twitter


Sekali lagi Nasrudin diundang Timur Lenk. Nasrudin ingin membawa buah tangan berupa itik panggang. Sayang sekali, itik itu telah dimakan Nasrudin sebuah kakinya pagi itu. Setelah berpikir-pikir, akhirnya Nasrudin membawa juga itik panggang berkaki satu itu menghadap Timur Lenk.

Seperti yang kita harapkan, Timur Lenk bertanya pada Nasrudin, "Mengapa itik panggang ini hanya berkaki satu, Mullah ?"


Dua malam yang lalu, seperti biasa aku duduk didepan meja bundarku. Aku ditemani pena yang menggelayut erat dalam lipatan jariku berpikir mengumpulkan hal-hal baru yang menarik dan dapat kurangkai dalam kata-kata. Ya, itulah kebiasaanku, menulis di tengah heningnya malam dan kegelapannya. Sebuah kebiasaan yang telah dipahami dengan sendirinya oleh para rekan dan keluargaku.

Belum lama aku tenggelam dalam perenunganku, dan belum sebuah masalah pun yang tergambar dalam otakku. Tiba-tiba sebuah sengatan tajam menusuk kulit telingaku, lalu pindah ketanganku.... Pikiranku buyar.. tapi ternyata kebuyaran itu membentuk sebuah hal baru yang muncul dalam pikiranku.


Seorang pria mendatangi Sang Master, "Guru, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu berantakan. Saya ingin mati."
Sang Master tersenyum, "Oh, kamu sakit."
"Tidak Master, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati."
Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Master meneruskan, "Kamu sakit. Dan penyakitmu itu sebutannya, 'Alergi Hidup'. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan."
Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Resistensi kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit.



Penulis: Ema Kaysi


Selembar surat bersampul biru muda jatuh di pangkuan Nur. Saat itu senja merona bersemburat cahaya jingga di ufuk barat. Sekelompok burung pipit terbang melintasi anjungan. Angin semilir meniup kelopak flamboyan, mahkotanya berhamburan mencium bumi.

Dulu, Nur paling benci bila dikatakan bagai flamboyan. Pohon yang tinggi tegar berbunga kecil yang mudah gugur, ibarat gadis angkuh yang mudah patah hati. Hush, tidak boleh mencela makhluk Tuhan.

Si Mas bilang, “Mungkin kamu memandangnya dari sudut yang berbeda. Bagi saya, flamboyan itu memberi kesejukan. Coba kalau seisi taman dipenuhi mawar. Bagaimana kita bisa duduk sambil berteduh seperti hari ini.”

Ah si Mas bisa saja. Biasanya Nur mendebat dengan berbagai argumen. Tapi ujungnya sama saja, si mas akan bilang “Saya kan tidak bilang kalau kamu seperti flamboyan.” Biasanya lagi, Nur masih memprotes juga.


Abdullah bin Dinar bercerita bahwa satu kali Khalifah Umar tengah berjalan. Mereka menjumpai seorang anak kecil yang sedang menggembala domba. Umar berkata padanya, ''Juallah seekor domba kepadaku.''

Anak lelaki itu menjawab,''Domba-domba ini bukan milikku, tapi milik tuanku.''

Untuk mengujinya, Umar berkata lagi,''Engkau kan bisa katakan kepadanya bahwa seekor srigala telah menerkam seekor domba. Tuanmu tak akan tahu.''


Dikisahkan, istri Umar bin Abdul Aziz memiliki seorang budak perempuan yang sangat cantik. Umar amat menyukainya. Dia berkali-kali meminta budak itu kepada istrinya. Namun izin tak juga diperoleh.

Ketika menjadi khalifah, istri Umar mendandani budak perempuan hingga sangat cantik dan tak bisa dikenali. Budak itu dikirimkan kepada Umar bin Abul Aziz. ''Ia kuberikan kepadamu untuk melayanimu, Wahai Amirul Mukminin.''

Umar lantas bertanya,''Dari mana engkau mendapatkannya?''


Sekolah. Ujian. Naik kelas.
Kuliah. Ujian. Naik tingkat.
Hidup. Ujian. Penghapusan dosa. Peningkatan derajat.

"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan 'Kami telah beriman', sedang mereka tidak diuji lagi?" (QS Al Ankabuut : 2)

Ujian. Kadang datang bagaikan palu godam yang menghantam. Kadang berupa beban menggayut di pundak. Kadang pula serasa menekan menyesakkan dada. Dunia gelap. Cahaya redup berpendar-pendar.


Pada suatu hari seorang petani menemukan sebutir telur angsa di halaman rumahnya dan memasukkan telur tersebut ke dalam kandang ayam di antara telur-telur ayam yang sedang dierami. Beberapa minggu kemudian telur angsa itu menetas dan karena berada di lingkungan ayam, sang anak angsapun berperilaku seperti ayam. Anak angsa tersebut makan seperti ayam, berkokok seperti ayam dan berkumpul di tengah-tengah para ayam.

Ketika sedang bermain-main di tengah hutan, tak jarang sang anak angsa memandang iri kepada kerumunan para angsa yang sedang berenang di tengah danau dan berharap di dalam hati seandainya saja ia mampu berenang dan menikmati indahnya danau seperti para angsa tersebut.


Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.


Dari dalam dirimu
bila kau mau dan mampu
lukislah sebuah senyuman di bibirmu
karena itu indah
bak mentari pagi yang memberikan keceriaan hati
laksana langit senja yang pamit menghadirkan ketenangan angkasa dengan bulan dan gemintang
bagi yang memandang

Doa


Dalam do'a
Seribu harap terus kuucap
Seribu pinta kurangkai kata


Kurindukan......
Sekuntum mawar dalam sebuah harapan
Mekar di pagi hari menyambut datangnya mentari
Semerbak sepanjang hari tuk meramaikan suasana taman hati
Tak layu di malam hari bersama purnama yang menerangi bumi

Kurindukan......
Sekuntum mawar dalam genggaman
Kelopaknya bukan gemerlap materi tapi kasih sayang Ilahi
Mahkotanya bukan kilauan intan permata tapi cahaya pekerti
Duri-durinya bukan kesombongan tapi pembenteng diri


Sahabatku adalah tetesan embun pagi
yang jatuh membasahi kegersangan hati
hingga mampu menyuburkan seluruh taman sanubari
dalam kesejukan

Sahabatku adalah bintang gemintang malam di angkasa raya
yang menemani kesendirian rembulan yang berduka
hingga mampu menerangi gulita semesta
dalam kebersamaan


Ya Allah, ya Rahman, ya Rahim
Engkaulah yang Maha Pengasih
Engkaulah yang Maha Penyayang
Kepada Mu aku merayu
Kepada Mu aku mengadu
Betapa ku mengaku terlalu luas rezeki yang Engkau curahkan
Terlalu banyak nikmat yang Engkau limpahkan
Mataku, telingaku, mulut dan lidahku
Sepasang tanganku, sepasang kakiku
Nyawaku, nafasku hati dan perasaanku
Malah setiap helaian rambutku adalah nikmat dari Mu, Tuhanku


DihadapanMu aku bersujud
DihadapanMu aku bermunajat
Menginsafi atas segala kealpaan diri
Mengakui akan kelemahan diri
PadaMu aku bermohon
PadaMu aku mengadu
Agar diberikan kekuatan
Untuk aku terus berada di atas jalan yang diridhai
Walau ujian tidak pernah sunyi
Yang sering mengetuk diri
Mengingatkan aku untuk kembali kepadaMu
Kini ku sadar akan kelemahan diri
Harapan dan pergantunganku hanya padaMu Ilahi
Agar diri tidak bisa jauh dariMu


Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim
Engkaulah pencipta segala apa yang ada di langit dan di bumi
Engkaulah yang Maha Besar
Engkaulah yang Maha Penyayang
Engkaulah yang Maha Pengasih
Segala-galanya milik MuYa Allah, Tuhan semesta alam

Ya Rahman, Ya Rahim,
Aku bersyukur kepada Mu, di atas kesempatan yang Engkau telah berikan untuk aku hidup di atas muka bumi Mu,
Aku bersyukur kepada Mu, di atas anugerah yang telah Engkau berikan kepada ku.
Aku bersyukur kepada Mu, di atas hidayah yang telah Engkau kurniakan kepada ku.
Aku bersyukur kepada Mu, di atas nikmat Islam yang telah Engkau berikan kepada ku.
Aku bersyukur kepada Mu, di atas kesempatan untuk aku mengenali dan menyayangi hamba-hamba Mu, walau pun untuk seketika.
Aku bersyukur kepada Mu, di atas segala-galanya yang tak terhitung banyaknya nikmat yang telah Engkau berikan.


Terima kasih Ya Allah... karena Kau telah mengizinkan aku untuk merasakan kehidupan lagi hari ini... sungguh, tidak dapat aku ucapkan dengan kata-kata indah sekali pun atas nikmatMu yang tidak terhitung banyaknya itu...

Ya Allah... mengapakah diri ini lemah, sedangkan aku merasa bahwa Kau senantiasa dekat denganku,.. aku merasakan kedatanganMu dalam setiap inci denyutan nadiku Ya Allah... namun mengapakah aku masih lemah seperti ini?

Ya Allah, aku merindukan kedamaian, jauh dari kesibukan dunia yang tidak terungkap lagi sekarang ini... aku rindukan kasih sayang, yang mungkin tidak ada sesiapa pun yang mampu memberikannya kepadaku melainkanMu Ya Allah...


Ya Allah, ya Rahman, ya Rahim...
Demi kemuliaan Rasul Mu saw kami merintih memohon keampunan dariMu. Di depan pintuMu yang mulia, dengan kemuliaan kekasihMu, kami berdiri dengan kehinaan, merayu padaMu agar dikurniakan kami sekeping hati yang mencintaiMu, yang mencintai Rasul Mu.
Kurniakanlah kecintaan yang meleburkan nafsu amarahku, kecintaan yang membuatku ibadah, kecintaan yang menggoncangkan kerinduan, sehingga tiada yang kami pandang pada alam ini melainkan segalanya adalah wajah Mu, Af'al Mu, Asma' Mu dan sifat Mu.
Demi Rasul Mu Muhammad saw yang terpuji, yang termulia di antara makhlukMu, yang paling tercinta di sisiMu, yang Engkau ciptakannya bagi sekalian alam, karena cintaMu padanya Engkau ciptakan Adam a.s...Sesungguhnya Engkau mengangkat kenabian sebelum ruh Adam a.s bersatu dengan jasadnya, yang dengannya Engkau merahmati sekalian alam, dan Nur al-Haq ini Engkau telah datangkan bagi segala urusan, menyatakan kerasulannya sebagai cahaya sekalian manusia.
Dari lautan ini ya Allah, kami mohon agar menitis pada hati-hati kami yang kering ini, yang kering dengan cinta, kering dengan kerinduan, kering dengan ketakutan, kering dengan keikhlasan, maka Kau basahkan hati kami ini dengan cinta ya Allah, dengan rindu, dengan ketaqwaan, kefakiran, keikhlasan, ridha, sabar, tawakal, zuhud, merasai kedekatanMu, kemanisan ibadah dan kemanisan persaudaraan.


Dia larut dalam samudera ayat Ilahi. Pada setiap ayat-ayat azab, tubuhnya bergetar. Air matanya mengalir. Neraka bagaikan menyala-nyala di hadapannya. Dan pada ayat-ayat nikmat dan syurga, embun sejuk dari langit terasa bagai menyelimuti sekujur tubuhnya. Ia merasakan kesejukan dan kebahagiaan. Ia bagai mencium aroma wangian yang suci dari syurga.

"fa alhamaha fujuuraha wa taqwaaha, qad aflaha man zakkaaha, wa qad khaaba man dassaaha..."

(maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketaqwaan, sesungguhnya, beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sungguh merugilah orang yang mengotorinya...)

"Ilahi, kasihanilah hambaMu yang lemah ini. Engkau Maha Tahu atas apa yang menimpa diriku. Daku tidak ingin kehilangan cintaMu. Ya Ilahi, berilah padaku kesejukan untuk meletakkan embun-embun cinta yang memekar di dalam hatiku. Tuntunlah langkahku pada garis takdir yang paling Engkau ridhai. Inna solati wa nusuki wa mahyaya wa mamati Lillahirabbil-'Alameen."
***


Ya Allah yang Maha Hidup lagi menghidupkan,
Ya Allah yang menguruskan segala-galanya,
aku berlindung pada kasih sayangMu,
hanya rahmat dan kasih sayangMu ku harapkan.
Janganlah Engkau serahkan diriku ini,
walau sekejap pada diriku sendiri,
Damaikanlah keseluruhan kehidupanku.

Ya Allah yang hidup, yang menguruskan segala-galanya,
Ya Allah yang melindung, dengan rahmatMu kumohon perlindungan,
peliharalah aku, sebagaimana Engkau memelihara hamba-hambaMu yang shalih.


"Puspa Thea, dimana dikau Mba'?, kenapa tak ada khabar beritanya?". Nisa bertanya-tanya dalam hati seraya mencermati surat-surat sahabatnya. Sudah hampir tiga bulan ini Mba' Pupu tak pernah lagi mengiriminya e-mail. Perlahan dibacanya surat terakhir wanita lembut itu sebagai pelepas rindu.


Date: Sat, 13 Oct 2001

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Pa khabar Sa? Mba' kangen banget dech. Semoga Allah yang Maha Penyayang selalu melimpahkan kasih sayang-Nya buat Nisa.

Sa.. pedih.. perih.. sakit.. rasanya kalau Mba' baca berita tentang saudara-saudara kita di Afghan, rasanya Mba' ingin sekali berbuat sesuatu untuk mereka, tapi.. Mba' cuma bisa berdo'a agar Allah yang Maha Kuasa menolong saudara-saudara kita itu.


Karya Asma Nadia dari kumpulan cerpen Cinta Laki-laki Biasa


MENJELANG hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

"Kenapa?" tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi. Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon lima belas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yang barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!


Ardi Nugroho
Publikasi : 17-02-2004

KotaSantri.com - Baru saja aku menyelesaikan shalat Dhuha ketika terdengar suara pintu diketuk berlahan beberapa kali, kukemasi mukenaku diletakkan di sisi pembaringan, sebentar kurapikan gamisku dan kusambar jilbab putih kesukaanku. Aku melangkah tergesa kusikap tirai sedikit dan dahiku sedikit terkejut. Sesosok tubuh berdiri dibalik pintu dengan mulut mendendangkan lagu yang aku sendiri nggak pernah dengar baitnya. Sedikit bimbang aku terpekur sejenak, kulirik jam yang menempel manis di dinding, sudah jam 8 pagi gumamku. Bismillah, kubuka pintu berlahan.

"Nisa. Nisa datang ya. Kemaren aku dengar dari Mbak Titik.. Seneng kalo Nisa datang.. Nisa bawa apa? Bawa oleh-oleh ya. Mana.. mana oleh-olehnya?" ternyata tamunya Om Ron adik sepupu dari Ummi, dia memang selalu bergegas ke rumah bila Ummi mengabarkan tentang kedatanganku, dan seperti biasa ketika datang selalu diawali dengan pertanyaan yang bertubi-tubi, dan untuk menyikapinya aku hanya tersenyum.


Hawa,

Sadarkah engkau sebelum datangnya sinar Islam, kita dizalimi, hak kita dicerobohi, kita ditanam hidup-hidup, tiada penghormatan walau secebis oleh kaum adam, tiada nilai di mata kaum adam, kita hanya sebagai alat untuk memuaskan hawa nafsu mereka. Tapi kini bila rahmat Islam menyelubungi alam, bila sinar Islam berkembang, derajat kita diangkat, maruah kita terpelihara, kita dihargai dan dipandang mulia, dan mendapat tempat di sisi Allah sehingga tiada sebaik-baik hiasan di dunia ini melainkan wanita sholehah.

Wahai Hawa,
Kenapa engkau tak menghargai nikmat iman dan Islam itu? Kenapa mesti engkau kaku dalam mentaati ajaranNya, kenapa masih segan mengamalkan isi kandungannya dan kenapa masih was-was dalam mematuhi perintahNya?


Banyak anggapan salah tentang perempuan, seolah-olah jadi perempuan itu suatu musibah, karena hamil dianggap sebagai letak kerugiannya. Ibu-ibu cemas punya anak perempuan karena mereka menganggap susah menjaganya dan takut hamil di luar nikah baik karena 'kecelakaan' atau pemerkosaan, yang akhirnya mengakibatkan aborsi. Apalagi pada era kebebasan sekarang ini, tindakan aborsi menjadi kebutuhan primer wanita aliran 'serba boleh'. Padahal, bagi yang tahu rahasianya, jadi perempuan bener-bener oke lho...


Allah meletakkan tugas yang begitu mulia di atas pundak seorang wanita. Bukankah selain nabi Adam AS dan Siti Hawa, semua manusia di dunia lahir melalui perut seorang wanita? Wanita itu punya ciri khas. Dia memiliki rahim, tempat penyimpanan bakal manusia sebelum lahir ke muka bumi. 'Kemudian kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim).' (QS. 77 : 21).


Agama ini bukan saja tanggung jawab kaum lelaki. Dan pahala-pahalanya bukan saja diberikan kepada kaum lelaki. Tetapi kaum wanita juga mempunyai tanggung jawab, merujuk kepada ayat Al-Qur'an. Dan juga sahabiyah-sahabiyah, isteri para sahabat juga berperan dalam agama. Kita bisa melihatnya dari kisah-kisah mereka.


Banyak orang jahil mempunyai konsep atau pengertian yang salah mengenai Islam. Mereka tidak mengerti Islam. Dan mereka berpikir bahwa Islam sangat mendiskreditkan, merendahkan perempuan, tidak memberikan kesempatan kepada perempuan, mengekang wanita dengan tidak membolehkan bercampur, perempuan menjadi tidak bebas, dianggap rendah, dan sebagainya. Padahal agama adalah tanggung jawab wanita dan lelaki. Kita semua bersama-sama. Kita dapat melihat ini melalui sejarah Islam, saat tersebarnya Islam.


Beberapa malam terakhir aku tidak bisa memejamkan mataku. Hatiku rasanya tak menentu. Sendiri dalam keheningan malam, membuatku semakin merasa kecil, tak bermakna dalam kehidupan ini. Tapi rasanya ada sebongkah batu yang menyesakkan dadaku.


Kuambil air wudlu, ku bersujud, ku bersimpuh di hadapan Yang Maha Agung, Yang memiliki segalanya, Yang menguasai semua yang ada di dunia ini. “Adukanlah semuanya pada Allah, Dia yang akan menyelesaikan segalanya”, itu yang selalu dikatakan oleh sahabatku.

Sahabat, selalu hadir saat kita butuh pertolongan. Memang seharusnya “Cukuplah Allah sebagai penolongmu”, tapi mungkin karena ibadah kita kurang sehingga kita kurang dekat dengan Allah, maka Allah tidak langsung memberikan pertolonganNya. Atau terlalu banyak dosa yang kita perbuat, sehingga Allah menangguhkan pertolonganNya.


Publikasi : 16/06/2005


Sunnatullah adalah hukum alam yang sudah menjadi ketentuan Allah yang tidak akan berubah dan berganti (QS 33:63; 35:43). Dalam al-Quran kata sunnatullah semakna dengan fitratullah (QS 30:30). Adalah sunnatullah, setitik noktah hitam yang menetes pada segelas air jernih dapat menghitamkan seluruh air itu dalam sekejap. Dan merupakan sunnatullah juga bahwa setetes air jernih tidak akan membuat air hitam itu kembali jernih. Begitulah sunatullah dalam air. Itulah fitrah air.

Subhanallah. Air adalah sumber kehidupan. Firman Allah, "Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup..." (QS 21:30). Setiap yang hidup diciptakan dari air, artinya semua yang hidup memiliki fitrah air.


RASULULLAH adalah figur pribadi yang paling murah senyum di tengah-tengah para sahabat beliau. Beliau bahkan menjadikan senyum sebagai ajaran agama untuk melakukan penghambaan kepada Allah SWT.

Senyummu di hadapan saudara (seagama)-mu adalah sedekah.

Orang yang menelusuri perjalanan kehidupan Nabi SAW. akan menemukan bahwa beliau terkadang bercanda dan melontarkan humor. Tentu saja iu wajar, sesuai dengan kapasitas beliau sebagai figur yang menjadi rahmat yang dianugerahkan Allah kepada segenap manusia. Tentang beliau, Allah SWT. berfirman:

"Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." (QS. Ali Imran: 159)


alhikmah.com -

Wahai sang suami ....
Apakah membebanimu wahai hamba Allah, untuk tersenyum di hadapan istrimu dikala anda masuk ketemu istri tercinta, agar anda meraih pahala dari Allah?!!

Apakah membebanimu untuk berwajah yang berseri-seri tatkala anda melihat anak dan istrimu?!!

Apakah menyulitkanmu wahai hamba Allah, untuk merangkul istrimu, mengecup pipinya serta bercumbu disaat anda menghampiri dirinya?!!


Bukan karena ku berubah lemah,
Saat aku menangis di pangkuanmu ibu
Bukan pula ku jadi pengecut,
Saat aku adukan semua kesal dalam dadaku
Bukan pula ku tlah munafik,
Saat aku tak mampu jadi pahlawan...



eramuslim - Benar apa yang dikatakan ustadz Anis Matta, tak selamanya pahlawan berkubang dalam keemasan di setiap detik hidupnya. Bahkan mungkin hanya ada satu momen besar dalam hidupnya. Sisanya... berkisar kesedihan, jatuh, tertekan atau mungkin hidup yang datar saja. Karena itulah manusia. Hamba yang diciptakan Allah penuh dengan keluh kesah dalam hidupnya. Bila ujianNya berhasil dilalui layaklah dia menjadi bintang, atau paling tidak tergores namanya di sudut-sudut langit.

Seorang penulis terkenal misalnya. Dengan lentik-lentik jemarinya yang menari diatas tuts keyboard komputer, dia bisa merayu manusia menuju kebaikan, dia mampu kobarkan semangat jihad para pejuang, bahkan diapun dapat meruntuhkan jiwa-jiwa pendosa. Tapi, suatu ketika kelak mungkin, dalam hidupnya hamba hadir cobaan hingga jiwa yang begitu tinggi di mata pembaca menjadi lemah di hadapan seorang teman sejati. Naifkah?



Penulis: Jimmi Abdullah

Sebuah kisah nyata seperti yang di utarakan oleh Drs. Umar Ali Yahya dan Syarifuddin. Ukhuwah intinya 'MEMBERI'. Memberi tanpa mengharapkan balasan Dan mengharap balasan hanya dari Allah SWT.

Ukhuwah dan keimanan seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan, maka dari itu jika salah satu tidak ada maka yang lainnya pun sirna. Tingkat ukhuwah terendah ialah bersih hati dan berbaik sangka pada saudaranya sedangkan tingkat ukhuwah tertinggi ialah mendahulukan saudaranya daripada dirinya [Drs. Umar Ali Yahya].

Alkisah disebuah Madrasah Tsanawiyah di daerah Bangka Jakarta Selatan, berkumpul sekelompok anak-anak sekolah yang sedang istirahat mengerumuni abang penjual rujak, rupanya siang itu anak-anak sedang membeli rujak.Diantara sekumpulan anak-anaktersebut terdapatlah seorang anak bernama Ubaidurrahman (Ubay) yang saat itu ingin sekalimembeli rujak namun uangnya ketinggalan di kelas.Keinginan Ubay itu ditangkap oleh temannya Hamad tanpa terlewat sedikitpun. Saat itu Hamad pun sebetulnya ingin membeli rujak juga, namun uangnya tinggal seribu rupiah saja, dan itupun untuk ongkos pulang.


Penulis: Humaira

“Ini siemens model terbaru, bagus lo Mbak, polyphonic lagi, yg pasti suaranya bagus banget...atau mbaknya mau ini nokia yang paling baru, atau mau yang ini samsung......”, sejak tadi mbak penjual begitu antusias menawariku dengan berbagai model Hp terbaru. Saat aku lihat daftar harga yg terpampang di situ..ups..mana cukup uang yang ada di sakuku.

Aku jadi menggaruk-garuk kepala sendiri, terlebih mengingat pesan-pesan Teteh-teteh di kostan. “Dila..jangan beli merk ... karena..., jangan beli merk ini karena itu ...”. Aku mendesah panjang, sedih kalo punya sifat ‘nggak gampang memutuskan sesuatu’ begini, mau memutuskan beli ini dipikirkan panjanggg dan lamaa, akhirnya nggak jadi, mau yang ini dicari kelebihan kekurangannya sampai sedetil-detilnya, akhirnya nggak jadi juga. Aduh Dila, cepetan putuskan!! Akhirnya aku memutuskan membeli Sony Ericsons yang mungil itu. Bismillah, semoga ia membawa berkah bagi kehidupanku.

Aku sudah berkawan lebih dari 3 bulan dengan sahabat baruku itu dan selama itu semuanya serasa menyenangkan. Namun, akhir-akhir ini aku jadi terganggu dengan dering nyanyiannya di tengah malam. Teteh-teteh di kostan protes semua kepadaku. Seperti malam itu.....


By. Mawar_WS

Kau menyayangiku, itu sering kau ungkapkan. Bahkan orang-orang yang mengenal kita tahu bahwa kita saling menyintai, saling menyayangi. Tak jarang orang salah kaprah melihat kebersamaan kita. Kau dikira ade kandungku dan orang mengiraku kakak kandungmu. Padahal kita tak pernah tatap muka sekalipun. Andai mereka memahami, bahwa kita lebih dari sekedar kata “Kandung”. Kita adalah sodara seaqidah dimana persaudaraan seperti ini akan lebih terasa indah dan bermanfaat dibandingkan kata “kandung”, mungkin juga karena miskinnya kita menerapkan rasa kasih dan sayang serta cinta pada keluarga sendiri.

Adeku sayang, menjauhlah dari hidupku! Kalau kau TERLALU menyayangiku. Mba tak lagi ingin mendekat denganmu sayang. Mengapa ? Satu jawaban yang pasti, “Mba takut Alloh cemburu dan menjauh darimu!” Ade mengertikan apa yang mba maksud ?


KotaSantri.com - Customer Service (CS) : Ya, ada yang bisa saya bantu?

Pelanggan (P) : Baik, setelah saya pertimbangkan, saya ingin menginstal cinta kasih. Bisakah anda memandu saya menyelesaikan prosesnya?

CS : Ya, saya dapat membantu anda. Anda siap melakukannya?

P : Baik, saya tidak mengerti secara teknis, tetapi saya siap untuk menginstalnya sekarang. Apa yang harus saya lakukan dahulu?

CS : Langkah pertama adalah membuka HATI anda. Tahukan anda di mana HATI anda?

P : Ya, tapi ada banyak program yang sedang aktif. Apakah saya tetap bisa menginstalnya sementara program-program tersebut aktif?


Mengingat harga-harga barang kebutuhan terus meningkat, seorang pemuda selalu mengeluh karena tak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Setelah berdiskusi dengan seorang kiai makrifat, pemuda itu pun mengikuti anjurannya untuk menjalankan shalat Hajat serta tetap istiqomah melaksanakan shalat wajib lima waktu.

''Pak Kiai, tiga tahun sudah saya menjalankan ibadah sesuai anjuran Bapak. Setiap hari saya shalat Hajat semata-mata agar Allah SWT melimpahkan rezeki yang cukup. Namun, sampai saat ini saya masih saja miskin,'' keluh si pemuda.

''Teruskanlah dan jangan berhenti, Allah selalu mendengar doamu. Suatu saat nanti pasti Allah mengabulkannya. Bersabarlah!'' Jawab sang kiai.

''Bagaimana saya bisa bersabar, kalau semua harga kebutuhan serba naik! Sementara saya masih juga belum mendapat rezeki yang memadai. Bagaimana saya bisa memenuhi kebutuhan hidup?''

''Ya tentu saja tetap dari Allah, pokoknya sabar, pasti ada jalan keluarnya. Teruslah beribadah.''


Penulis: Grifingga Shintamaya Putri (grifinggasp@hotmail.com)

Hidup itu indah
Jika Allah selalu di hati
Karena Allah...
Membaguskan yang buruk
Menyembuhkan yang sakit
Melapangkan yang sempit
Mengayakan yang miskin
Meringankan yang berat
Hingga hidup menjadi indah
Seindah ciptaanNya..


Publikasi : Fri, 24 Jun 2005

Dalam keheningan Sahara Yulara*
Dalam terdamparnya jiwa yang ramai menjadi sunyi...

Kutemukan Cinta...

Cinta itu begitu melekat pada sapuan pandangan...
hinggga tiap sudutnya termakna ketulusan yang membunga jiwa

Begitu cantiknya Cinta itu terlihat, seolah Sahara bagai Swarga
Dan begitu selaras bilur Cinta itu terasa, hingga meruah menjadi makna


Dihadapan orang yang kau cintai,
Musim dingin berubah menjadi musim semi yang indah
Dihadapan orang yang kau sukai,
Musim dingin tetaplah dingin, hanya suasana yang lebih indah mewarnainya

Dihadapan orang yang kau cintai,
Jantungmu tiba-tiba berdebar lebih cepat
Dihadapan orang yang kau sukai,
Kau hanya merasa senang dan gembira saja

Bookmarks