twitter



Yang Suci Tak Kan Mandul Untuk Melahirkan Mujahid Dan Mujahidah
{MONOLOG SEORANG PEJUANG}

{Khas buat insan teristimewa dalam hidup ini... dan juga isteri-isteri pejuang... serta bakal isteri seorang pejuang}

Isteriku...

Apabila kusentuh telapak tanganmu... Ku usap-usap, ianya semakin kasar dan keras... Apabila kurenung wajahmu... Terpancar sinar bahagia dan ketenangan walaupun kutahu... Redup matamu menyimpan satu rintihan yang memberat... Apabila kutersentak dari pembaringan di kala fajar kadzib menyingsing... Aku terpana karena munajatmu yang syahdu.



Pedoman menjalani kehidupan yang semakin menantang zaman ini.

1. KETIKA MENCARI CALON
Jangalah mencari isteri, tapi carilah ibu bagi anak-anak kita. Janganlah mencari suami, tapi carilah ayah bagi anak-anak kita.

2. KETIKA MELAMAR
Anda bukan sedang meminta kepada orang tua/wali si gadis, tetapi meminta kepada Allah melalui orang tua/wali si gadis.


Palestina...
Bumi yang senantiasa di hati...
Semoga bisa diri ini pergi...
Semoga bisa diri ini merasakan...
Jihad & syahid di bumi suci...
Amin...

Apa kabar iman di hati dinda? Sebagai sayap kiri perjuangan, Dinda lebih memaklumi kesibukan abang, bukan? Bersama Aman Palestin, abang semaikan jihad berkorban dalam jihad yang paling dalam.

Istilah penat dan mengharapkan istirahat terpaksa abang abaikan. Bukankah dunia sebagai tempat pertempuran karena istirahat yang sebenarnya akan kita temui di Jannah kelak? Kamar syurga sedang menanti, ya dinda.



Pagi-pagi sekali, seorang teman mengirimi saya sms. "Pernah berpikir gak kalo lembaga pernikahan itu merupakan alat eksploitasi perempuan oleh gender lainnya? Sebab karena pernikahan, kita mesti hamil, melahirkan, begadang malam-malam, dan sibuk oleh seabreg pekerjaan rumah." begitu bunyi sms-nya. Sayapun maklum. Rupanya dia sedang sedikit frustasi, sebab baru satu minggu ini disibukkan oleh momongan pertama. Dengan niat untuk menghibur, lalu saya balas sms-nya itu dengan sebaris kalimat kelakar : "Hmm, never! Enak-kan punya bayi? Welcome to the jungle!"

Setelah masa cutinya selesai, pada satu kesempatan luang kami bertemu dan diapun kembali mengeluarkan uneg-uneg. Mengingat kesibukannya saat mengurus anak pertama, dia jadi teringat mata kuliah tentang feminisme semasa kuliah dulu. Itulah sebabnya ia kemudian mengirimkan sms berisi pertanyaan diatas kepada saya.



Ukhti,... sebelum tiba ke dalam gerbang pernikahan biasanya engkau akan mengalami ihwal melihat calon pasanganmu. Baik si dia maupun engkau masing-masing ingin tahu lebih banyak tentang calon yang akan menjadi pendamping hidupnya. Dan..., memang itu tidak salah bahkan Islam menganjurkan agar calon suami ukhti melihat dirimu, karena agama kita ini adalah agama yang hanif yang tidak memuat kecurangan ataupun membuat rugi pemeluknya, maka engkau akan melihat betapa sempurnanya dienmu ini.

Bila masa itu tiba, dan engkau ingin dilihat olehnya, maka persiapkanlah dirimu dengan sebaik-baiknya biarkan ia melihatmu, jangan engkau tutupi segala kekurangan yang ada padamu karena itu akan membawa penyesalan nantinya. Adapun kelebihan yang ada pada dirimu maka pertahankanlah, jadilah dirimu sendiri, inilah aku apa adanya, semoga engkau menjadi suka padaku karena Allah semata.



Diam adalah emas...
Sahabat, sering kita dengar ungkapan tersebut. Namun diam seperti apakah yang akan menjadi emas? Tentu bukan diam karena tidak tahu, diam karena lemah, diam karena pasrah, atau diam karena menyerah kalah. Menjadi muslimah diam? Diam apakah yang akan menjadikan seorang muslimah menjadi pribadi unggulan yang dijadikan sebagai figur dambaan umat?


Menjadi wanita memang menyenangkan, apalagi wanita "Muslimah", sebab muslimah berarti wanita yang telah diseleksi oleh Allah untuk menerima hidayah-Nya dan menjalankan kehidupan sesuai dengan sunnah Rasul-Nya.

Rasulullah sebagai manusia pilihan Allah, sangat peduli terhadap muslimah. Beliau sangat menyayangi muslimah sehingga beliau berpesan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, "Tidaklah seorang muslim yang mempunyai anak dua orang perempuan kemudian ia berbuat baik dalam berhubungan dengan keduanya akan bisa memasukannya ke dalam surga."


Lunglai...
Tubuhnya terkulai lemah dengan sisa butiran keringat yang masih tampak berkilauan di dahinya. Perjuangan hidup mati yang menggadaikan jiwa baru saja usai. Semburat pucat di wajah pun perlahan lenyap. Namun ia tersenyum, lalu bibirnya melafadzkan hamdalah.

Tak lama, sosok mungil itu ada di dalam dekapan. Dipeluknya dengan segenap kehangatan kasih sayang, padahal dirinya sendiri masih tampak lelah. Terlihat matanya berbinar-binar senang seraya tak henti-hentinya menyapa buah hati tercinta. Tetes air bening pun mengalir dari sudut mata, air mata bahagia.

Bagai melepas kerinduan yang teramat dalam, pipi yang masih kemerah-merahan itu dicium dengan lembut dan kepalanya dibelai dengan manja. Yang dirindukan pun sedikit menggeliat. Subhanallah, betapa indahnya ciptaan-Mu, ya Allah. Mata kecilnya memang belum bisa melihat dengan sempurna, namun nalurinya berkata, dirinya berada di tangan seseorang yang sangat mencintainya.


Dimanapun engkau,
Dan dalam keadaan apapun,
Berusahalah dengan sungguh-sungguh
Tuk menjadi seorang pencinta

Tatkala cinta benar-benar tiba
Dan menyelimutimu
Maka selamanya kau akan menjadi seorang pencinta.
(Kearifan cinta, Jalaluddin Rumi)


Ketika melihat pasangan yang baru menikah, saya suka tersenyum. Bukan apa-apa, saya hanya ikut merasakan kebahagiaan yang berbinar spontan dari wajah-wajah syahdu mereka. Tangan yang saling berkaitan ketika berjalan, tatapan-tatapan penuh makna, bahkan sirat keengganan saat hendak berpisah. Seorang sahabat yang tadinya mahal tersenyum, setelah menikah senyumnya selalu saja mengembang. Ketika saya tanyakan mengapa, singkat dia berujar "Menikahlah! Nanti juga tahu sendiri". Aih...


"Ikhwan-nya menikah ama motor sich, makanya gak nikah-nikah. Bikin kita gelisah dalam penantian." Begitulah selentingan yang terdengar di kalangan akhwat di daerahku. Dan kebetulan selentingan itu kedengar juga di telingaku, maka dengan berlagak sebagai tim pencari fakta, kucoba mengkorek beberapa ikhwan yang secara nggak langsung "tertembak" dengan ungkapan tersebut.

***

"Coba pikir dech akh, kayaknya gak adil mereka menyalahkan kita yang menunda pernikahan karena harus melunasi cicilan motor. Motor ini kan sarana dakwah kala kita dituntut untuk mobilitas tinggi. Kalau gak ada motor kan susah kemana-mana, kegiatan terhambat, ongkos transportasi melunjak dan lain-lain. Sekarang kan antum bisa lihat dengan ane punya motor kan banyak aktifitas dakwah yang kepegang, bener kan akh." Itu kata ikhwan yang memang menjadikan kos-kosanya sebagai rumah singgah kala butuh mandi dan ganti baju saja. Selebihnya selalu di luar rumah untuk urusan dakwah, dari TPA, RISMA, Kepanduan, dan seabrek kegiatan lainnya.

Bookmarks