluar dengan perempuan lain, aku perlukan isteri yang akan memarahi aku kalau terbukti aku keluar dengan perempuan lain yang bukan mahrom.
Aku perlukan isteri yang menjadi penenang hati suami, tenang melihat pada akhlak dia, senyuman dia, tak banyak buruk sangka, nasehat yang berguna, tegur aku bila aku berbuat salah.
Pernah pada masa-masa awal perkawinanku, masih belum bisa menghilangkan kebiasaan gaya hidup bujangku yang dahulu. Aku selalu pulang larut malam untuk ngelantur dengan kawan kawanku. Tapi setiap kali aku pulang larut malam aku tengok isteriku senantiasa akan siap menyambutku di depan pintu bila mendengar bunyi sepeda motorku, tak kira pukul 1 atau pukul 3 pagi sekalipun, dia akan senantiasa menanti aku pulang, dia akan melayani aku sebagaimana aku pulang awal seperti biasa, menyediakan air minum, hamparkan sajadah kalau kalau aku masih belum shalat isya.
Lama-lama aku jadi serba salah, bila aku enak enak ngelantur teringat dia yang bersusah payah menahan mata tunggu aku pulang…. ingin menitis airmataku bila teringatkan wajah isteri aku. Semenjak itu, aku selalu pulang awal untuk bersama isteriku…
Cara dia bentuk aku itu… dia tak perlu luahkan dengan kata-kata…. dia tak perlu marahi aku ataupun ngambek….. dia bentuk aku dengan akhlak dia, dia bentuk aku dengan keikhlasan hati dia…. Dia timbulkan rasa bersalah aku pada dia… dia ingatkan aku tanggungjawab suami hanya dengan menunjukkan akhlak dia.
***
Semua orang mampu, antara mau atau tidak saja….. cara dia bentuk aku, meninggalkan kesan sampai sekarang….
Di salin dari Majalah Mutiara Amaly



